10 If It was Sooner

1599 Kata
Hari terus berlalu, hubungan Austin dan Gianna tak ada ubahnya seperti majikan dan pelayannya. Dengan tanpa toleran Austin terus saja memerintahkan ini-itu pada istrinya. Padahal dia tahu pasti seberapa manjanya wanita itu dulu. Jangankan mengurus rumah ataupun memasak, ia hanya perlu menjentikkan jari dan semua kebutuhannya akan terpenuhi. Sehingga tidak heran jika semuanya begitu kacau ditangan Gianna. Bukan hanya bahan-bahan makanan saja yang terbuang percuma saat Gianna mencoba memasak, banyak juga perabotan rumah Austin yang tanpa sengaja harus hancur karena wanita itu. Tak terhitung sudah berapa banyak piring, guci, vas, dan benda pecah belah lain yang dirusaknya. Alat elektronik pun ikut tak selamat. Jangan lupakan pula emosi Austin yang terus tersulut saat sedang bersama Gianna. “Bwah! Kau sebut ini makanan? Bahkan anjing pun tak akan sudi memakannya!” Austin membuang makanan dimulutnya, juga semua yang ada di meja. Tak peduli seberapa keras usaha Gianna saat membuatnya. “GIANNA! Kau apakan bajuku sampai seperti ini?” Austin mengangkat kemerjanya yang sudah berubah warna karena kelunturan pakaian lainnya. “Sapu yang bersih!” Prangg Gianna menyenggol vas bunga kaca yang ada di meja hingga jatuh dan pecah. “Jangan sampai gordennya kenapa-kena,-“ Ssraakkk Gianna terjatuh dari kursi saat melepas gorden yang akan dicucinya. Tangannya menarik kain gorden hingga membuatnya robek, bahkan pengaitnya ikut terlepas. “GIANNA!” “GIANNA!” “GIA!” “GIAAAA!” Teriakan-teriakan itu rasanya sudah menjadi asupan gizi Gianna setiap harinya. Peluang Austin untuk mendapatkan darah tinggi dan stroke juga menjadi semakin besar. Beruntung, pria itu tak pernah bermain fisik tak peduli semarah apapun dirinya. Paling-paling ia akan meninju atau menendang barang-barang disekitarnya hingga membuat Gianna takut, namun ia tak bisa berbuat apa-apa selain meminta maaf dan kembali belajar menjadi lebih baik. Setiap harinya Austin bahkan harus pergi bekerja dengan wajah kusutnya karena terlalu sering marah. Keadaan ini malah menjadi bahan candaan Benson setiap saat, membuat Austin semakin frustrasi. “Indahnya berumah tangga. Pagi-pagi sudah kelelahan, memangnya kau main berapa ronde sampai bisa terlihat sejelek ini?” Ejek Benson dengan tawa renyahnya. “b******k!” Selalu hanya umpatan yang keluar dari bibir tipis arsitek sekaligus CEO itu. “Sudah tahu istrimu itu manja dan tak pernah kesusahan seumur hidupnya, tapi tetap saja kau paksa melakukan semua pekerjaan itu. Kalau seperti ini, bukan lagi kau yang akan menghancurkan Gianna, justru Gianna yang akan menghancurkan rumah, otak, dan pencernaanmu.” Benson mulai berceramah. “Rasanya aku ingin memecatmu sekarang.” Ancam Austin yang bisa membuat asisten sekaligus sahabatnya itu menutup mulutnya rapat-rapat. “Ngomong-ngomong, nanti malam ada event besar di club. Kau datang, kan? I need my wingman, brother.” Pinta Benson dengan nada merengek. Austin menatap tajam asistennya itu, “menurutmu?” “Ah, kau tidak asik! Mentang-mentang sudah menikah tidak mau lagi menemaniku berburu wanita.” Benson mengerucutkan bibirnya kesal. Ya, Austin memang sudah tidak pernah lagi berburu wanita bersama Benson seperti saat ia masih lajang dulu. Meskipun tak jarang ia juga masih pergi minum-minum dengan Benson, tapi Austin selalu menolak untuk melakukan yang lebih dari itu. Selain ia sering kelelahan karena urusan kantor, ia juga harus mengawasi Gianna agar tidak menghancurkan rumahnya. ***** Sementara itu di penthouse, Gianna tengah berada didapur dengan peralatan memasak dan juga ponselnya. Ia tengah belajar memasak lewat tutorial di YouT**, karena ia sungguh ingin bisa membuatkan makanan yang layak untuk suaminya. Austin sejak kecil memang hanya akan memakan makanan rumahan. Hanya jika terpaksa saja ia mau makan diluar. Maka dari itu berat badan Austin terus menyusut sejak menikah dengan Gianna karena ia tak bisa makan dengan benar. Saat Gianna sudah benar-benar tak bisa memuaskan perutnya, Austin pun dengan kesal akan memasak sendiri makanannya. Untungnya dia akan membuat porsi agak berlebih, sehingga Gianna tidak perlu mengkonsumsi makanan tidak layaknya. Diam-diam Gianna bersyukur karena suaminya masih peduli padanya, meskipun sangat jarang. Ddrrrtt ddrrttt Getar ponsel tanda pesan masuk menghentikan sementara tayangan video memasak di ponsel Gianna. Iapun segera membuka pesan itu. [Cousin Gizca] ‘Apa kau bisa kerumah hari ini? Ada yang ingin kuberikan padamu.’ Gianna terlihat berpikir. Sudah hampir sebulan dia tinggal dirumah Austin dan tak pernah meninggalkan tempat itu sekalipun. Ia memang masih tak diizinkan keluar rumah oleh suaminya. Namun ini adalah pertama kalinya Gizca memintanya untuk bertemu setelah kejadian penculikan dua bulan yang lalu. Hingga akhirnya ia memilih untuk mengiyakan permintaan sepupunya dan pergi diam-diam dari penthouse. Tak lupa Gianna juga membawa kunci cadangan yang tanpa sengaja pernah ia temukan saat sedang bersih-bersih. ***** Empat puluh menit menggunakan kendaraan umum, akhirnya Gianna telah sampai di mansion Gizca yang berada di upper east side. Setelah pintu gerbang dibukakan oleh security, Gianna kemudian diantar ke ruang kerja sepupunya yang berada di lantai satu mansion bergaya Eropa klasik itu. “Bagaimana keadaanmu?” Tanya Gianna begitu bertemu dengan sepupunya. “Sudah jauh lebih baik. Tapi masih harus rawat jalan.” Jawab Gizca seraya mempersilahkan Gianna untuk duduk di sofa. “Syukurlah.” Balas Gianna tulus. “Lalu Adrian?” Adrian adalah asisten Gizca yang terkena luka tembak saat misi penyelamatan Gizca dari penculikan Giovanni dua bulan lalu. Karena luka itu pula, Adrian mengalami koma selama beberapa bulan. “Sama saja. Dia masih sangat betah tidur.” Jawab Gizca sedih. “Maaf.” Ujar Gianna sambil tertunduk. Ia kembali meminta maaf atas perbuatan Giovanni pada sepupunya. “Sudahlah, ini bukan salahmu.” Balas Gizca sambil tersenyum menenangkan. “Oh ya, aku memintamu kemari karena ada yang ingin kuberikan padamu, Gia.” Sepupu Gianna itu kembali berdiri dan berjalan menuju meja kerjanya. Tangannya mengambil sebuah amplop seukuran kertas F4 berwarna coklat muda dan menyerahkannya pada Gianna. “Apa ini?” Tanya Gianna sambil mengernyitkan pelipisnya tak paham. “Bukalah!” Pinta Gizca yang langsung dilakukan oleh Gianna. Didalam amplop itu terdapat beberapa lembar berkas berisi kepemilikan saham yang sama sekali tak dipahami Gianna. Maklum saja, ia tak pernah terlibat dalam hal bisnis ataupun belajar tentang bisnis. “Maaf terlambat, aku seharusnya memberikan itu setelah pembukaan resort di Coney Island dua bulan lalu.” Jelas Gizca. “Aku tidak mengerti. Ini apa, Giz?” Tanya Gianna dengan pandangan bertanya-tanya. “Saham uncle Graham yang sempat disita. Aku membagi dua saham itu untukmu dan juga Glenn. Jadi, kau dan Glenn sama-sama pemilik saham terbesar kedua di perusahaan setelah aku.” Jelas Gizca. “Bagaimanapun, warisan itu diberikan kakek pada ayahmu, jadi itu juga milikmu.” “Bbukankah semua asset keluargaku masih belum cukup untuk mengganti kerugian perusahaan? Kenapa kau memberikan ini padaku?” Gianna semakin bingung. “Dari awal aku tak pernah ingin meminta ganti rugi. Saat itu aku hanya sangat marah pada kalian, terutama orang tuamu yang telah membuat orang tuaku meninggal. Jadi aku ingin membuat kalian jera. Dan setelah aku yakin kau telah berubah, aku berniat mengembalikannya padamu. Tapi kejadian itu membuat semua ini tertunda.” Tangan Gianna yang memegang dokumen itu langsung melemah. Pandangannya kosong karena ia begitu terkejut. ‘Mengapa baru sekarang? Jika saja Gizca memberikan dokumen ini padaku satu bulan yang lalu, aku akan bisa membayar hutang mommy dengan mudah. Jika saja aku punya ini lebih awal, aku mungkin tidak akan terjerat dalam pernikahan balas dendam ini. Jika saja aku menemui Gizca saat pertama kali preman itu menemuiku, mungkin dia akan langsung memberikan berkas ini padaku. Jika saja Giovanni tidak melakukan hal gila, aku bisa kembali hidup layak dan tak perlu mendapat cemoohan semua orang. Jika saja—jika saja--.’ Tiba-tiba mata Gianna berkaca-kaca setelah memikirkan semua hal itu. Namun kemudian ia menggelengkan kepalanya sambil menyeka air mata yang hampir membasahi pipinya. ‘Tidak! Mungkin ini adalah takdir Tuhan. Jika semua ini tidak pernah terjadi, aku mungkin akan tetap menjadi Gianna yang liar dan tak tahu aturan. Aku juga tak akan mungkin bertemu lagi dengan Austin dan menjalani kehidupan bersama dengannya. Benar, semua ini pasti cara Tuhan untuk membawaku kembali ke jalan yang benar. Aku tidak harus menyesalinya dan sebaiknya lebih banyak bersyukur.’ Batin Gianna. “Kau tidak apa-apa, Gia?” Tanya Gizca agak khawatir melihat sepupunya yang terlihat shock. Gianna kembali menghapus air matanya dan mencoba tersenyum setulus mungkin. “Tidak. Aku tidak apa-apa. Aku hanya tidak menyangka kau akan melakukan hal ini dan sungguh terima kasih telah memikirkan kami, meskipun kami selalu jahat padamu.” “Orang tua angkatku mengajariku untuk lebih mudah memaafkan orang lain, karena dengan begitu hidup akan menjadi lebih tenang. Dendam hanya akan menyusahkan diri sendiri.” Balas Gizca dengan senyuman merekahnya. “Kau tinggal perlu tanda tangan disini untuk mengklaim milikmu.” Gizca menyodorkan bolpoin pada sepupunya. Gianna menerima bolpoin itu dan mulai menggoreskan tanda tangannya ditempat yang telah ditunjukkan oleh Gizca. Pada saat itu, Gizca melihat jari-jari Gianna yang terbungkus plaster. Tidak hanya satu, namun hampir diseluruh jarinya. Gizca langsung menarik tangan Gianna saat sepupunya telah selesai membubuhkan tanda tangan. “Kenapa dengan jarimu?” Tanya Gizca cemas. Gadis itu juga melihat beberapa goresan lainnya dikulit Gianna. “Ada apa denganmu? Katakan padaku!” Gianna menarik tangannya dan malah mengangkatnya setinggi wajah. Bibirnya melengkung tersenyum dengan manis. “Akhir-akhir ini aku sedang belajar memasak dan ternyata itu tidak mudah. Jari-jariku malah jadi korban. Aku juga mulai belajar cara melakukan pekerjaan rumah sendiri. Bagaimanapun aku sudah tidak bisa bergantung pada orang lain, kan?” Jelas Gianna. Wanita itu masih belum ingin memberitahukan perihal pernikahannya pada sang sepupu. Entah mengapa ia tidak ingin Gizca tahu niat Austin sesungguhnya. Gianna tahu sepupunya tak akan tinggal diam saat mengetahui fakta yang sebenarnya. Gizca menghela nafas lega. Ia takut sepupunya itu kenapa-kenapa. “Syukurlah. Kupikir ada orang yang menyakitimu.” “Emm Giz, apa kau akan mengumumkan ke publik kalau kini aku memegang saham di perusahaan?” Tanya Gianna hati-hati. “Seharusnya seperti itu.” “Kalau aku memintamu untuk merahasiakannya sementara waktu, apa kau mau melakukannya?” “Mengapa harus dirahasiakan?” “Aku hanya masih belum siap menerima tudingan aneh-aneh lagi dari publik.” Gizca tersenyum simpul, “baiklah jika itu maumu.” “Terima kasih.” Balas Gianna. “Emm Giz,-“ “Ya?” “Apa aku boleh memelukmu?” Tanya Gianna hati-hati. Sepupunya itu tak menjawab. Ia malah langsung berdiri dan bergeser kesebelah Gianna. Kedua tangannya langsung meraih tubuh Gianna dalam dekapannya dan jemarinya mengelus punggung wanita yang memiliki warna rambut dan iris yang sama dengannya itu. Gianna pun membalas pelukan itu dengan erat. Tubuhnya menikmati rasa damai yang selama beberapa waktu ini tak lagi menghampirinya. Ia memang sangat membutuhkan sandaran saat ini. “Kau tak perlu ragu jika ingin memelukku. Meskipun jalan kita cukup terjal untuk sampai di titik ini, tapi kita tetaplah saudara. Datanglah padaku kapanpun kau membutuhkanku. Akupun akan melakukan hal yang sama. Setuju?” Ujar Gizca. Gianna mengangguk dan ia kembali meneteskan air mata. “Terima kasih. Terima kasih masih sudi menerima dan memaafkanku, Giz.” ***** to be continued *****   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN