Sushi masih terdiam di bangkunya. Tidak ada yang sedang meminjam buku. Ia bisa saja langsung pergi. Namun ia sedang menata hatinya. Vanila tidak pernah menghubunginya jika tidak ada urusan mengenai Rori. Ia cemburu tentu saja. Namun bukan itu masalah utamanya sekarang. Melainkan tentang Sushi yang belum bisa memaafkan dirinya sendiri karena tidak pernah mempercayai Rori dan justru membenci sahabatnya sendiri. Sushi yang merasa tak lagi pantas menyandang status sebagai sahabat seorang Rori. Ia tak pernah ada saat Rori membutuhkannya. Lalu apa ia harus tiba - tiba datang, sok memberi bantuan, sok menjadi pahlawan? Tapi jika bukan dirinya, siapa yang akan menolong Rori? Tunggu, bukan kah ini berarti Tuhan sedang memberinya kesempatan? Kesempatan untuk memperbaiki kesal

