Samir merebahkan tubuhnya di kasur empuk miliknya. Pikirannya mulai melayang memikirkan nasib dirinya yang akan hidup dengan orang asing tanpa rasa cinta. Terlebih gadis itu buta, dan dia harus menunggu papanya membawanya untuk mencari donatur mata lebih dahulu. "Kalau papa kekeh dengan rencana perjodohan ini, aku juga punya permintaan untuk menerima semua keinginan papa," ucap Samir dengan senyum tipis mengembang di bibirnya. Lelaki muda itu seolah punya cara jitu untuk menghadapi segala hal mengenai perjodohan itu. "Kita lihat apa papa akan menuruti apa yang aku mau atau tidak? Kalau tidak pun, bukan aku yang rugi," gumam Samir. Dia mulai bangkit dari tempat tidurnya, mulai gerah dengan semua baju kerja yang masih menempel, Samir memutuskan untuk mandi agar merasa lebih fres. Meliha

