Seminggu setelah perngenalan itu George dan Berta menikah, ketakutan tentang cerita saudara tiri dan ibu tiri sedikit menguap. Tidak perlu waktu lama untuk George menikahi Berta- selain sebenarnya; mereka sudah mengenal lama, sebenarnya diam- diam, George dan Berta telah menjalin hubungan tanpa sepengetahuan Elisa. George mengenalkan Berta agar tak ada rasa canggung nantinya ketika George menikahi Berta kepada Elisa. Beruntung Elisa langsung menerimanya- karena, bagi Elisa ibu tirinya ini adalah wanita yang ramah dan saudara tirinya terkesan jahil- namun, entah mengapa selalu terkesan melindungi Elisa terutama saat Elisa sedih dengan kelakuan Nathan, kekasih Elisa. Sama seperti hari ini.
“ kau kenapa? Hem?” ucap Ezra yang melihat Elisa menangis dikamarnya.
“ ….” Elisa hanya diam tidak ingin menjawab.
“ Elisa?” ucap Ezra meminta Elisa jujur.
“ Nathan, kak.” ucap Elisa masih membenamkan mukanya di bantalnya.
“ Nathan? Siapa?” ucap Ezra heran. Ia hanya mengenal Adrian, kakak laki- laki- nya.
“ kekasihku, kak.” ucap Elisa menatap Ezra, hendak duduk. Saat itu lampu kamar Elisa memang dimatikan sehingga Elisa tidak dapat melihat raut wajah Ezra yang kaget; mendengar Elisa benar- benar sudah memiliki kekasih.
“ kekasihmu kenapa? Kau diapakan olehnya.” ucap Ezra, seolah- olah seorang kakak yang marah adiknya diganggu. Elisa memilih berdiri menyalakan lampu kamarnya dan duduk di sisi ranjangnya.
“ kenapa kau diam? Aku tanya kepadamu, El.” ucap Ezra yang melihat Elisa hanya diam menatapnya.
“ kak Ezra, benar- benar seperti kakakku.” ucap Elisa tulus.
“ tentu saja, sekarang aku memang kakakmu, memangnya Adrian tidak pernah seperti ini padamu?” heran Ezra.
“ tidak, Kak Adrian sama sepertiku, kak, pendiam, jadi saat kami dirumah, kak Adrian akan diam dikamar begitupun aku.” ucap Elisa terharu, karena baru pertama kali ada yang perhatian seperti ini padanya.
“ lalu bagaimana tadi kekasihmu?” ucap Ezra mengingatkan.
“ hanya masalah sepele, kak.” ucap Elisa tidak ingin membahas.
“ ceritakan padaku.” ucap Ezra ikut duduk di kasur Elisa. Elisa memilih menarik nafas berat seolah menguatkan diri agar tidak menangis saat bercerita.
“ aku bertanya padanya, soal masa depan kita.” ucap Elisa jujur.
“ maksudmu?”
“ pernikahan tentunya.” tampak Ezra terkejut.
“ lalu.” ucap Ezra kemudian.
“ dia berkata, jika dia sedang asik dengan pekerjaan yang digelutinya. Aku menyuruhnya juga, jangan hanya asik bekerja, namun juga menabung memikirkan masa depannya, umurnya tak lagi muda, apa lagi aku sendiri juga hampir 30 kak.” ucap Elisa jujur.
“ lalu? Kenapa kau menangis?” heran Ezra.
“ dia menyalahkanku karena aku tidak membantunya menangani masalahnya, menyalahkanku jika aku hanya bisa mengguruinya karena aku tidak berusaha mencari pekerjaaan. Dan sejujurnya itu sedikit menyakitiku.” ucap Elisa mulai menunduk.
“ baru menjadi kekasih dan dia sudah posesive? Masalahnya dia seharusnya dia yang menyelesaikan, bukan menuntutmu membantu menyelesaikan masalahnya.” geram Ezra.
“ ya, dia bilang jika nanti berumah tangga ini akan menjadi masalah bersama, aku berusaha membantunya, aku bahkan tidak membeli apapun belakangan ini karena semua uangku kuberikan untuk membantunya.” ucap Elisa, tampak matanya mulai berkaca- kaca.
“ kau terlalu baik, Elisa, belum tentu dia akan menjadi suami- mu, jangan terlalu percaya dengan orang.” geram Ezra.
“ tapi dia tidak meninggalkanku saat aku pernah terjatuh, kak. Sebelum ibuku meninggal keluarga kami pernah dilanda masalah dan hanya dia yang mau membantu keluargaku saat itu.” ucap Elisa membela.
“ dan sekarang dia menuntutmu membantunya menyelesaikan masalahnya?”
“...” Elisa terdiam.
“ lalu kenapa kau tidak mencari pekerjaan?”
“ aku berusaha kak, melamar dimana- mana, bahkan sampai di luar kota, namun aku hanya lulusan sekolah menengah atas, sangat susah mencari pekerjaan dengan title seperti itu. Apa lagi aku…” ucap Elisa terdiam.
“ kamu kenapa?”
“ aku memiliki cacat fisik, kak.” ucap Elisa memperlihatkan kakinya. Ezra tak terkejut, dia memang sudah mengetahuinya dari George, bahkan kakinya tampak jelas terlihat tidak sempurna, meskipun Elisa merasa tidak masalah karena masih dapat berjalan normal, namun kebanyakan orang memang memandang Elisa sebagai orang yang cacat.
“ jangan dengarkan kata orang.” ucap Ezra mengelus kepala Elisa.
“ dan jangan pedulikan pria seperti kekasihmu, dia yang akan menyesal sudah membuatmu menangis dan seandainya kalian berpisah, dialah yang akan menyesal sudah meninggalkanmu.” geram Ezra bangkit dari kasur Elisa.
Sepeninggalan itu entah mengapa ada ruang nyaman dihati Elisa, tidak ada orang yang sepeduli itu kepada gadis itu, selain karena Elisa memang pribadi yang pendiam, kebanyakan orang memang memandang Elisa sebelah mata dikarenakan kekurangannya.