Kebahagiaan Yang Tertunda

659 Kata
"Teng...teng...teng..."Pertanda sudah jam 12 malam. Hendra memandangi Kirana dengan menunjukkan wajah sendunya. "Apakah kau benar-benar ikhlas menerima keadaanku ini?" pertanyaan itu selalu ada dihati Hendra. "Mas Hendra... Ada apa Mas? kenapa belum tidur?" tanya Kirana dengan suara khas bangun tidurnya. "Tidak apa-apa. Tidurlah..." jawab Hendra dingin. Hendra pun tidur membelakangi Kirana. Sudah hampir satu bulan pernikahan mereka, tetapi Hendra selalu bersikap dingin kepada Kirana. Meskipun begitu, Kirana dengan tulus mengurusnya walaupun Hendra berkaki lumpuh dan berwajah menyeramkan akibat luka bakar yang pernah dialaminya. _______________________________________ Pagi menjelang dengan sinarnya yang sedikit demi sedikit menguasai aura hangat yang membawa semangat kedalam tubuh seseorang. Seseorang itu telah selesai mengerjakan semua pekerjaan rumah. Dengan senyum merekah Dia menata makanan sebagai penghias meja makan. Seseorang itu tak lain adalah Kirana Saputri. "Makanan ini terlihat sangat enak. Semoga semuanya suka dengan masakan yang Aku buat." kata Kirana dengan muka yang berseri-seri memandangi makanan hasil dari ciptaannya. Ada beberapa sayur dan lauk pauk diatas meja seperti ayam goreng, sambal ati ampela, rendang daging, capcai, soto ayam, cumi asam pedas, ikan fillet kuah kare, cah kangkung, lalapan, dan buah-buahan segar, dengan minuman sirup, air putih, dan s**u, masing-masing ada 4 pasang. "Huh... dasar anak pembawa sial. Dari dulu kerjaannya hanya menyusahkan orang saja. Coba lihat... banyak sekali makanan yang kau buat!!!..." kata Arana dengan tatapan bencinya "Kak Arana... Hari ini adalah tepat 1 bulan pernikahan dengan Mas Hendra. Jadi Aku sengaja membuatkan makanan yang spesial ini untuknya." kata Kirana. "Aku dan Ayahku kerja mati-matian di luar sana dan kau malah menghambur-hamburkan uang dengan suami cacatmu itu. Sungguh keterlaluan!!! Kau pikir kau itu siapa hhhaa?! Hanya seorang pembunuh saja masih sok-sokan romantis. Paling sebentar lagi suami cacatmu itu akan kau lenyapkan sama seperti kau yang sudah melenyapkan ibu ku dulu." kata Arana sambil berlalu pergi karena muak dengan Kirana. Kirana hanya dapat menangisi ucapan dari kakaknya. Setiap kali bertemu dengan sang Kakak, Dia selalu saja menjadi bulan-bulanan dari kakaknya. Arana sebagai kakak kandung dari Kirana tidak pernah menyayanginya karena semenjak Kirana dilahirkan, Ibunya selalu sakit-sakitan dan akhirnya menghembuskan nafasnya yang terakhir. Itulah sebabnya Arana Sangat membenci adiknya dan menganggap bahwa Kirana adalah seorang pembunuh. " Sabar ya sayang. Papa yakin kalau Kakakmu sebenarnya sangat menyayangimu. Dia hanya belum bisa merelakan kepergian Ibu kalian yang sangat mendadak. Kamu harus memakluminya." kata Ayah sambil mengusap kepala Kirana "Iya Yah... Kirana mengerti perasaan Kak Arana" jawab Kirana lesu "Wah... Banyak sekali makanannya. Nampaknya sangat spesial." kata Ayah sambil melirik makanan yang telah terhidang di atas meja "Hari ini adalah tepat satu bulan pernikahan Kirana dan Mas Hendra. jadi, Kirana ingin membuat Mas Hendra senang dengan masakan spesial ini Yah..." kata Kirana sambil tersenyum "Semoga saja. Panggillah suamimu agar kita dapat memulai makan pagi kita. Ayah sudah tak sabar ingin memakannya" kata Ayah sumringah "Iya Ayah... " kata Kirana Pintu kamar yang terbuka dan dalam keadaan kosong membuat Kirana sedikit merasa heran. "Aneh... kemana perginya Mas Hendra? bukannya Dia tidak bisa berjalan? sedangkan kursi rodanya masih berada di sini."kata Kirana Kirana mencari ke seluruh rumah sambil memanggil-manggil nama Mas Hendra tetapi tak seujung rambut pun terlihat. Ayah yang mendengar suara keras dari Kirana langsung berhambur kearahnya. "Ada apa sayang? mana suamimu?" tanya Ayah "Mas Hendra ... Yah. Mas Hendra pergi.,." sambil berurai air mata Kirana memberikan sepucuk surat yang ditinggalkan Hendra di atas tempat tidur. "Kirana Saputri... Maafkan aku karena pergi tanpa pamit. Yakinlah... Aku pergi untuk kebaikan kita semua. Janganlah bersedih karena ini adalah Kebahagiaan yang tertunda. Berjalanlah kedepan seperti air yang mengalir untuk membawamu bahagia nantinya." Begitulah isi surat yang Hendra tinggalkan sebelum Ia pergi. "Ha..ha.,ha...ha... Kau lihat kan? Suami cacatmu saja tidak mau berlama-lama tinggal denganmu. Itu karena kau adalah pembawa sial." kata Arana yang datang tiba-tiba dengan hati puas karena melihat Kirana hancur "Arana... jaga ucapanmu itu. Seharusnya kau menghibur adikmu yang lagi susah." kata Ayah "Maafkan Arana...Ayah. tapi memang itulah kebenarannya." kata Arana sambil berlalu Ayah memeluk Kirana dengan perasaan ibah serta tak lupa mengucapkan kata-kata penghibur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN