Marco menghentikan langkahnya setelah mendengar ajakan Irene yang tak tahu malu. Marco mengerutkan alis dan menatap saksama padanya di mana wajah polos itu terlihat menunggu jawaban dengan sabar. Jujur saja, ini kali pertama Marco diajak nikah oleh seorang wanita dan lebih tepatnya gadis muda yang memiliki usia cukup jauh di bawahnya.
"Maaf, aku tak suka bocil!" jawab Marco singkat dan menusuk hati, tapi tak dihiraukan oleh Irene yang menganggap hanyalah angin lalu karena dia sudah biasa mendengar k********r dari teman pria di sekelilingnya.
"Asem! Aku bukan bocil, Om. Sebentar lagi jadi dokter gigi. Aku sudah dewasa dan berusia 23 tahun. Buktinya Nando mau enyem-enyem aku tadi!" sahut Irene mengelak dan tak terima ucapan Marco yang sudah menganggapnya anak kecil. Bahkan, dengan percaya diri Irene mengatakan status dan usianya kini di mana sedang di puncak mekar serta harumnya seorang gadis laksana bunga. Namun, Marco kembali menimpali dengan sengit.
"Kauyakin? Mata dia rabun karena tak bisa bedakan wanita dengan bocah. Wanita dewasa memiliki da-da besar dan tidak rata sepertimu. Besarkan dulu dan datang lagi padaku!" ucap Marco sadis dan berpaling darinya dengan memutar tubuh untuk kembali beranjak dari sana.
Irene tercengang. Matanya pun menatap bagian tubuhnya yang barusan dihina oleh Marco dan sudah pergi meninggalkannya. Irene membawa tangannya dan menyentuh bagian yang dimaksud tadi, lalu bergumam.
"Rata. Benar juga kata Om ganteng itu. Dipegang saja meleset kayak prosotan. Aku harus tanya Mama cara membesarkannya!" gumamnya pelan dan samar-samar didengar oleh Marco yang tersenyum akan celotehan Irene setelah dia berusaha menyadarkannya.
Irene menatap kepergian Marco tanpa melakukan apapun, meski dia bisa saja berteriak untuk menghentikan laju Marco karena meninggalkannya sendirian di sana. Parkiran itu kini terasa hening karena hari yang sudah larut. Irene menarik nafas karena ajakannya ditolak dan tersadar kalau tak memiliki kunci mobil.
"Aish, kenapa tak minta antar pulang ke rumah sama Om ganteng itu. Bagaimana bisa pulang kalau tak ada kunci mobil. Uang pun tak ada. Masa iya cewek cantik pulang ngesot!" gumamnya sendirian sambil menghentakkan kaki beberapa kali dan menggaruk kepala karena tak harus berbuat apa. Namun, ketika Irene sedang kebingungan, tiba-tiba sebuah mobil datang dan membunyikan klakson hingga membuat Irene menoleh. Matanya menatap pada mobil itu yang terus bergerak dan kian dekat hingga mata Irene berbinar setelah mengenali siapa pemiliknya.
"Rezo!" serunya senang karena Rezo datang tepat waktu.
Mobil itu berhenti tepat di hadapan Irene disusul mesin yang dimatikan dan pintu pada sisi kemudi terbuka. Maka, sosok Rezo terlihat dan menutup pintu cukup keras.
"Untunglah kaudatang, Re. Aku sedang bingung karena tasku hilang." Irene langsung berkata di saat Rezo kian dekat.
"Kau dari mana, huh? Kenapa kauterlihat kusut begitu macam dikejar banci. Itu apa yang kaupakai? Jaket cowok mana yang baru saja kaulayani? Ada lebam lagi? Masa kalah sama banci!" Tuduhan buruk dilayangkan dengan enteng oleh Rezo yang menatap jeli pada penampilan Irene karena sangat kusut. Bahkan, rambut panjangnya yang semula diikat telah tergerai dan nampak kacau.
Rezo memicing ketika menatap pada Irene yang ikut menelisik dan baru sadar kalau penampilannya amat kacau. Terlebih sebuah jaket hitam kini membalut tubuh kecilnya karena ada robekan pada pakaian yang dikenakan akibat ulah Nando.
"Jangan pikir aku jual diri, Re. Yakali aku layani pelanggan di pinggir rel sampai begini. Gila saja tuduhanmu. Sekedar informasi, kalau aku hampir diperkosa oleh Nando."
"APA?"
"Ya Tuhaaaaaaan. Masa dekat begini tak dengar, sih! Aku hampir di-per-ko-sa oleh Nando." Irene mengulang ucapannya dengan perlahan agar bisa dicerna dengan baik oleh Rezo.
Sontak mata Rezo melotot karena terkejut dengan pengakuan Irene. Matanya menelisik ulang penampilan Irene dan menemukan lebam di beberapa bagian wajahnya. Dengan cepat, Rezo menyentuh wajah Irene dan terlihat ada bekas darah di sana, tapi telah mengering diikuti ringisan karena merasa sakit.
"Sakit, Reeeee!"
"Astaga, Ren. Kenapa bisa bonyok begini, sih? Memangnya kau tidak mengeluarkan jurus preman mabok untuk melawannya? Apa kauyakin tak salah lihat kalau Nando pelakunya?" tanya Rezo panjang lebar dan tak percaya kalau Nando pelakunya.
Ya, Rezo kenal dengan Nando dan tahu banyak tentangnya. Bahkan, dia tahu sepak terjang Nando yang gemar mendekati gadis cantik hanya untuk bisa tidur dengannya, meskipun hanya sekali. Terlebih, tampang dan uang dia miliki serta dikenal berasal dari keluarga kaya yang sombong.
"Tentu saja yakin. Mana mungkin aku salah lihat, sedangkan Nando ada di atas tubuhku. Sange-an dia!" jawab Irene cepat dan kesal karena mengingat kejadian beberapa saat lalu. Bahkan, Irene masih bisa merasakan aroma rokok pada nafas Nando. Ya, Nando adalah perokok berat dan itu kerap dilihat oleh Irene secara tak sengaja.
Adapun Rezo yang mendengar pengakuan dari Irene seketika melotot. Otak liarnya seketika mengembara ke mana-mana dan membayangkan apa yang telah dilakukan oleh Nando karena dengan kurang ajarnya mengganggu Irene. Tentu saja, dia merasa menyesal karena sampai luput pengawasan sehingga menyebabkan hal itu terjadi. Namun, hatinya sedikit lega karena Irene yang mengatakan bahwa kalau dirinya hampir diperkosa oleh Nando dan artinya hal itu belum terjadi. Setidaknya keberuntungan masih dimiliki Irene yang selamat dari perbuatan bejad Nando.
Seketika Rezo berpikir bagaimana cara Irene selamat dari Nando, sedangkan posisinya saat itu sudah sangat memungkinkan hal itu terjadi. Namun, Rezo menahan pertanyaannya lebih jauh kepada Irene karena suasana di parkiran sudah sangat sepi dan belum lagi melihat Irene yang mengalami luka lebam, lalu memutuskan untuk segera mengantarnya pulang.
"Kita lanjutkan bincangnya di mobil dan tinggalkan saja mobilmu di sini. Aku akan mengantarmu pulang dan tas milikmu ada di mobilku."
Akhirnya Irene berhenti mengoceh dan menuruti apa yang dikatakan oleh Rezo serta bergegas masuk ke dalam mobil. Dalam hitungan menit, mobil yang dikemudikan oleh Rezo akhirnya meninggalkan area tersebut di mana kini hanya tertinggal mobil milik Irene saja.
Di sepanjang jalan, Rezo kembali mengutarakan pertanyaan lagi pada Irene untuk mengetahui cerita selanjutnya. Dia merasa sangat penasaran dan ingin tahu lebih jelas. Belum lagi hatinya merasa kesal terhadap Nando karena sudah kurang ajar terhadap Irene dan membahayakan dirinya, meskipun dia masih beruntung karena bisa selamat dari terkaman pria sepertinya. Dengan santai, tapi yakin, Irene menceritakan apa yang terjadi dari awal hingga akhir. Bahkan, dia terlihat begitu antusias ketika menceritakan orang yang telah menyelamatkan dirinya dan disebut pahlawan. Mendengar penuturan itu, Rezo merasa bersyukur karena pertolongan dari Tuhan tiba di saat yang tepat sehingga Irene hanya mengalami sedikit luka fisik.
"Untung saja ada Om ganteng itu yang menolongku. Kalau saja dia tak datang, maka tamatlah riwayatku dan dalam waktu dekat pasti akan hadir Nando Junior dalam rahimku!" kata Irene dengan mendengus kesal sambil membayangkan sekiranya dia hamil anak Nando seraya membawa tangan kananbmenyentuh perut dan mengelusnya berulang kali.
Mata Rezo menatap sikap Irene yang demikian, meskipun tetap fokus pada jalan dan sesekali menoleh terhadapnya. Senyum kecil terukir di bibirnya karena ikut membayangkan jika Irene mengandung anak Nando. Bahkan, terdengar suara kekehan dari mulutnya dan sontak membuat Irene berkerut kening.
"Kenapa kautertawa? Kaupikir ini lucu?" seru Irene yang merasa bingung kenapa Rezo bisa tertawa setelah dia panjang lebar menceritakan apa yang menimpa.
"Geli saja, Ren. Aku mendadak berpikir kalau perutmu gendut karena berisi anak Nando. Aku tak bisa bayangkan betapa nakalnya anakmu nanti karena berasal dari benih pria begajulan sepertinya. Hahaha ...," timpal Rezo yang menoleh pada pada Irene dan seketika membuatnya melotot serta memukul lengannya, meskipun tidak terlalu kuat.
"Ih, amit-amit aku mengandung anaknya. Jauh-jauhin, deh, macam tak ada pria lain saja. Kalau Om ganteng itu yang membuatku hamil, maka aku dengan senang hati melahirkan anak tersebut. Sayangnya Om ganteng itu tidak minat sedikitpun padaku, Re, dan justru mengatakan aku bocah karena dadaku yang rata ini. Sebel!" Ocehan kembali terdengar dengan wajah cemberut ditampilkan oleh Irene disertai bibir yang manyun. Ucapannya barusan membuat Rezo kembali penasaran sekiranya apa yang membuat Irene bisa berkata hal seperti itu.
"Kenapa kau bisa berpikir untuk hamil anak Om ganteng itu? Memangnya kau menawarkan padanya balas budi dengan tidur bersama karena dia telah menyelamatkanmu? Begitu maksudnya?" tebak Rezo sesuai dugaannya setelah mendengar penuturan dari Irene.
Mendadak senyum aneh terukir di bibir Irene karena kembali teringat dengan Marco, meskipun dia ingat betul kalau ajakannya ditolak mentah-mentah.
"Sumpah, ya, Re. Om itu sangat ganteng. Hmmm ... kalau tak salah namanya Marco. Namanya kerenkan dan mencerminkan penampilannya yang super cool!" Pujian terus dilontarkan oleh Irene yang terlihat berbinar dan begitu semangat mengatakan hal mengenai Marco.
Tentunya sebagai laki-laki Rezo hanya mampu menggelengkan kepala ketika mendengar seorang gadis memuji laki-laki yang menarik hatinya. Apalagi Rezo baru pertama kali melihat pujian terhadap laki-laki diutarakan oleh Irene yang selama ini dikenal acuh terhadap laki-laki. Bahkan, dia kerap kali menolak cinta mereka tanpa peduli tampang dan kekayaan yang mereka miliki, termasuk Nando.
"Aku jadi penasaran seperti apa tampang dewa penyelamatmu itu. Sepertinya aku tak yakin kalau ketampanannya mengalahkan wajahku yang sudah ganteng sejak lahir," cicit Rezo tak mau kalah dengan pesona Marco yang begitu dipuja oleh Irene.
Namun, ucapannya seperti tak didengar oleh Irene yang saat ini membayangkan tentang Marco dan terus mengisi otaknya. Melihat wajah aneh Irene Rezo hanya mampu menggeleng dan kembali fokus menatap jalan sambil bergumam pelan.
"Ada-ada saja kau, Ren. Sekalinya kepincut sama om-om bau ketek!" pungkasnya yang didengar Irene dan dibalas senyum sumringah saja bersama mata Rezo tetap fokus menatap jalan yang cukup lancar, tapi seketika terbelalak.
"Enak kali, ya, kalau diperkosa Om ganteng itu. Secara dia tinggi besar dan pasti wow. Uh, jadi pengen kawin, Re!"
'Plak'