Acara resepsi dilaksanakan tepat setelah pemberkatan. Hanya Rhea dan Glenn dari pihak Gianna yang hadir. Sebelumnya ia juga telah memberitahu ayah dan kakaknya, namun karena mereka sedang ada di balik jeruji, maka keduanya tak bisa hadir. Sedangkan untuk sepupunya, Gianna tak memberitahunya karena kondisi sepupunya yang masih dalam masa pemulihan.
Hampir seluruh tamu undangan merasa terkejut saat melihat mempelai wanita bukanlah Sabrina yang telah bertunangan dengan Austin sebelumnya. Terlebih lagi mengingat image Gianna dan keluarganya yang saat ini cukup buruk di mata publik, membuat pertanyaan penasaran itu tak bisa terelakkan.
“Selamat menempuh hidup baru, brother.” Kelakar Benson memberi selamat sembari menyalami bosnya.
“Jangan bercanda!” Austin mendengus.
Benson memang mengetahui seluk beluk dibalik terjadinya pernikahan ini. Karena ia bukan hanya asisten Austin, namun juga sahabat pria itu sejak di bangku kuliah.
“Jangan terlalu membencinya, karena batas antara benci dan cinta itu sangat samar. Jangan sampai dibutakan oleh dendam yang malah akan membuatmu menyesal di kemudian hari.” Saran Benson sambil menepuk pundak Austin pelan.
“Kau ini bicara apa?”
Benson hanya mengangkat kedua bahunya cuek. Pria itupun segera beralih menemui Gianna yang berada tak terlalu jauh darinya.
“Bertahanlah dengan sikapnya, siapa tahu kau akan menemukan malaikat yang sedang bersembunyi dibalik topeng monsternya.” Ujar Benson saat menyalami Gianna.
Gianna hanya tersenyum dan berterima kasih. Iapun kembali fokus pada tamu undangan lainnya yang dengan jelas mencibir dirinya. Banyak diantara mereka yang menganggapnya sebagai gold digger. Meskipun terasa sakit melihat dan mendengar semua pandangan dan cemoohan itu, namun Gianna berusaha sebaik mungkin untuk tidak terpengaruh.
“Aku tidak tahu bagaimana kau bisa tiba-tiba memutuskan untuk menikah, tapi kuharap kau bisa menemukan kebahagiaanmu.” Ujar Rhea yang sudah berada disampingnya.
“Terima kasih, Rhe. Dan maaf aku sudah tak bisa menemani kalian lagi di apartemen.” Balas Gianna.
“Jangan pikirkan hal itu. Dan yang paling penting, jangan pernah mendengarkan ucapan buruk orang lain. Karena yang tahu siapa sebenarnya dirimu adalah kau sendiri, bukan mereka yang hanya bisa menilaimu dari luar. Bahkan akupun sempat tertipu dengan perilaku yang hanya tameng itu.” Rhea menasehati.
“Aku tak pernah siap dengan semua ini, Rhe.” Keluh Gianna.
“Kau pasti bisa, Gia!” Rhea setengah memeluk Gianna karena ia sedang menggendong Glenn yang sudah tertidur. “Aku pulang dulu ya, Glenn sudah terlalu lelah.”
Gianna mengecup pipi keponakannya yang ada dalam dekapan Rhea. “Aunty akan sangat merindukanmu, jagoan! Jaga mommy baik-baik ya!” Gadis itu berucap sambil tersenyum manis dan mengelus pipi halus batita itu.
Tanpa mereka sadari, terdapat dua pasang mata yang tengah memperhatikan interaksi mereka dengan intens. Kedua orang itu bahkan tersenyum hangat saat melihat tatapan lembut Gianna pada Glenn.
*****
Acara resepsi telah usai dan kini hanya menyisakan keluarga Bergmann. Mereka tengah berada di lobby hotel dan sedang menunggu mobil untuk membawa mereka kembali pulang. Austin sedang berbicara dengan kedua orang tuanya, sementara Gianna dan Claire berada di belakang mereka.
“Aku benar-benar tidak paham mengapa kakak mau menikahi wanita yang tidak ada baiknya sepertimu!” Sinis Claire pada Gianna yang telah resmi menjadi kakak iparnya.
Gianna hanya membalas dengan tersenyum tulus pada gadis itu. “Kau tumbuh menjadi gadis yang cantik, Clarisse.”
“Aku memang sudah cantik sejak lahir!” Seloroh Claire.
Keduanya memang saling mengenal, karena dulu Austin pernah mengenalkan Gianna pada adiknya. Mereka juga sempat beberapa kali menghabiskan waktu bersama, sehingga Claire sangat tahu pasti kesulitan apa yang dialami kakaknya setelah ditinggalkan Gianna.
“Jangan pernah menyakiti kakakku lagi. Butuh waktu sangat lama untuknya bisa kembali bangkit dan aku tak ingin melihatnya serapuh itu lagi.” Ujar Claire dengan nada memperingatkan.
“I’m sorry.” Gumam Gianna yang masih bisa Claire dengar.
Tak berapa lama, keduanya pun dipanggil oleh Alani karena mobil yang menjemput mereka telah sampai. Saat mata wanita paruh baya itu bertatapan dengan Gianna, ia hanya bisa menghela nafasnya panjang dan segera mengalihkan pandangannya kearah lain. Reaksi serupa juga ditunjukkan oleh Henry. Kedua orang tua Austin itu bahkan tak mengatakan apapun kepada menantu barunya dan malah langsung masuk kedalam mobil dengan diikuti Claire dari belakang. Senyuman Gianna pun tak dibalasnya.
Selepas kepergian keluarganya, Austin juga langsung masuk kedalam mobilnya dan duduk dibalik kemudi. Sedangkan Gianna yang masih mengenakan gaun pengantin masih diam diluar.
“Kau mau tinggal disini? Cepat masuk! Aku lelah.” Seru Austin keras.
“Oh? Ah, iya.” Balas Gianna terbata.
Iapun segera mengangkat bagian bawah gaunnya agar tak terkena kotoran dan lebih mudah berjalan. Saat sudah berada disamping pintu mobil, ia kembali kebingungan tentang posisi duduknya. Haruskah didepan atau di belakang?
Melihat Gianna yang tak kunjung membuka pintu, Austin segera mencondongkan tubuhnya dan membuka pintu penumpang disampingnya.
“Jangan mengetes kesabaranku!” Bentak Austin dengan suaranya yang tajam, membuat Gianna semakin canggung.
Mengikuti arahan suaminya, Gianna pun duduk disamping pria itu. Selanjutnya mobil segera melaju menuju penthouse Austin, karena disanalah mereka akan tinggal mulai hari ini. Perjalanan yang memakan waktu 40 menit itu dilalui dalam diam. Sepasang suami istri baru itu larut dalam pikiran dan kegiatannya masing-masing, Austin dengan kemudinya dan Gianna dengan memandang kosong kearah jalanan yang tak pernah sepi di luar.
Setibanya di basemen apartmen, Austin segera turun dan diikuti Gianna. Namun pria itu langsung saja melenggang kearah lift seorang diri, sedangkan Gianna sibuk mengeluarkan kopernya dari dalam mobil. Wanita itu juga harus membawa sendiri barangnya yang sudah pasti membuatnya kesulitan meskipun tak banyak. Apalagi ia masih mengenakan gaun pernikahan yang panjang.
Dengan terengah, akhirnya Gianna sampai di depan lift dimana Austin masih berdiri disana. Pria itu bahkan tak sedikitpun melirik pada istrinya yang kelelahan.
Ting
Pintu lift terbuka dan sekali lagi Austin enggan menunggu apalagi membantu Gianna. Namun wanita itu sama sekali tak melakukan protes. Bagaimanapun hubungannya dengan sang suami memang bukanlah hubungan yang normal dan ia juga menganggap perlakuan Austin ini adalah bagian dari hukuman yang harus diterimanya.
Beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai didalam penthouse. Interiornya terlihat maskulin, simple, namun juga sangat nyaman, sangat sesuai untuk seorang pria yang tinggal sendirian.
Austin melangkah menuju sebuah ruangan yang berada di dekat tangga dan membuka pintunya. Gianna masih mengikutinya dari belakang.
“Ini kamarmu.” Ujar Austin singkat dan segera meninggalkan kamar itu.
“Aaku dapat kamar sendiri?” Tanya Gianna ragu, membuat Austin menghentikan langkahnya dan kembali menoleh pada Gianna.
“Kau pikir kita akan berbagi kamar?” Austin balik bertanya. “Ingatlah! Kau disini adalah untuk membayar kejahatanmu, bukan benar-benar sebagai istriku. Oh, mewah sekali statusmu saat ini.”
Cibiran Austin lagi-lagi mampu membuat nyali Gianna menciut. Iapun tak berani menatap wajah suaminya dan terus saja menunduk.
“Ss-sampai kapan aku harus melakukan ini?” Tanya Gianna memberanikan diri.
“Aku akan melakukan ini sama persis dengan yang pernah kau lakukan padaku. Karena saat itu kau membuangku setelah kau merasa bosan, jadi hukumanmu hanya akan berakhir saat aku telah bosan denganmu. Dan aku tidak bisa menjamin kapan aku akan merasa bosan. Bisa saja besok atau bahkan tidak pernah.” Jelas Austin dengan smirknya.
Setelah mengatakan hal itu, Austin langsung melangkah pergi menuju kamarnya yang berada dilantai atas.
Gianna tengah mengepalkan kedua tangannya menahan emosi yang akhir-akhir ini memang hampir tak pernah diluapkannya. Ia memang sedang belajar untuk mengontrol dirinya agar tak lagi mudah marah seperti dulu. Dan bagaimanapun Austin akan memperlakukannya, Gianna bertekat untuk menjaga emosinya agar tak pernah meledak.
Wanita itupun segera masuk kedalam kamarnya. Ia tak segera mengeluarkan dan menata barang-barang bawaannya karena sudah terlalu lelah mengenakan gaun yang cukup berat. Setelah menanggalkan gaunnya, Gianna melangkah ke kamar mandi dan segera merilekskan tubuhnya. Tak ada bathup di kamar mandi itu, sehingga ia hanya memanfaatkan air hangat yang keluar dari shower.
Dua puluh menit kemudian, Gianna telah selesai dengan ritual mandinya. Namun ia lupa membawa pakaian ganti, sehingga tubuhnya hanya dibalut dengan bathrobe.
Saat melangkahkan kakinya kembali ke kamar, ia dibuat terkejut karena Austin telah ada didalam kamar itu lagi dan duduk dengan tenang di pinggir ranjang. Pria itu juga terlihat telah mengganti pakaiannya menjadi lebih santai, kaos oblong berwarna abu-abu dan celana pendek navy selutut. Rambutnya terlihat agak basah, menandakan ia juga baru saja mandi.
Austin memandang Gianna yang tengah terkejut dengan pandangan datar yang tak dapat diartikan. Matanya menjelajah dari atas ke bawah selama beberapa saat sebelum akhirnya ia alihkan pada hal lainnya.
“Ada yang terlewat. Aku belum menjelaskan tugasmu selama berada dirumah ini.” Ujar Austin datar.
“Aaku akan mengganti pakaianku dulu.” Balas Gianna gugup.
“Tidak perlu, tidak akan lama. Duduklah di sofa!” Perintah Austin tegas.
Gianna pun menurut. Ia duduk di sofa panjang yang ada dikamarnya dan lagi-lagi ia tak mampu menatap wajah mengintimidasi Austin. Jemarinya saling bertaut dan ia semakin gugup.
“Saat ini aku berhak penuh atas dirimu, jadi kau harus menuruti semua perintahku tanpa bantahan.” Kata Austin membuka pembicaraan serius mereka.
Gianna mengiyakan sambil mengangguk.
“Kau harus mengurus rumah ini agar selalu bersih dan rapi, memasak untukku, dan menyiapkan segala kebutuhanku. Tak akan ada asisten rumah tangga yang akan membantumu, jadi kau harus melakukan semuanya sendiri. Dan untuk saat ini, aku tidak mengizinkanmu meninggalkan rumah ini dengan alasan apapun. Jika bahan makanan dikulkas habis, kau hanya perlu memberitahuku dan aku akan berbelanja sendiri. Apa kau paham?”
“Apa aku menjadi tahanan rumah?”
“Kau tidak bisa membantah dan ini final.”
“Bbaik.”
“Aku tidak peduli kau bisa masak atau tidak, tapi aku akan menentukan menu yang harus kau masak setiap hari. Jangan coba-coba meracuniku!”
“Iya.”
Austin berdiri dari posisi duduknya, namun ia tak segera melangkah. Matanya masih menelisik Gianna yang duduk sambil menunduk di sofa. Tiba-tiba saja ia mengeluarkan seringai di wajahnya.
***** to be continued *****