Setelah meninggalkan Gianna di restoran, Austin kembali ke tempat mobilnya terparkir dan segera beranjak pergi dari kawasan itu. Hanya satu tujuan yang ada di pikirannya, mansion Bergmann.
Penawaran yang diajukan olehnya pada Gianna adalah sebuah bentuk spontanitas. Awalnya ia kembali ke sekitar gedung Milost’ hanya untuk mengkonfrontasi masa lalunya. Namun setelah melihat apa yang terjadi pada mantan kekasihnya itu, spontan saja ia mendapatkan ide untuk menjerat wanita itu lebih jauh lagi. Ia hanya memanfaatkan kesempatan yang mungkin tak akan datang untuk kedua kalinya.
Tiga puluh menit berkendara, sampailah ia dihalaman mansion Bergmann yang bergaya modern. Setelah memastikan mobilnya terparkir dengan sempurna, ia segera masuk kedalam mansion dan mencari kedua orang tuanya. Hari memang sudah menunjukkan pukul delapan malam lebih, sehingga ia bisa memastikan kedua orang tuanya telah berada dirumah setelah seharian mengurusi kantor.
“Mom, dad, aku ingin bicara. Apa kalian ada waktu?” Tanya Austin setelah menemukan kedua orang tuanya yang berada di ruang keluarga. Kebetulan sekali Claire juga ada diruangan itu.
“Ada apa? Sepertinya kau sedang sangat serius, son?” Henry, ayah Austin balik bertanya.
“Aku ingin pernikahanku dengan Sabrina dibatalkan.” Ujar Austin singkat dan langsung pada intinya.
“Kau mulai lagi, Austin!” Henry memutar bola matanya. Ini memang bukan yang pertama anaknya mengutarakan keinginannya akan hal ini.
“Kita sudah pernah membahas ini, son! Keputusan sudah final, segala persiapan juga sudah dilakukan.” Tambah Alani, ibunya.
“Kali ini aku serius, mom, dad!” Seru Austin dengan nada kesal.
“Bukankah yang terakhir kali kakak juga berkata seperti itu?” Cibir Claire.
“Diam kau anak kecil!” Sungut Austin pada adiknya hingga membuat Claire mencebik.
“Apa lagi alasanmu kali ini? Kalau kau masih mengatakan tidak menyukai Sabrina, daddy akan menganggap pembicaraan ini tak pernah ada.”
“Kalian mengatakan jika salah satu diantara kami ada yang bisa menemukan calon pasangan sendiri, maka perjodohan ini akan bisa dibatalkan, bukan?” Tanya Austin memastikan.
“Langsung saja pada intinya!” Perintah Alani tegas.
“Aku menemukan calonku sendiri. Jadi kuharap mommy dan daddy bisa membatalkan rencana ini!”
“Bagaimana mungkin kakak bisa menemukan calon istri secara tiba-tiba? Kakak tidak membeli seorang wanita untuk menggantikan Sabrina, kan?” Tanya Claire penuh selidik.
Skak mat. Adik Austin ini memang selalu bisa membuat sang kakak mati kutu. Namun bukan Austin namanya kalau dia mengakui tuduhan adiknya begitu saja.
“Kecurigaan adikmu tidak benar kan, Austin?” Henry ikut bertanya.
“Untuk apa aku menghamburkan uang untuk hal seperti ini? Tidak lah dad!” Elak Austin berbohong. “Jadi kalian mau kan membatalkan rencana itu? Jika tidak, aku akan kabur dan kawin lari saja dengannya!”
“Kau mengancam orang tuamu? Sudah berani kau ya, anak nakal!” Alani memukul bahu Austin berulang kali hingga membuat pria itu mengaduh.
“Sakit, mom!” Protes Austin sambil menyeringai, membuat adik dan ayahnya menggelengkan kepala melihat tingkah ibu dan anak ini.
“Sejak kapan kalian berhubungan? Mengapa bukan dari sebelum acara pertunangan kau mengatakan hal ini? Kita harus beralasan bagaimana dengan keluarga van Djik, son? Mereka pasti akan marah sekali dan Sabrina juga akan sangat kecewa.” Cecar Alani.
“Aku punya alasan untuk itu, mom!” Austin menggenggam tangan ibunya dan menatap mata paruh baya ibunya dengan teduh.
“Memangnya siapa calonmu?” Tanya Henry.
“Kalian juga mengenalnya.” Jawab Austin tenang.
‘Kau pasti akan menerima tawaranku, Gia! Karena aku tahu kau adalah orang yang tak bisa hidup tanpa uang.’ Batin Austin.
“Jangan berbelit-belit! Kau tidak kami izinkan melangkah dari ruangan ini sedikitpun sebelum menceritakannya secara rinci!” Perintah Alani tak mau dibantah.
Mau tidak mau Austin menjelaskan segalanya. Raut wajah ketiga orang anggota keluarganya itupun berubah-ubah. Sesekali terlihat sendu, terkadang sedih, namun yang lebih sering adalah marah.
*****
Setelah beristirahat selama akhir pekan, kini saatnya hari paling sibuk didunia dimulai, hari Senin. Tak terkecuali Gianna yang juga sudah sibuk di kubikelnya mengumpulkan referensi desain dari berbagai brand. Saat sedang fokus mempelajari berkas-berkas itu, bilik kubikelnya diketuk oleh seseorang.
“Ada apa?” Tanya Gianna dengan menolehkan kepalanya pada orang itu.
“Kau dipanggil miss Adhara ke ruang ganti.” Jawab orang itu yang langsung saja melenggang pergi.
Gianna bangkit dari duduknya dan segera menuju tempat yang sudah disebutkan tadi. Ia tak bisa menebak apa yang akan dibicarakan oleh bosnya itu. Apalagi tempatnya bertemu juga sangat tak lazim.
Begitu membuka pintu ruang ganti, mata Gianna langsung bisa melihat bosnya bersama beberapa karyawan lain sudah ada disana, didepan loker Gianna. Gadis itupun segera bergegas menemui Adhara dengan cemas sekaligus waspada.
“Miss Adhara memanggil saya?” Tanya Gianna dengan sopan.
“Cepat buka lokermu!” Perintah Adhara tegas.
“Ada apa miss?” Gianna mengernyitkan pelipisnya bingung.
“Jangan banyak Tanya! Lakukan saja perintah saya, cepat!” Bentak Adhara membuat Gianna sedikit berjengkit terkejut.
“Baik miss.”
Gianna segera mengeluarkan kunci lokernya dan memasangkannya pada pintu loker yang tertutup. Belum sempat ia membuka pintunya, Adhara sudah menyerobot membuka paksa pintu itu. Terdapat sesuatu yang mengejutkan didalam lokernya hingga membuat mata Gianna melotot lebar dengan raut tidak percaya. Sementara Adhara langsung saja mengambil barang itu dengan kasar.
“Sudah kuduga memang kau pelakunya. Tidak seharusnya aku menuruti permintaan miss Gizca Stiller untuk mempekerjakan pencuri sepertimu disini!” Seru Adhara sambil menunjuk wajah Gianna dengan telunjuknya.
Didalam loker itu terdapat sebuah kotak berisi satu set perhiasan bertahtakan berlian yang sangat indah dan harganya bisa dipastikan sangat mahal. Namun Gianna sama sekali tak tahu menahu tentang kotak itu. Bahkan pagi tadi saat ia baru sampai kantor, barang itu tak ada didalam sana.
“Bbukan saya miss. Saya tidak pernah mengambil perhiasan itu, sungguh miss. Percayalah pada saya!” Mohon Gianna.
Beberapa karyawan lain yang juga ada diruangan itu malah mencebik dan ada juga yang tersenyum sinis.
“Buktinya ada disini, Gianna! Kau mau mengelak apa lagi?” Tanya Adhara emosi.
“Tapi sungguh bukan saya yang mengambil miss. Sampai tadi pagi saat saya mengganti pakaian saja barang itu tidak ada di loker saya miss.” Gianna membela diri.
“Alah, jangan mengelak! Mantan konglomerat sepertimu mana mungkin bisa hidup susah, makanya mengambil perhiasan disini supaya bisa punya uang, kan?” Tuduh seorang rekannya, Hannah.
“Aku mungkin memang perundung yang licik, tapi aku bukanlah seorang pencuri!” Seru Gianna tidak terima.
“Memangnya kau bisa membuktikan kalau bukan kau yang mengambilnya?” Tanya Adhara dengan nada meninggi.
Gianna terlihat berfikir sesaat. “CCTV! Miss Adhara bisa mengecek CCTV diruangan ini dan juga diruang kerja, karena sejak tadi pagi saya hanya ada disana.”
“Kau tahu kan ruangan ini tidak ada CCTVnya karena untuk melindungi privasi kalian?” Tanya Adhara. “Dan untuk alibimu, bisa saja kau sudah mengambil barang ini di hari-hari sebelumnya.”
“Bukan saya yang mengambilnya, miss. Tolong percayalah!” Gianna kembali memohon sambil mengatupkan kedua telapak tangannya.
“Saya tidak bisa mentolerir seorang pencuri sepertimu Gianna! Jadi silahkan kemasi barangmu dan tinggalkan galeri ini. Aku akan memberikan pesangon sebagai kompensasi kontrak.” Adhara melenggang pergi diikuti oleh karyawan lainnya, meninggalkan Gianna yang sendirian dan kembali meratapi nasib.
Bahkan saat Gianna berpamitan pada Adhara pun, gadis itu masih terus memohon agar bosnya itu percaya padanya. Ia sampai menangis dan berlutut agar tidak dipecat dari pekerjaan yang sudah dengan susah payah didapatkannya. Hingga akhirnya seorang security menyeret tubuh Gianna keluar galeri dan menjadi tontonan orang diluar. Namun gadis itu tidak peduli dan terus memohon agar diizinkan bertemu lagi dengan Adhara.
“Ck-ck-ck, mengenaskan sekali nasibmu, Gia!” Suara cibiran seorang pria membuat Gianna berhenti merengek. “Kalau sudah begini, apa kau masih mau menolak tawaranku?”
Pria itu adalah Austin. Ia telah menyaksikan drama didepan galeri Milost’ sejak security menyeret Gianna dengan tertatih-tatih. Namun ia tak berniat menolong dan malah menikmati tontonannya hingga beberapa saat lamanya.
Gianna yang tersungkur di trotoar pun menengadahkan pandangannya. Matanya menyipit, menyesuaikan dengan intensitas cahaya yang menyinari matanya. Tangan kirinya diangkat untuk menghalangi sinar matahari yang membuatnya silau.
“Austin?” Gumam Gianna.
Gadis itu kemudian menumpukan kedua tangannya dan mencoba berdiri. Pada percobaan pertama ia gagal karena lutut dan mata kakinya tadi tergores saat ia dilempar oleh security, namun Austin tak bergeming dan hanya menatap Gianna dengan tajam. Hingga pada percobaan ketiga, akhirnya Gianna bisa berdiri sendiri meskipun masih agak sempoyongan.
“Mau apa kau kemari?” Tanya Gianna datar.
Austin tersenyum sinis, “tentu saja untuk menyaksikan episode terbaru dari kehancuranmu.”
Gianna tak menanggapi dan bergegas pergi meninggalkan galeri, juga Austin. Namun pria itu malah mengikutinya dari belakang.
“Kau mau kemana? Sudah siap menyerahkan diri pada para preman itu dan dijual ke pelelangan?” Tanya Austin yang berjalan disisi Gianna.
Gadis itu lagi-lagi tak menghiraukan kalimat mantan kekasihnya dan mempercepat langkah kakinya yang tertatih.
“Sudah kuduga, wanita sepertimu memang tidak akan pernah bisa hidup tanpa uang.” Ejek Austin lagi. “Terima saja tawaranku! Bukankah itu sangat menguntungkan untukmu?”
Gianna menghentikan langkahnya dan menatap Austin dengan tajam, “apa kau berniat membuatku menjadi orang jahat sekali lagi? Aku sudah bilang kan, jangan menyakiti tunanganmu hanya karena dendammu padaku!”
“Ah, tunangan? Aku sudah membatalkannya. Bahkan jika kau tidak ada dalam scenario ini, aku masih akan tetap membatalkannya.” Balas Austin sambil menyeringai. “Jadi bagaimana? Kau lebih memilih menjadi b***k para psikopat dengan bonus aku yang masih akan terus mengejarmu untuk balas dendam, atau kau terima saja tawaranku dan bayar semua kejahatanmu hanya padaku?”
Gianna kembali diam tak bergeming. Kepalanya menunduk dan matanya hanya memperhatikan paving trotoar dikakinya.
“Aku tak punya banyak waktu. Hubungi aku kalau kau sudah membuat keputusan.”
Austin menyelipkan kartu namanya pada tangan Gianna dan meninggalkan gadis itu sendirian ditepi jalan yang ramai.
Gianna mengangkat tangannya dan memperhatikan kartu nama yang berisi informasi pribadi Austin. Ia kemudian menghela nafasnya kasar dan meremas kartu nama itu sebelum kembali melanjutkan perjalanannya menuju entah kemana
*****
Dua minggu telah berlalu dan pernikahan Austin akan dilaksanakan. Ia juga sudah siap dengan tuxedo hitamnya berdiri diujung altar bersebelahan dengan pendeta. Ruangan tempatnya berada juga sudah didesain dengan begitu cantik dan elegan. Banyak tamu undangan yang telah hadir dan menempati kursinya dan prosesi pemberkatan akan segera dimulai.
Terlihat pintu diujung ruangan terbuka dan seorang wanita mengenakan gaun putih panjang disertai veil dan buket telah ada disana. Semua mata tertuju padanya dan terus mengikuti langkah kaki wanita itu ketika berjalan di aisle dengan diiringi alunan piano. Begitu sampai didepan altar, Austin menyambut tangan mempelainya dan membawanya kedepan pendeta.
“Silahkan mengucapkan janji pernikahan kalian!” Pinta pendeta.
“Tidak ada, bapa.” Balas kedua mempelai bersamaan.
“Baiklah kalau begitu kita akan langsung mulai.” Pendeta itu berdehem menghilangkan suara seraknya.
“Apakah kau Austin Keoni Bergman bersedia menerima Gianna Raelyn Stiller sebagai istri dimata agama dan hukum, baik dalam suka maupun duka, dalam sehat maupun sakit, mencintai dan menghargainya hingga maut memisahkan?”
“Saya bersedia.”
“Apakah kau Gianna Raelyn Stiller bersedia menerima Austin Keoni Bergman sebagai suami dimata agama dan hukum baik dalam suka maupun duka, dalam sehat maupun sakit, mencintai dan menghargainya hingga maut memisahkan?”
“Saya bersedia.”
“Silahkan memasangkan cincin satu sama lain!”
Austin dan Gianna mengambil cincin yang dibawakan oleh pengiring dan saling memasangkannya pada jari manis mereka.
“Dengan ini, kalian resmi sebagai suami dan istri. You may kiss the bride.”
Austin mendekatkan wajahnya pada Gianna yang sontak membuat gadis itu membeku. Tangan kanan Austin terulur ke tengkuk Gianna dan tanpa ada yang menyadari, kecuali Gianna, ibu jari Austin berpindah ke bibir Gianna, sehingga menjadi penghalang saat pria itu seharusnya mencium wanita yang telah sah sebagai istrinya itu.
“Welcome to the hell, my wife.” Bisik Austin yang hanya bisa didengar Gianna.
***** to be continued *****
Ps: Maaf kalau dialog janji pernikahannya ada yang salah.