09 Behind the Bet

1597 Kata
Austin berdiri dari posisi duduknya, namun ia tak segera melangkah. Matanya masih menelisik Gianna yang duduk sambil menunduk di sofa. Tiba-tiba saja ia mengeluarkan seringai di wajahnya. ***** “Apa kau tahu yang sedang kupikirkan saat ini?” Tanya Austin dengan maksud tersembunyi. Gianna mengangkat kepalanya dan matanya pun langsung beradu dengan mata tajam Austin yang terbalut kacamata. “Tidak.” Jawab Gianna singkat. Austin melangkah perlahan kearah Gianna dengan smirk yang tak pernah lepas dari wajahnya. “Kkau mau apa?” Tanya Gianna gugup. “Aku tidak tahu kau ingat atau tidak, tapi kalimat terakhirmu dulu sangat mengganggu hidupku.” Gianna tergelak, ia tahu pasti apa maksud Austin. Karena ia memang tak pernah sedikitpun melupakan setiap kalimat tajam yang pernah diucapkannya pada pria itu. “Dan sekarang aku penasaran, apa kau masih akan mengatakan hal yang sama padaku setelah sepuluh tahun berlalu.” Sebelah tangan Austin memegang pundak Gianna dan meremasnya pelan. “Kkau tidak akan melakukannya, kan?” Tanya Gianna. “Apa kau takut?” “Bukankah kau hanya ingin balas dendam padaku?” “Aku hanya melakukan hal yang sama dengan yang pernah kau lakukan padaku. Dan kau pernah membuatku melakukan s*x, jadi kau juga harus membayarnya.” Austin menarik Gianna hingga wanita itu berlutut dihadapannya. “Apa kau pikir pernikahan ini juga akan menjadi pernikahan sexless? Come on, aku ini pria normal! Jadi, puaskan aku! Bukankah ini malam pertama kita?” Gianna mendongakkan kepalanya yang sejajar dengan pinggul Austin. Tangan pria itu berpindah membelai rambut Gianna dan menampilkan senyum miring mengintimidasi. Senyum itu membuat Gianna kesulitan menelan salivanya dan bulu kuduknya pun terasa merinding. “Ttapi,-” “Kau mau membantah ucapan suamimu?” “Ttidak.” Jawab Gianna sangat gugup dan jantungnya berdebar tidak karuan. Bagaimanapun, posisinya saat ini benar-benar sangat tidak menguntungkan. Ia kemudian menghela nafasnya panjang dan berat. “Baiklah, aku akan melakukannya.” Malam sunyi itu kini menjadi saksi kegiatan dua insan yang sedang melakukan kegiatan intim mereka. Awalnya memang Gianna yang memulai, namun semakin lama Austin pun ikut larut dalam permainan istrinya dan keduanya menjadi semakin liar. Entah sudah berapa kali mereka melakukannya, hingga membuat pasangan itu kelelahan dan tertidur dikamar yang sama. “Aku pasti akan membalas perbuatanmu.” Gumam Austin sesaat sebelum ia terlelap. Kalimat yang selalu tanpa sadar ia ucapkan diujung harinya, meskipun cukup lirih namun Gianna masih bisa mendengarnya. Hati wanita itu langsung mencelos dan rasa sesal itu kembali menyapanya. ‘I’m sorry, hon.’ Batin Gianna sebelum ia menyusul Austin yang terlelap disampingnya. ***** Flashback ***** Akhir pekan selalu Gianna habiskan dengan berpesta bersama teman-temannya. Dan sejak ia berhubungan dengan Austin, pria itu juga selalu ada disana bersamanya, tak terkecuali hari ini. Sejak pukul sembilan malam mereka telah mengisi kursi VVIP club malam yang menjadi tempat mereka berkumpul. Mereka memang masih dibawah umur, tapi uang seolah bisa membeli segalanya. Alkohol, music DJ, tarian erotis, dan segala jenis make out sudah menjadi pemandangan umum. Austin sebenarnya sangat tidak nyaman dengan situasi ini, namun ia juga tidak rela jika Gianna harus pergi sendiri dan terlibat dengan semua itu. Pria itu bagaikan rem bernyawa untuk kehidupan bebas Gianna. “Aa-aku mau ke toilet dulu.” Izin Austin pada Gianna. “Mau kutemani?” Tanya Gianna dengan wajah menggodanya. “Tt-tidak perlu. Aa-aku akan segera kembali.” Austin langsung pergi begitu saja. Kepolosan pria itu selalu bisa membuat Gianna tersenyum dan merasa gemas sendiri. “Kenapa kau membawa si cupu itu lagi, sih? Tidak seru!” Protes Andrea setelah Austin meninggalkan ruangan mereka. Teman-temannya yang lain pun mengangguk setuju. “Dia akan marah kalau aku pergi sendiri.” Jawab Gianna tenang lalu ia meminum beer ditangannya. “Kalian tidak tahu kan kalau dia orang yang sangat possessive?” “Bukankah masa taruhan kita sudah selesai? Kenapa kau masih bersama dengannya? Jangan-jangan kau benar-benar jatuh cinta padanya?” Selidik Sean yang membuat Gianna tersedak. “Kkau gila? Mana mungkin!” Sanggah Gianna dengan gugup. “Aku hanya belum menemukan waktu yang tepat saja untuk putus darinya.” “Aku punya ide yang bagus untuk kalian.” Ujar Ruby sambil menjentikkan jarinya. “Apa?” Tanya Max sambil mencumbu ceruk leher kekasihnya itu. “Bagaimana kalau sebelum memutuskannya, kau manfaatkan dia, dan tidur dengannya?” Usul Ruby. “Apa tidak ada ide yang lebih absurd lagi?” Cibir Gianna. Perasaannya sudah mulai tidak nyaman dengan pembicaraan ini, namun ia tak bisa menunjukkan hal itu pada teman-temannya. “Idemu sungguh gila!” Seru Sean tak terima. “Kau lupa kalau teman kita ini masih virgin? Bisa-bisanya kau memintanya melakukan hal itu?” Tambah Ryker. “Memberikan keperawanannya pada seorang nerd, bukankah itu sebuah penghinaan untuk kelompok kita?” Tanya Elio yang juga tak menyetujui ide itu. “Aku setuju dengan Ruby!” Sela Andrea. “Gianna, prinsipmu itu tidak masuk akal. Kau hanya akan memberikan keperawananmu pada pria perjaka, huh? Kalau bukan dengan pacarmu itu, lalu siapa lagi? Apa kau mau menjadi perawan tua? Tak ada lagi pria perjaka di kelompok sosial kita!” “Tapi itu sungguh tak adil untuknya, Re, Rub!” Protes Gianna. “Sejak kapan kita memikirkan keadilan? Selama kita bisa mendapatkan kesenangan dan kepuasan, keadilan tak akan ada artinya.” Cela Ruby yang disetujui oleh Andrea dan juga Max. Sementara ketiga pria lainnya diam saja, seolah ikut menyetujui pola pikir itu. “Membuatnya jatuh cinta padaku saja sudah bisa melukainya, apa harus sejauh itu?” Gianna masih terus mencoba mengelak. “Apa kau takut? Kalau kau benar teman kami, kau harus berani melakukannya! Hidup tidak akan seru tanpa tantangan, Gia!” Ujar Andrea dengan nada merendahkan. “Bagaimana kalau kita berikan batas waktu?” Usul Max. “Satu minggu?” Ryker memberi penawaran. “Aku sudah tidak tahan melihatnya ada diantara kita.” “Satu minggu boleh juga!” Elio menyetujui. Yang lain pun ikut mengangguk, kecuali satu orang yang masih menganggap bahwa ide ini sungguh tidak berperikemanusiaan. “Bukankah itu terlalu cepat?” Tawar Gianna. “Take it or leave it, sugar!” Ruby mengedikkan bahunya tanda tak mau tahu. Diam-diam Gianna menggenggam kedua tangannya dengan erat dan rahangnya pun mengeras. Sebenarnya ia sangat tidak menyetujui ide gila ini karena ia tak ingin menyakiti pria polosnya lebih jauh lagi. Bagaimanapun hatinya juga sudah mulai terikat pada Austin, meskipun ia belum sampai pada tahap mencintai pria itu. Perasaan menyesal dan berdosa dalam hatinya pun semakin menumpuk seiring hari. Sehingga Gianna memutuskan untuk segera mengakhiri semua ini sebelum segalanya menjadi lebih kacau. Pada akhirnya ia memilih teman-temannya daripada Austin. “Apa keuntungannya untukku?” Tanya Gianna dengan dingin. “Apapun yang kau inginkan.” Jawab Andra dengan yakin. “Oke, aku akan melakukannya.” Lagi, karena sebuah taruhanlah akhirnya Gianna melakukan hal yang tidak sesuai dengan hati nuraninya. Meskipun ia harus menggoda kekasihnya itu mati-matian, pada akhirnya Austin pun luluh dan mereka melakukan perbuatan itu untuk pertama kalinya. Bukan hanya Austin yang kehilangan keperjakaan hari itu, Gianna pun memberikan keperawanannya pada Austin. Sayangnya, pria itu terlalu polos untuk mengetahui fakta paling krusial ini. Ia bahkan tak mengetahui bahwa Gianna adalah seorang perawan. Hal ini dikarenakan Gianna memang sudah cukup ahli melakukan foreplay sehingga tak tampak seperti virgin. Ditambah lagi tak ada darah perawan yang keluar malam itu. Karena tak semua perawan akan berdarah saat melakukan hubungan s*x untuk pertama kalinya. Gianna terus memperhatikan wajah Austin yang tertidur disampingnya dengan lekat. Ia ingin menyimpan wajah damai itu dalam benaknya seakurat mungkin, karena setelah malam ini ia tak akan bisa melihatnya lagi. “Maaf jika aku akan menyakiti hatimu besok. Semoga kau bisa segera melupakan wanita jahat sepertiku dan segera menemukan kebahagiaanmu bersama wanita lain yang lebih pantas untukmu. Andai kau tahu betapa aku menikmati waktu kita bersama. Karena itulah aku tak ingin melepaskanmu meskipun tenggat waktuku telah habis. Tapi hal itu malah menjadi bumerang untukku. Ampuni wanita jahat ini yang tak pantas mendapatkan maaf dan cinta dari pria semurni dirimu. Aku bahagia karena melakukan hal ini pertama kalinya denganmu, hon.” Gianna mengangkat tubuhnya dan mencium bibir Austin dengan lekat dan lama untuk terakhir kalinya. Tanpa terasa, air matanya pun menetes dan bahunya mulai bergetar. Keesokan harinya. “Kk-kuharap kau akan hancur, Gia! Dd-dan aku akan menjadi oo-orang pertama yang akan bber-bertepuk tangan.” Sumpah serapah Austin menjadi pertanda berakhirnya hubungan kedua remaja itu. Gianna menatap sendu punggung Austin yang semakin jauh meninggalkannya. Bukan hanya Austin yang marah dan membenci Gianna hari itu. Gianna juga sangat membenci dirinya sendiri yang tega melakukan tindakan sejahat itu pada pria sepolos dan sebaik Austin. Rasa benci dan sesalnya tak pernah berkurang sedikitpun meski waktu terus berlalu. “Wow! That’s my girl!” Seru Andrea sambil bertos-ria dengan Ruby. “Kami bangga padamu, Gia!” Tambah Ruby. “Good job, Stiller.” Puji Max. “Sekarang katakan apa yang kau inginkan!” Pinta Ryker sambil tersenyum puas.   “Orang-orang gila tak berperikemanusiaan.” Gumam salah seorang diantara mereka yang hanya bisa didengar olehnya sendiri, karena kondisi sekitarnya sangat ramai sorak-sorai kemenangan. “Sungguh kalian akan mewujudkan apapun keinginanku?” Tanya Gianna memastikan. “Memangnya kapan kami pernah ingkar janji?” Andrea balik bertanya. “Baiklah!” Gianna mengambil nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. “Aku ingin tak ada yang mengganggu Austin lagi, siapapun itu.” Teman-teman Gianna malah terbahak-bahak, padahal wanita itu mengatakan permintaannya dengan bersungguh-sungguh. “Kupikir kau akan meminta private jet atau pulau pribadi, tenyata-” Cibir Ruby sambil terus tertawa. “Itu sih gampang!” Seru Max. “Kau lemah padanya, Gia!” Ejek Ryker. “Kalian akan menuruti permintaanku, kan?” Gianna kembali meminta kepastian. “Anggap saja itu sudah terwujud!” Seru Andrea. Andrea naik keatas meja dan ia bersiap membuat pengumuman. “Hei, semuanya! Mulai hari ini kalian dilarang mengganggu Austin Bergmann. Jika ada yang sampai mengganggunya, kalian akan mati ditangan kami!” Semua siswa-siswi yang ada dikantin itupun mengangguk mengiyakan dan Andrea pun kembali turun dari atas meja. “Sudah puas?” Tanya Andrea pada Gianna. Gianna hanya mendengus dan tak menjawab pertanyaan itu. Bagaimana mungkin ia merasa puas jika hatinya dipenuhi penyesalan? Ia melakukan hal ini juga semata-mata karena tidak ingin dikucilkan oleh teman-temannya. Hati nurani Gianna telah kalah pada ego yang menguasainya. ***** Flashback End ***** Gelapnya malam perlahan mulai menghilang seiring dengan sinar matahari yang mulai menyapa bumi New York. Wanita yang baru berstatus sebagai istri itupun perlahan membuka matanya dan mulai mengumpulkan kesadaran. Awalnya ia agak terkejut dengan suasana kamar yang berbeda dengan yang biasa ia tinggali, namun kemudian ia mulai ingat bahwa hidupnya telah kembali memasuki babak baru. Gianna memiringkan tubuhnya ke kanan dan nampaklah pemandangan suaminya yang masih terlelap dengan nyaman. Sebelah tangannya terangkat dan ia mulai meraba rahang tajam yang ditumbuhi bulu halus itu perlahan. Ia menikmati dan mengagumi wajah damai suaminya dan senyum hangat terbersit dari sudut bibirnya. “Kau adalah hal terindah yang pernah hadir dalam hidupku, hon. Kuharap kau bisa memaafkanku suatu hari nanti.” Gumam Gianna. ***** to be continued *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN