Bab 5 Minta Kawin

1543 Kata
Waktu sudah menunjukkan hampir jam 12 malam. Di kediaman Keluarga Fraginanto, tepatnya di ruang tamu seorang wanita terlihat sedang mondar-mandir dan sesekali menyibak gorden untuk menatap keluar rumah karena sedang menunggu seseorang yang belum pulang. Sedangkan waktu semakin larut dan wajahnya terlihat begitu cemas serta sesekali mengoceh tak jelas bersama hatinya yang kian panik. Tak ragu dia mendekat pada meja di mana terdapat sebuah benda pipih tergeletak di sana dan coba menghubungi orang itu, tapi membuatnya kecewa lantaran tak ada yang mengangkat panggilan. "Kenapa tak diangkat, sih? Ini anak bangor ke mana, sih!" ocehnya kecewa dan meletakkan handphone itu ke meja dengan kasar. Rasa kecewa dan cemas menjadi satu serta membuatnya kian gelisah. Tak berapa lama muncul seorang pria yang baru saja menuruni anak tangga dan melihat wanita itu sedang mondar-mandir. Dia berjalan perlahan dan menghampiri. Setibanya di sana, wanita itu pun berhenti melakukan kegiatannya dan langsung mengeluh. "Pa, bagaimana ini? Jangan diam saja dan lakukan sesuatu. Irene belum pulang juga dan ini sudah tengah malam. Mama takut terjadi sesuatu padanya. Apalagi panggilan Mama tak diangkat sama sekali, tapi nomornya aktif, Pa!" Begitulah ucapan cemas yang dilontarkan wanita itu dan merupakan ibunda dari Irene yang tak lain adalah Haruna. Tak ragu, pria yang merupakan suami Haruna yaitu Sopian, mendaratkan tangannya di bahu, lalu diikuti sebuah kalimat demi menenangkan hati Haruna yang sedang cemas karena menunggu kepulangan Irene.  "Mungkin Irene sedang di jalan, Ma, dan sebentar lagi akan sampai," jawab Sopian dengan suara terdengar lembut, meskipun hatinya mulai kalut dan melirik ke arah jam dinding di mana sebentar lagi lewat tengah malam. "Tapi ini sudah sangat larut, Pa, dan tidak wajar seorang gadis keluyuran begini. Mama yakin kalau sudah terjadi apa-apa dengannya. Perasaan Mama tak tenang. Kita harus mencarinya, Pa. Harus!" Itulah kalimat yang bisa dilontarkan oleh Haruna dan terlihat begitu panik serta tak mau lagi menunggu di rumah. Tentunya, dia ingin keluar saja dan mendatangi tempat yang biasa Irene kunjungi karena tak bisa menunggu lebih lama. Sopian menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Dia pun berusaha menyembunyikan kecemasan dari Haruna agar tidak membuatnya kian panik, meskipun hatinya sendiri sudah sangat kalut.  "Ya sudah kalau begitu. Ayo kita cari Irene sekarang!"  Keinginan Haruna akhirnya dipenuhi oleh Sopian dan membuat mereka bergegas menuju parkiran. Namun, baru saja mereka sampai di teras, tiba-tiba pintu gerbang dibuka oleh satpam yang berjaga dan terlihatlah mobil milik Rezo karena tidak asing bagi mereka.  "Rezo, Pa!" ucap Haruna dan diikuti pandangan Sopian mengikuti arah Haruna tertuju.  Mata keduanya menatap tajam mobil itu yang perlahan terhenti di halaman yang letaknya berdekatan dengan teras. Bahkan, mereka saling bertukar pandang sekiranya kedatangan Rezo membawa kabar apa. Pastinya kabar baik ingin didengar mereka, meskipun jantung kian berdebar. Dengan sabar, mereka menunggu Rezo keluar dari mobil dan tak beranjak dari teras, hingga tiba-tiba mata mereka membulat ketika pintu dibuka dan melihat sosok Irene keluar dari dalam mobil itu. "Irene!" ucap Haruna yang merasa kaget karena Irene muncul di hadapan mereka, meskipun sedetik kemudian kening ikut berkerut karena mendapati penampilan Irene yang tak biasa. Mata keduanya terus menatap ke arah Irene yang akhirnya tiba di hadapan mereka dan kian membuat terkejut, sekaligus bingung. "Apa yang terjadi padamu, Sayang? Kenapa kau jadi seperti ini?" ucap Haruna terkejut melihat penampilan Irene. Bahkan, matanya kian melotot ketika mendapatkan luka lebam di wajahnya serta darah yang telah kering. "Ya Tuhaaaaaan. Apa yang terjadi padamu? Ada apa dan kenapa kau bisa seperti ini?" Intonasi suara Haruna kian meninggi karena mendapatkan kondisi Irene yang bisa ditebak telah mendapatkan kekerasan karena terdapat luka di wajahnya. Belum lagi dengan cepat Haruna langsung membuka jaket hitam di tubuhnya dan melihat apa yang terjadi. Sontak Haruna menutup mulutnya dengan kedua tangan serta mata melotot diikuti gelengan kepala karena apa yang ditemukan oleh Haruna membuat otaknya langsung berpikir bahwa hal yang tak baik telah menimpanya. "Tidak. Tidak mungkin!" ucap Haruna dengan kepala menggeleng dan berulang. Adapun Sopian tak jauh berbeda reaksinya karena dengan jelas melihat Irene yang demikian. Namun, matanya pun menoleh pada Rezo yang berdiri di samping Irene dengan wajah datar hingga akhirnya dia angkat bicara karena tahu apa yang ada di pikiran mereka. "Tenang dulu, Om, Tante. Lebih baik kita masuk dulu dan kita bicarakan di dalam!" ucap Rezo menyarankan yang langsung diangguki oleh mereka diikuti langkah tergesa untuk masuk ke dalam rumah di mana udara dingin amat terasa bersama angin sepoi-sepoi. Haruna berjalan dengan menggandeng tangan Irene yang masih bungkam, meskipun wajahnya terlihat biasa saja. Bahkan, Rezo bisa melihat ada senyuman kecil terukir di bibirnya dan yakin kalau saat ini Irene sedang membayangkan pria bernama Marco yang sudah membuat hatinya berbunga-bunga. Mengingat hal itu, tentu saja Rezo belum bisa berkomentar banyak karena tidak tahu siapa sosok pria tersebut serta penampilannya yang telah dipuji habis-habisan oleh Irene. Tentu saja, Rezo merasa sangat penasaran ketika Irene mengatakan bahwa Marco begitu tampan di mana dia akan membandingkan hal tersebut pada dirinya. Tidak, Rezo tidak cemburu sama sekali karena sudah memiliki kekasih sendiri, tapi perasaan itu lebih kepada penasaran saja dan ingin tahu pria macam apa yang membuat Irene jatuh cinta dalam waktu singkat. Dengan kata lain, Irene sedang dimabuk cinta pada pandangan pertama dengan pria asing yang belum diketahui seluk-beluknya. Hal itu membuat Rezo tak akan tinggal diam karena sudah menganggap Irene seperti adiknya sendiri dan ingin hal terbaik didapatkan olehnya di mana dia pun merasa bersalah juga saat ini karena membuat Irene hampir saja mengalami kemalangan. Selain itu, Reza harus mengakui dan berterima kasih kepada Marco karena sudah menyelamatkan Irene dari Nando dan akan dia katakan ketika bertemu nanti, meskipun hal itu belum pasti.  Langkah mereka akhirnya terhenti di ruang keluarga di mana biasanya Rezo menghabiskan waktu di sana untuk bermain game atau menonton film bersama mereka. Ya, Rezo sering datang ke rumah tersebut dan sudah dianggap anak oleh mereka. Bahkan, Rezo memiliki kamar sendiri di rumah itu dan selalu dia gunakan ketika diminta menginap oleh Sopian setelah bermain game bersama di akhir pekan. Sesampainya di ruangan tersebut, mereka langsung mendudukkan tubuh di sofa. Mendengar suara gaduh dari ruangan tersebut, muncullah seorang wanita yang terlihat lebih tua dari Haruna dan berjalan mendekat pada mereka. "Non Irene sudah pulang rupanya," ucapnya yang berjalan menghampiri dan terkejut ketika Irene menoleh, lalu bertukar pandang. "Ya ampun Non Irene! Kenapa wajahnya babak belur seperti itu. Habis tawuran?"  Begitulah celotehan yang diucapkan oleh wanita bernama Minul dan merupakan pembantu di rumah Sopian serta sudah mengikuti keluarga itu sejak Irene masih dalam kandungan. Tentu saja Irene amat dekat dengannya juga yang ikut membantu merawatnya sejak bayi serta membelanya ketika mendapat omelan dari kedua orang tuanya. "Aku tak habis tawuran, Bik, tapi hampir saja diperkosa oleh Nando!" jawab Irene dengan enteng dan seketika membuat tiga orang dewasa itu melotot sempurna. Bahkan, mulut Bik Minul seketika terbuka dan Ingin jatuh karena amat terkejut dengan pengakuannya. "Apa maksudmu, Sayang? Coba katakan lagi!" seru Haruna yang tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Irene dan memintanya untuk mengulang kalimat tersebut. Adapun Rezo masih bungkam dan memberi ruang bagi Irene untuk menjawab pertanyaan orang tuanya. Dengan cepat, Irene langsung membuka jaket yang membalut tubuhnya dan merupakan milik Marco hingga terlihat apa yang terjadi pada pakaiannya di mana terdapat banyak robekan. Seketika mata Sopian membulat sempurna melihat tubuh bagian bahu Irene terlihat jelas. Beruntung tak ada jejak yang ditinggalkan oleh Nando di sana, tapi tak menyurutkan kekesalan yang seketika muncul di hati Sopian. "Apa yang kaukatakan barusan, Sayang? Jelaskan kepada kami dari awal sampai akhir!" Begitulah ungkapan yang diberikan oleh Sopian dan terdengar diselimuti amarah. Maka, Irene menceritakan semuanya setelah mendapatkan anggukan kecil dari Rezo sebagai tanda harus mengatakan semuanya dengan jelas, agar mereka mengerti dan tak salah paham. Butuh beberapa menit bagi Irene untuk menceritakan semuanya secara gamblang tanpa menyembunyikan sedikit pun kejadian yang dilakukan oleh Nando. Ruangan itu seketika berubah hening di mana Bik Minul telah duduk di sofa untuk menyimak cerita dari Irene. Tak jarang wajah mereka begitu gemas mendengar penuturan dari Irene tanpa dipotong oleh mereka. Sedangkan Rezo hanya menyimak dan sesekali mengangguk ketika bertemu pandang pada Sopian seolah membenarkan apa yang diceritakan Irene barusan adalah kenyataan. Namun, wajah sumringah justru terlihat ketika Irene menceritakan tentang Marco di akhir cerita seraya memuji. Helaan nafas lega akhirnya terdengar dari ketiga orang dewasa karena Irene masih mendapatkan keberuntungan sehingga musibah tersebut bisa dihindari  "Syukurlah kau masih selamat, Sayang. Beruntung Tuhan mengirimkan penolong di saat yang tepat bagimu. Kalau sampai tidak, bisa gila Mama melihat kau mendapat kemalangan di mana rusaklah masa depanmu!" Ocehan dilontarkan oleh Haruna yang mendaratkan tangan kanannya ke punggung Irene dan mengelus lembut serta berulang. Wajah penuh kelegaan pun terukir pada Sopian, meskipun amarah masih mengoyak hatinya di mana sang pelaku adalah Nando. Ya, Sopian sedikit tahu tentang Nando yang berulang kali ditolak cintanya oleh Irene. Hal itu diceritakan sendiri yang tak pernah segan untuk berbagi pada orang tuanya. Pastinya, Sopian bisa menarik kesimpulan dengan tindakan yang dilakukan oleh Nando dan pasti didasarkan rasa sakit hati karena selalu ditolak cintanya oleh Irene. Namun, dia tak menyangka tindakan nekad mampu dilakukan olehnya. Belum sempat mereka berujar kembali, tiba-tiba Irene berujar lagi dan membuat semuanya melotot, kecuali Rezo yang menepuk jidat dan langsung menyandarkan punggung lemahnya ke sofa. "Oh ya, Pa, sebagai rasa terima kasih kepada Om Marco yang sudah menyelamatkanku dari Nando, maka tolong nikahkan aku dengannya segera! Aku rela diperkosa olehnya, hihihi ...." 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN