kesal

421 Kata
“ makasih kak, kakakku ajh tidak pernah membelikan aku sebanyak ini.” ucap Elisa membawa kantong belanjaan. “ tidak apa- apa, bayar aku dengan tubuhmu.” goda Ezra. “ oke.” ucap Elisa cepat. “ kau mau?” “ maksud kakak minta pijitkan. Aku jago mijit lho” ucap Elisa menyingsingkan lengannya. Ezra hanya tersenyum mendengar kepolosan Elisa. Suara bel dibunyikan saat Elisa sedang memijat Ezra. “ siapa?” ucap Elisa saat membukakan pintu. “ Nath? Kau datang?” ucap Elisa senang melihat kedatangan kekasihnya, Ezra hanya mengintip sebentar yang datang dan memilih tetap di kamarnya. “ tentu, aku sudah mengatakan akan datang.” “ ok, ayo masuk, aku akan buatkan minum, mau apa? Coffee? Tea? Air dingin?” ucap Elisa hendak membuatkan minum. “ Coffee, please.” “ siap.” canda Elisa. *** 10 menit berlalu masih terdengar suara canda sepasang kekasih, membuat Ezra enggan beranjak dari kamarnya. Menunggu dan terus menunggu hingga tidak lagi terdengar suara canda membuat Ezra memilih mengintip keadaan diluar dan melihat kamar Elisa. Betapa terkejutnya Ezra melihat Elisa sedang mencium kekasihnya. Ezra memilih menutup pintunya kembali dengan pelan, beranjak kehalaman rumahnya dan menghisap satu atau mungkin dua batang nicotine untuk mengatasi rasa kesal yang tiba- tiba datang dihatinya. Pria itu bukan pecandu nicotine, namun nicotine selalu menjadi teman baginya saat pikirannya sedang suntuk dan kesal seperti sekarang ini. Ezra mengacak rambutnya kasar, ia ingin marah namun ia tak merasa memiliki hak apapun untuk marah, ia juga tak berhak melarang Elisa mencium kekasihnya karena Elisa sendiri merupakan wanita dewasa yang pasti memiliki kebutuhan dewasa seperti yangg sedang dilakukannya saat ini, bahkan mungkin lebih. Membuat d**a Ezra semakin sesak. “lho, kakak merokok?” panggil Elisa yang melihat Ezra merokok. “ hem.” jawab Ezra sekenanya, masih tidak ingin melihat Elisa sekarang yang akan menambah rasa kesalnya. “ aku baru tahu, selama ini aku tidak pernah melihat kakak merokok.” ucap Elisa. “ mana kekasihmu?” ucap Ezra dingin. “ Nath? Dia sedang kekamar mandi.” ucap Elisa ragu, baru pertama kali ia melihat Ezra dingin kepadanya. ‘kamar mandi? Apa mereka benar- benar baru saja melakukan itu?’ batin Ezra mulai menatap Elisa. Melihat keadaan Elisa yang masih rapi Ezra menjadi sedikit lega karena merasa Elisa tidak akan melakukannya dengan kekasihnya karena ada Ezra dirumah. “ kau sudah mau pulang?” tanya Ezra melihat Nathan yang sudah keluar dari rumahnya. “ iya, kak, masih ada kerjaan.” ucap Nathan, sopan. “ jangan panggil, kak, kau lebih tua dari aku.” ucap Ezra dengan nada biasa namun terkesan mengejek. “ kau- kan calon kakak ipar- ku.” canda Nathan. ‘cih, siapa yang calon kakak ipar? Kau bahkan tidak mempersiapkan masa depanmu dan kau yakin aku akan menjadi kakak iparmu?’ batin Ezra kesal. “ aku pulang dulu.” ucap Nathan memeluk Elisa. Tidak menyadari tatapan dingin dari Ezra.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN