Dalam perjalanan Elisa merenung. Benar, saat Nathan memutuskan akan mengakhiri hubungan mereka berdua Elisa tak merasa sedih. Harus diakui ia sedikit merasa kehilangan, namun tidak terlalu besar sampai membuat air matanya tumpah. Disisi lain Elisa menatap wajah tampan Ezra yang sedang konsentrasi mengemudi dan kata- kata Nathan kembali terngingang jika hati Elisa kini beralih dari Nathan semenjak kedatangan Ezra. Harus Elisa akui Ezra memang tampan, bahkan lebih tampan dari Nathan, namun akankah mereka bisa bersatu? Kini ia dan Ezra terhubung oleh ikatan saudara meski tidak sedarah. “ kenapa kau menatapku seperti itu?” tanya Ezra yang sadar Elisa menatapnya sambil melamun. “ kakak tampan.” ucap Elisa jujur. “ aku memang tampan, kenapa? Kau suka?” goda Ezra. “ haha, meski suka kita ta

