Bab 6 Uang Bisa Beli Segalanya

1465 Kata
Di sebuah gedung di mana Nando berniat m*****i Irene, dia masih duduk di sudut ruangan sambil memegang wajahnya yang terasa sakit dan panas karena pukulan kuat yang dilayangkan oleh Marco sebagai pembelaan. Belum lagi dia pun merasa nyeri pada area pangkal paha karena terbentur sebuah kursi dan mengenai jagoannya. Dia meringis kesakitan, meskipun sudah tidak sesakit sebelumnya. Makian terus diucapkan oleh Nando karena rencana yang hampir saja terlaksana justru hancur akan kedatangan Marco dan tanpa diduga. Mengingat hal tersebut, betapa jengkelnya Nando karena dia hampir saja berhasil melancarkan niat buruknya pada Irene. "Dasar pria kurang ajar. Berani sekali dia melakukan ini padaku. Padahal hampir saja aku berhasil melakukan hal itu pada Irene dan membuatnya bertekuk lutut kemudian. Gara-gara dia semuanya berantakan. Gagal total!" Ocehan terdengar lagi dan dengan kalimat tak jauh berbeda dari sebelumnya karena merasa kesal, sekaligus dendam kepada Marco. Nando melihat dengan jelas sosok Marco yang datang sebagai pengacau dan akan mencari tahu identitasnya. Dengan kekuasaan keluarga yang dia miliki, tentu hal mudah baginya untuk menyewa orang mencari identitas sebagai jalan baginya untuk balas dendam. Nando bangun dari duduknya, meskipun masih terlihat meringis, tapi dia harus segera beranjak dari sana tanpa meminta seseorang menjemputnya karena di tempat itu ada mobil yang dia bawa saat datang di mana dua orang suruhannya menggunakan mobil berbeda serta telah pergi. Dia membawa kakinya menuju mobil itu berada untuk segera kembali ke rumah. Tentunya dia sadar kalau saat ini waktu sudah menunjukkan tengah malam di mana gedung tersebut telah berubah kian mencekam, tapi tidak membuatnya takut sama sekali. Benar, tak ada rasa takut di hati Nando akan hal berbau mistis dan begitu santai keluar dari gedung itu tanpa menoleh ke belakang.  Dengan langkah perlahan akhirnya Nando sampai pada mobil yang masih terparkir. Angin malam terasa dingin menyentuh kulitnya hingga membuat bulukuduk meremang. Sesaat dia mendongak untuk menatap langit dan terlihat mendung karena tak ada bulan serta bintang yang nampak di sana. Dengan cepat, dia merogoh saku celana di mana teringat menyimpan kunci mobil dan membuka pintu, hingga tak berapa lama mobil itu bergerak meninggalkan lokasi tersebut menuju arah kota. Nando sampai di sebuah rumah yang terlihat besar dan mewah. Selepas dia melewati pintu gerbang yang dibuka oleh satpam, mobil itu bergerak cepat menuju halaman dan terparkir bersama kendaraan lainnya. Secepat mungkin dia keluar dari mobil setelah mesin itu dimatikan dengan tetap meninggalkan kunci masih menancap di tempat semula. Dia berjalan sedikit aneh dan sesekali menyentuh area pangkal paha serta pipi karena terasa berdenyut. "Sial! Kenapa jadi aku yang seperti diperkosa sampai jalan seperti ini? Macam meladeni banyak pria saja!" gumamnya yang terus merutuki nasib sial malam ini, hingga tak terasa langkah kaki tertatihnya tiba di ruang tamu.  Matanya menatap sekeliling di mana lampu telah dimatikan sebagai tanda bahwa penghuni rumah telah terlelap. Dia pun membawa kakinya menaiki anak tangga untuk menuju kamar di lantai dua hingga dia membuka pintu tak ada seorang pun terlihat dan menyadari kepulangannya yang selalu tengah malam. Hal itu sudah diketahui oleh keluarganya serta pekerja yang tertidur tanpa menunggu dia pulang. "Untung Papa tak lihat aku pulang dengan tampang begini. Bisa dimaki-maki aku karena sudah dihajar orang seperti pecundang!" cicit Nando lagi yang bersyukur tak ada orang tuanya di rumah sehingga tak melihat kondisinya. Nando menutup pintu kamarnya dan tanpa dikunci. Dia langsung melepaskan semua pakaian yang membalut tubuh dan membuangnya ke tong sampah, lalu berganti dengan sebuah handuk yang melilit di pinggang setelah keluar dari kamar mandi. Air menetes ke punggung lebarnya bersama langkah kaki menuju ranjang. Dia pun mendudukkan tubuhnya di sana dengan kaki dibiarkan menggantung. Nando mengangkat tangan kanannya, lalu mendarat pada rahang dan meringis karena akan terasa sakit ketika disentuh. "Akh! Kenapa makin sakit, sih!" Akhirnya dia bangun dari duduk sesaat itu dan mendekat pada sebuah lemari, lalu menarik laci kecil di mana ada kotak P3K yang selalu tersedia di setiap kamar.  Dia membawa kotak itu kembali ke ranjang dan membukanya serta mengambil obat untuk segera dioleskan pada luka di ujung bibirnya akibat ada bagian yang robek serta mengeluarkan darah. Sambil meringis, dia mengoleskan obat itu hingga selesai dan membiarkan lebam pada wajahnya yang tanpa ada luka begitu saja tanpa dikompres. "Kuakui kalau pukulannya sangat kuat dan hal itu sangat masuk akal karena dia memiliki tubuh tinggi besar. Eh, apa mungkin dia seorang preman yang berkuasa di area tersebut, ya? Sepertinya tidak mungkin karena mana ada preman seganteng dia. Lah, kenapa aku malah memujinya. Dasar bodoh!" ucap Nando yang kembali memikirkan tentang Marco dan membuatnya penasaran sekiranya siapa dia sebenarnya. Namun, pikiran pendeknya justru menduga bahwa Marco adalah seorang preman yang biasa berkelahi karena kemampuannya diacungkan jempol oleh Nando. Dia sadar kalau bela dirinya tidak sehebat Marco karena dengan mudah membuatnya takluk. Bersamaan dengan itu, Nando teringat akan wajah Irene yang begitu menyebalkan ketika Marco datang menolongnya. Maka, kedua tangannya mengepal hingga urat-uratnya muncul ke permukaan di balik kulit putihnya.  "Awas kau Irene. Kau hanya beruntung saja karena ditolong oleh preman itu, tapi aku tak akan tinggal diam dan akan menyusun rencana untuk membalasmu. Pokoknya kau harus hancur di tanganku dan akan kupastikan tak ada lagi yang ikut campur saat aku menghancurkan hidupmu." Begitulah ancaman yang keluar dari mulut Nando bersama sorot mata tajam di mana dia membayangkan ada Irene di hadapannya diikuti senyum sinis penuh dendam. Malam itu akhirnya dilalui oleh Nando yang tidur dengan membawa rasa kesal di hati serta harus menelan pil pahit hingga matahari pagi akhirnya terbit dan masuk ke kamar dengan cat didominasi warna putih. Namun, cahaya itu tak mampu membangunkan Nando yang baru tertidur jam 3 dini hari. Selain itu, tak ada seorang pun yang membangunkan dirinya, meski ada banyak orang di rumah. Bukan tak ada yang peduli pada Nando, tapi kedua orang tuanya saat ini sedang berada di luar negeri untuk menyelesaikan beberapa urusan dan akan pulang kembali sekitar dua bulan mendatang. Sekitar jam 9 pagi di mana matahari terasa kian panas, akhirnya Nando membuka kedua matanya yang begitu lengket karena rasa kantuk masih terasa. Namun, ketika matanya menoleh pada jendela di mana hari sudah cukup siang, maka Nando bangun dari ranjang dan kembali meringis ketika merasakan tubuhnya amat sakit. Nando ingat betul sakit yang dia rasakan kini akibat ulah Marco. "Anjir! Macam remuk semua tubuhku kalau begini," gumamnya yang merasakan sakit pada pinggang sehingga membuat dia harus merasakan sakit ketika bangun dari rebahannya untuk duduk. Dengan gerakan pelan, akhirnya dia berhasil menjadi posisi duduk dengan selimut masih menutupi tubuhnya sebatas pinggang. Nando menghembuskan nafas perlahan dan menekan rasa kesal yang sempat muncul di hati karena dengan mudahnya bayangan Marco mengisi otaknya saat ini. Malas harinya dirusak dengan ingatan tentang Marco, Nando memutuskan turun dari ranjang dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Tak sampai setengah jam dia sudah keluar dan langsung mengenakan celana pendek dan sebuah kaos berwarna hitam. Melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 10 pagi, mengingatkan Nando akan pekerjaannya, tapi rasa sakit yang dirasakan saat ini membuat dia tak minat untuk keluar rumah dan akan meliburkan diri agar bisa beristirahat. Merasa penampilannya sudah cukup, meski tanpa mengoleskan kembali obat pada luka di wajahnya, Nando langsung keluar kamar dan menuruni anak tangga untuk menuju dapur di mana perutnya sudah keroncongan. Ketika kakinya tiba di lantai satu, indra penciuman Nando bisa merasakan aroma masakan yang berasal dari dapur dan tak ragu langsung melanjutkan langkahnya ke sana, meskipun dengan jalan tak terlalu cepat. Setibanya di sana dia bisa melihat dua orang pekerja sedang sibuk menyiapkan sarapan dan tersenyum ketika melihat Nando datang.  "Den Nando sudah bangun rupanya!" Begitulah sapa dari salah satu pekerja tersebut dan tak lupa mengukir senyum terbaiknya yang hanya dibalas anggukan kecil. Namun, senyum itu seketika hilang ketika sadar dengan wajah Nando yang terlihat tak biasa. "Ya ampun, Den. Kenapa dengan wajahnya? Kok bisa lebam seperti itu. Habis ribut lagi, ya?" tebak pekerja bernama Noni yang merasa yakin kalau luka tersebut disebabkan oleh pertengkaran yang kerap melibatkan Nando. Semua orang yang ada di rumah tersebut sudah tahu kebiasaan Nando yang selalu ribut dengan orang lain jika merasa terancam atau ada orang lain yang mengganggu kesenangannya. Selain itu, mereka pun tahu bahwa keluarga majikannya memang dikenal sombong, meskipun berlaku baik pada pekerja di rumah itu. "Aku tak ribut, Mbak. Hanya ada seorang pria yang berlaga seperti jagoan dan menggagalkan rencanaku untuk memerkosa Irene. Songongkan?" jawab Nando tanpa sungkan untuk mengakui asal luka yang dia dapatkan. Sontak, kedua mata pekerja itu melotot, meskipun hanya sesaat karena sudah biasa mendengar pengakuan Nando yang tak biasa juga seperti amat bangga.  "Ya ampun, Den. Kenapa selalu cari gara-gara saja, sih? Kok bisa-bisanya berniat melakukan hal itu kepada seorang gadis? Kalau dia lapar polisi bisa bahaya, loh! Memang Den Nando mau dipenjara?" Begitulah nasehat yang dilontarkan oleh Noni yang membuat mata Nando memutar malas sambil menarik sebuah kursi, sehingga terdengar sebuah denyitan. "Aku tak takut, Mbak. Uang bisa beli segalanya. Jadi santai saja dan nikmati dunia!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN