06 The Proposal

1563 Kata
Hari telah mulai gelap dan jam kerja Gianna telah usai. Ia segera meninggalkan galeri kerjanya dengan berjalan kaki kearah stasiun. Namun langkahnya harus terhenti saat beberapa orang menghalanginya. Mereka adalah orang-orang yang satu minggu lalu sempat menghampirinya. “Apa kabar nona Gianna?” Tanya Bryce dengan senyum miringnya. “A-apa mau kalian?” Gianna balik bertanya dengan rasa takut yang mulai menghampiri. “Tentu saja kami ingin menagih janji.” Jawab Bryce sambil terkekeh. Dua orang rekannya pun ikut tertawa. “Kau sudah siap untuk bertemu bos? Sebagai informasi, hari ini moodnya sedang baik jadi kau sepertinya akan selamat dan tak akan dijual.” “Sampai kapanpun aku tidak akan mengikuti ucapan kalian!” Bantah Gianna keras. “Kalau begitu, kami terpaksa harus menyeretmu nona.” Ujar seorang preman lainnya yang bernama Tucker. “Tapi sayang kalau kita langsung memberikannya pada bos. Kita bisa mencicipinya dulu!” Seorang yang bernama Dean mengucapkan kalimat itu sambil memperhatikan tubuh Gianna dari atas kebawah dan berulang beberapa kali. “Kau mau dibunuh bos?” Tanya Tucker sambil memukul kepala Dean dari belakang. “Idemu bagus juga, bro! Dia ini kan jalang, kalaupun kita memasukinya, bos juga tidak akan pernah tahu.” Bryce menyeringai. “Benar juga.” Tucker menyetujui ide itu. “Kita bawa ketempatmu saja yang lebih dekat dari sini!” “Kenapa susah-susah? Disemak-semak itu kan sepi! Membawa jalang sepertinya ke rumah adalah sebuah kemewahan untuknya.” Usul Dean yang sepertinya sudah tidak bisa menahan nafsunya lagi. Kedua preman lainnya terkekeh mendengar usulan Dean. Sementara Gianna berusaha mundur untuk kabur. Namun sayang, Tucker dan Dean dengan cepat meraih kedua tangannya dan menyeret Gianna ke tempat yang lebih sepi. “Lepaskan aku, b******k! Tolong! Tolong! Siapapun tolong aku!” Teriak Gianna memberontak. Plakk Bryce menampar pipi Gianna karena gadis itu terus berteriak. “Kumohon lepaskan aku!” “Diam kau!” Bentak Bryce. BUGH BUGH BUGH Tucker, Dean, dan Bryce langsung terjengkang saat dua orang melayangkan tendangan dan pukulan kearah mereka secara bersamaan. Gianna pun jatuh dan terduduk di tanah. Dua orang tadi langsung menghajar ketiga preman itu hingga babak belur. “Urusan kita belum selesai!” Seru Bryce pada Gianna. Ketiga preman itu segera tunggang langgang melarikan diri. Seorang dari penyelamat Gianna membantunya untuk berdiri. Sementara seorang yang lain segera bersiap pergi tanpa mengatakan apapun padanya. “Tuan tolong tunggu sebentar, ada yang ingin saya katakan pada pria itu.” Tanpa menunggu jawaban pria yang menolongnya, Gianna segera menghampiri pria satunya yang berpakaian serba hitam. “Tunggu!” Seru Gianna mencegah kepergian pria itu. “Tolong jangan melaporkan kejadian ini padanya!” Pria itu mengernyitkan pelipisnya, “apa maksud nona?” “Aku tahu Gizca mengirimmu untuk mengawasiku. Tapi kumohon, jangan katakan apapun padanya! Tugasmu adalah untuk mengawasi dan menjauhkanku dari bahaya, kan? Jadi kau tidak wajib untuk melaporkan hal ini pada sepupuku.” “Tapi nona,-“ “Dia sedang dalam keadaan yang buruk karena ulah adikku. Bertemu orang yang sudah dikenalnya saja dia masih ketakutan. Tolong jangan menambah beban pikirannya. Biarkan dia fokus pada pengobatannya! Lagipula aku juga sudah baik-baik saja.” Jelas Gianna. Pria itu menghela nafasnya. “Baiklah kalau itu kemauan anda.” “Terima kasih.” Balas Gianna sambil menundukkan kepalanya sekilas. Pria kiriman Gizca itupun segera pergi dan menghilang dari hadapan Gianna. Kini gadis itu kembali pada pria satunya yang masih tetap berada ditempatnya tadi. “Maaf sudah membuat anda menunggu. Dia akan langsung menghilang jika saya tidak langsung menghampirinya.” Jelas Gianna. “Terima kasih atas bantuan anda. Saya tidak tahu bagaimana harus membalas kebaikan anda.” Pria dihadapannya itu menyeringai, “makan malam denganku sekarang!” “Maaf?” Tanya Gianna kebingungan. “Balaslah dengan membelikanku makan malam.” “Ah, baiklah.” Balas Gianna menyetujui. “Tuan ingin makan malam dimana? Kuharap bukan ditempat yang terlalu mahal, karena saya belum gajian.” Gianna terkekeh kecil. “We’ll see.” Balas pria itu sambil mengedikkan bahunya. Kedua orang itupun berjalan di trotoar secara beriringan. Sesekali Gianna melirik pria jangkung disebelahnya. Ia terlihat berpikir, namun beberapa kali menggelengkan kepalanya dan kembali fokus berjalan. “Apa ada yang ingin kau katakan?” Tanya pria itu datar. Ia menyadari Gianna sedang memperhatikannya. “Ah itu,-” Gianna menjeda kalimatnya. “Bukankah anda pelanggan yang datang ke toko kami tadi siang?” Pria itu berdehem mengiyakan. “Bagaimana anda bisa ada disini? Saya pikir anda sudah pergi dengan tunangan anda.” Tanya Gianna. “Ya, sudah. Dan aku kembali lagi kesini.” “Untuk apa? Anda ingin kembali melihat koleksi kami?” “Untuk memberikan pelajaran padamu.” Jawabnya datar. Namun kalimatnya berbarengan dengan suara klakson sebuah truk yang cukup kencang, sehingga Gianna tidak mendengarnya. “Maaf tuan, bisa anda ulangi?” Tanya Gianna. “Kita makan disini saja!” Pria itu langsung melenggang masuk ke sebuah restoran cepat saji yang ada dipinggir jalan. Gianna tersenyum lega karena pria itu tidak membawanya ke restoran mewah, sehingga ia bisa menghemat uangnya. Setelah memesan makanannya, mereka pun membawa nampan masing-masing ke meja yang masih kosong. Gianna membeli fish and chips dan jus jeruk, sedangkan pria itu memilih sandwich, dan milkshake stroberi. Keduanya menikmati makan malam itu tanpa berbincang. Sesekali Gianna masih memperhatikan pria dihadapannya. Memorinya masih bimbang, antara mengingat dan tidak. Pada akhirnya ia memutuskan untuk mengatakan isi pikirannya. “Semakin saya lihat, anda semakin mirip dengan seseorang yang saya kenal.” “Benarkah?” “Ya. Seseorang yang ingin saya temui setidaknya sekali lagi selama saya masih hidup didunia ini.” Jawab Gianna dengan pandangan menerawang jauh. “Jika kau bisa bertemu lagi dengannya, apa yang akan kau katakan padanya?” Gianna tersenyum simpul. “Mungkin tidak akan pernah bisa bertemu lagi.” Pria itu tak lagi menyahut dan meneruskan makan malamnya, begitupula dengan Gianna yang juga kembali fokus pada piring dihadapannya. “Kau benar-benar wanita jahat, Gianna.” Ujar pria itu disela makannya. Gianna yang mendengar kalimat itupun langsung menghentikan kegiatannya dan memandang pria dihadapannya dengan penasaran. “Tuan tahu nama saya? Ah bukan itu, mengapa anda mengatakan saya wanita yang jahat? Kita baru bertemu hari ini, bagaimana anda bisa menilai saya seperti itu?” Tanya Gianna tak terima. Pria itu menghentikan makannya. Ia meminum milkshake sroberinya hingga tandas, kemudian mengambil tisu dan mengelap bibirnya. Setelah itu ia menatap Gianna dengan pandangan tajam. ‘Mata itu, iris biru itu. Aku pasti salah, tidak mungkin orang ini adalah dia.’ Batin Gianna setelah bisa menatap pria dihadapannya dengan lebih jelas. “Kau sama sekali tak bisa mengenaliku?” Tanya pria itu dengan senyum miringnya yang mengintimidasi. Gianna terdiam dan tak menjawab. Pria itu mencebik, “tentu saja, karena aku bukan lagi remaja bodoh, gagu, dan kampungan itu. Tapi itu bukan berarti aku sudah lupa dengan semua yang pernah kau lakukan padaku, Stiller.” Gadis itu membelalakkan matanya tak percaya. Mulutnya pun sedikit terbuka dan kepalanya menggeleng tidak percaya. “Tidak mungkin.” Ujar Gianna singkat. “Kenapa? Bukankah kau sendiri yang mengatakan aku mirip seseorang yang kau kenal? Orang itu adalah aku, dan aku adalah dia, Austin Bergmann.” “Ba-bagaimana bisa?” “Kau tidak ingin menyapaku? Sudah sepuluh tahun kita tidak bertemu, setidaknya kau bisa menyapaku lagi, kan?” Tanya pria itu dengan seringainya. “Austin, hai?” Austin menirukan gaya bicara Gianna saat setiap kali menyapanya dulu. “Kk-kau sudah kembali?” Gianna balik bertanya dengan terbata. “Apa sekarang kau yang berubah menjadi gagu? Perlu kurekomendasikan terapis supaya bicaramu selancar dan sepedas dulu?” Gianna menghela nafasnya panjang dan juga memejamkan matanya. Ia mencoba menata emosi dan perasaannya kembali. “Kau pasti sudah bertepuk tangan, Bergmann!” Ujar Gianna setelah bisa mengontrol dirinya kembali. “Tentu. Aku langsung merayakannya setelah mendengar berita bahagia itu di TV.”  Balas Austin datar. “Lalu kenapa kau menolongku? Kau bisa saja membiarkanku dibawa para preman itu agar hidupku lebih hancur dan kau bisa lebih bahagia lagi.” “Tidak adil jika orang-orang bisa menghukummu tapi aku hanya menjadi penonton. Aku juga ingin ikut andil untuk bisa menghancurkanmu lebih jauh lagi.” “Lalu apa yang ingin kau lakukan padaku?” Austin menampilkan smirknya, “sama seperti dulu kau yang bisa mengatakannya dengan begitu mudah, akupun akan langsung mengatakan hal ini. Be my wife, Stiller!” Lagi, kalimat Austin membuat Gianna sangat terkejut hingga membelalakkan matanya. “Kau sudah gila, Austin!” Gadis itu langsung saja mengambil tasnya dan beranjak pergi. Namun pergelangan tangannya dicekal oleh Austin saat ia melewati pria itu. “Duduk! Aku belum selesai bicara!” Perintah Austin dengan mata tajamnya dan memberikan sorot tak ingin dibantah. Gianna mencoba menghentakkan cekalan tersebut, namun cengkeraman Austin begitu kuat hingga membuat lengan Gianna terasa nyeri. “Kubilang duduk, Stiller!” Seru Austin kembali dengan nada yang lebih mengintimidasi. Mau tidak mau Gianna pun kembali ke kursinya dan sekali lagi berhadapan dengan mantan kekasihnya itu. “Kau sudah punya tunangan, Austin. Untuk apa kau memintaku menjadi istrimu? Kau berencana melakukan poligami? Tuhan, berkatilah tunangan pria ini yang mau mengizinkannya memiliki banyak istri.” Cibir Gianna. “Rupanya kau belum lupa caranya mencibir orang lain.” Sinis Austin. “Yang hancur adalah kehidupanku, bukan mulutku.” Sungut Gianna. "Mengapa kau ingin menikahiku?" "Jangan besar kepala! Dengan menikahimu, aku bisa mendapatkan dua hal sekaligus. Pertama, aku bisa membatalkan pertunanganku. Dan kedua, aku bisa dengan mudah membalaskan dendamku padamu." Jelas Austin. “Tidak hanya penampilan dan cara bicaramu yang sudah berubah, tapi otakmu juga ikutan bergeser.” “Sebagai gantinya, aku akan membayarkan hutang ibumu. Bukankah kau orang yang sangat perhitungan? Jadi aku tetap akan memberikan keuntungan untukmu.” Austin memberikan penawarannya. “Ah, kau juga akan terlepas dari nama belakang yang membebanimu itu.” Gianna menghela nafasnya dengan kasar. “Kenapa harus aku? Kau bisa mencari wanita lain yang lebih baik daripada aku.” “Aku tak akan menawarkan hal ini pada wanita lain, karena hanya kau yang bisa membuat dendamku terbalaskan.” “Apakah pernikahan adalah sebuah mainan untukmu?” “Jika itu bisa membuat dendamku terbalaskan, mengapa tidak?” Gianna menghela nafasnya dalam dan memberikan jeda pada kalimat yang akan ia ucapkan kembali. “Aku minta maaf, Austin. Aku tahu aku sangat salah waktu itu dan kau boleh melakukan apapun untuk melampiaskan rasa marahmu padaku. Tapi untuk pernikahan, kuanggap aku tak pernah mendengarnya.” Pinta Gianna. “Hukum aku sepuasmu, tapi jangan pernah menyakiti tunanganmu atau kau akan merasakan sebuah penyesalan yang akan terus menghantuimu. Aku bisa mengatakan hal ini karena itulah yang kurasakan setelah aku menyadari kesalahanku padamu. Maafkan aku.” “Tak kusangka mulutmu bisa mengatakan kalimat bijak seperti ini. Tapi sayangnya, aku tak peduli dengan saranmu.” Balas Austin dengan tersenyum miring. Ia kemudian berdiri dari kursinya dan mengatakan kalimat terakhirnya sebelum meninggalkan Gianna. “Baiklah kalau kau memang menolak tawaranku. Sampai jumpa di pelelangan karena para preman itu pasti akan menjualmu ketempat itu.” Pria itu melenggang pergi, meninggalkan Gianna yang masih cukup kalut dengan pikirannya. Kini ia benar-benar tak tahu harus berbuat apa lagi. ***** to be continued *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN