11 Someone from the Past

1479 Kata
Kejadian perginya Gianna dari penthouse hari itu lolos dari pengawasan. Pria itu sama sekali tidak tahu jika tawanannya pernah kabur. Namun, meskipun tidak ketahuan, Gianna tidak pernah lagi keluar rumah dan hari-hari mereka kembali normal seperti sebelum-sebelumnya. Bukan normal dalam artian damai karena normal mereka adalah saat percekcokan terjadi. Melihat betapa menurutnya Gianna pada aturan yang ia buat, satu bulan kemudian Austin pun mulai memberi izin wanita itu untuk pergi keluar. Dengan syarat Gianna harus mengabari pria itu saat akan pergi. Namun tak banyak tempat yang ingin dikunjungi Gianna meskipun ia sudah bisa pergi kemanapun. Mungkin hanya penjara untuk mengunjungi ayah dan kakaknya, apartemen untuk bertemu Rhea dan Glenn, dan mansion Gizca atau kantor Stiller Corps karena ia ingin ikut belajar cara mengelola perusahaan yang sebagian sahamnya telah ia kantongi. ***** Akhir tahun dan esok tahun yang baru akan dimulai. Austin bersama dengan Benson sedang mengunjungi salah satu kolega mereka, Mr. Han yang tengah dirawat di rumah sakit. Dengan membawa bingkisan, mereka berdua pun masuk kedalam ruang rawat dan disambut oleh keluarga Mr. Han. Obrolan ringan pun mengisi pertemuan mereka. Tak lupa pula Mr. Han mengenalkan dua pria itu dengan keluarganya yang terdiri dari sang istri dan anak perempuannya yang berusia pertengahan dua puluhan. “Semoga lekas sembuh Mr. Han. Kami permisi undur diri.” Ujar Austin sopan setelah hampir tiga puluh menit lamanya berada diruangan itu. “Terima kasih atas kunjungan anda, Mr. Bergmann, Mr. Vargas. Jadi merepotkan sampai dijenguk segala.” Balas Mr. Han terkekeh. Setelah saling bersalaman, Austin dan Benson pun segera beranjak meninggalkan ruangan itu. Langkah mereka terhenti saat melihat seorang pria dari balik pintu. Austin merasa bahwa pria itu tidak asing untuknya, namun ia juga tidak terlalu ingat. Sementara pria itu terlihat agak terkejut melihat Austin didepannya, namun tak lama kemudian pria itu malah tersenyum lebar. “Austin Bergmann!” Seru pria itu yang dibalas kernyitan di dahi Austin. “Ternyata Gianna benar, kau sudah sangat berubah sekarang.” Pria itu menepuk pundak Austin dengan bersahabat. “Apa saya mengenal anda?” Tanya Austin heran. “Yeobo, eomonim, abonim, jeo nagalgeyo! (Sayang, ibu, ayah, aku keluar dulu!) Mau menyapa teman lama.” Teriak pria itu kedalam ruangan yang langsung diangguki oleh ketiga orang didalam ruangan itu. Pria itu kemudian menarik lengan Austin keluar ruangan dan diikuti Benson dibelakangnya. “Apa kau tidak mengingatku?” Tanya pria itu berbinar. Austin menggeleng. “Aku Sean. Teman Gianna sejak high school.” Mata Austin membelalak terkejut. Seketika memorinya berputar kembali pada masa-masa kelam itu. Selain rasa marah yang diingatnya, perasaan gugup karena pernah dipermalukan itupun kembali menghampiri. Sean terus mengajak kedua orang itu menuju taman rumah sakit yang tak jauh dari ruang rawat yang telah mempertemukan mereka. Selama perjalanan, pria itu juga saling berkenalan dengan Benson. Ketiga orang itu kemudian duduk dibangku taman yang terdapat meja ditengahnya. “Aku sempat terkejut saat Gianna mengabariku bahwa kalian akan menikah, karena sebelumnya dia tak pernah bercerita bahwa kalian telah bertemu kembali. Tapi setelah dia mengirimkan foto pernikahan kalian, barulah aku percaya. Maaf tidak bisa hadir karena aku sedang ada di Korea Selatan saat itu.” Cerocos Sean. Pria itu tidak sadar jika Austin masih terkejut. “Kenapa kau tiba-tiba menjadi ramah padaku?” Tanya Austin datar. “Karena aku memang tak pernah membencimu, Bergamann. Maaf karena dulu aku hanya diam saja menjadi penonton dan tak membelamu.” Jelas Sean yang dibalas Austin dengan memutar kedua bola matanya. “Itu membuatmu sama saja dengan mereka.” Balas Austin tajam. “Aku tahu. Maka dari itu aku ingin meminta maaf padamu.” Ujar Sean tulus. “Sudahlah, lupakan!” Austin mengibaskan tangan kedepan wajahnya dengan cuek. “Tadi kau bilang Gia menghubungimu? Kau masih berhubungan dengannya?” “Aku tak pernah putus hubungan dengannya.” Jawab Sean singkat. “Bahkan setelah semua yang terjadi padanya? Bukankah semua teman-temannya meninggalkannya?” Tanya Austin heran. “I literally left her a few weeks after our graduation day.” Jawab Sean. “Dan aku bersyukur bisa meninggalkan pergaulan toxic menyesatkan itu.” “Lalu bagaimana kau masih bisa berhubungan dengan Gia?” “Karena dia satu-satunya sahabat yang paling dekat denganku, jadi aku meninggalkan kontakku pada istrimu, hanya padanya. Tapi jangan cemburu dulu! Aku tahu kau ‘posesif’, tapi kami tak pernah lebih dari sahabat.” Saat Sean mengatakan kata posesif, Austin malah mendengus kesal. Sedangkan Benson tak bisa menahan tawanya, namun ia tak ingin mengganggu acara reuni itu. “Apanya yang sahabat? Bukankah dulu kau dan Gianna juga sempat cukup intim?” Austin mencebik kesal. “Just flirting, man! Tak pernah lebih dari itu.” Sean menepuk bahu Austin. “Ngomong-ngomong, kenapa kau bisa menikahi Gianna? Apa kau sudah memaafkannya?” “Justru sebaliknya.” Serobot Benson yang diam sejak tadi. “Diam kau, Ben!” Seru Austin kesal sembari menatap tajam sahabatnya. “Jadi kau belum memaafkannya? Lalu kenapa menikahinya?” Tanya Sean lagi. “Dia tidak menceritakan alasannya padamu?” Austin balik bertanya dengan nada menyelidik. Sean menggeleng, “dia hanya bilang kalau kalian sudah ditakdirkan bersama. Konyol sekali kan jawabannya? Dasar bucin!” “Apa maksudmu?” Tanya Austin tidak paham. “Itu istilah bahasa Indonesia yang artinya b***k cinta, slave of love.” Jawab Sean. “Cinta? Gianna mencintai si b******k ini?” Tanya Benson tanpa rem dengan nada mengejek. “Mau kupecat?” Ancam Austin santai membuat Benson langsung nyengir. “Kau juga Sean, jangan bercanda! Mungkin kau lupa, tapi Gia tidak pernah mencintaiku.” Sungut Austin kesal. “Dia belum pernah mengatakannya?” Tanya Sean. “Tapi iya juga sih, mana mungkin Gianna mengatakannya kalau dia sendiri saja masih belum sadar akan perasaannya.” Gumam Sean. “Apa kau tahu tentang perasaan Gianna? Ceritakan! Buat bosku ini juga sadar dengan perasaannya sendiri!” Pinta Benson yang langsung dibalas tatapan tajam Austin. Sean menggeleng sambil mengibaskan telapak tangan kanannya. “Tidak! Nanti aku terlalu spoiler dan jika Gianna tahu, dia akan membunuhku karena bermulut ember.” “Oh ayolah! Bantu dua teman kita ini bersatu!” Rengek Benson. “Aku inginnya begitu, tapi,-“ Sean menjeda kalimatnya. “Tidak, ah. Aku tidak ingin Gianna membenciku. Hanya dia temanku satu-satunya disini.” “Kalau kau tidak menceritakannya, temanmu malah akan semakin tersiksa oleh temanku.” Dengus Benson. “Sepertinya aku transparan untuk kalian.” Sindir Austin yang dibalas kekehan kedua pria disampingnya. “Oke, sedikit saja ya spoilernya!” Ujar Sean yang membuat Benson antusias. Sementara Austin malah mengalihkan pandangannya dan seolah tak peduli. Padahal diam-diam dia ikut menajamkan telinganya karena penasaran juga dengan cerita Sean. “Setelah perpisahan kalian, mungkin kau berfikir hanya kau saja yang hancur. Tapi hari itu sahabatku juga sama hancurnya denganmu. Ia tak pernah dengan sengaja menyakitimu, tapi teman-teman kami yang membuatnya melakukan itu. Karena jika tidak, mereka tidak akan lagi menganggap Gianna sebagai bagian dari kami. Dan kesalahan Gianna adalah dia tidak memilih dan memperjuangkanmu. Dia memilih menuruti egonya agar bisa diakui sebagai anggota kelompok sosial paling berpengaruh saat itu.” “Bohong!” Gumam Austin menyangkal cerita itu. “Apa kau merasakan bahwa bulan-bulan terakhir kita sekolah terasa sangat damai untukmu tanpa seorangpun yang mengganggumu lagi?” Tanya Sean. Austin terlihat berfikir sesaat, “aku tidak menyadarinya, tapi sepertinya begitu.” “Itu karena Gianna mengancam akan menghabisi siapapun yang berani mengganggumu.” Balas Sean yang membuat Austin mengernyit tak percaya. “Sejak kalian putus, Gianna jadi lebih banyak diam dan sering kali merenung, namun ia selalu menutupi hal itu didepan kami. Saat jam istirahat maupun pulang sekolah pun dia jarang bercengkerama dengan kami. Kau tahu alasannya?” Austin tidak menjawab, namun ia hanya menerka-nerka. “Dia mencarimu, melihatmu dari jauh hanya untuk memastikan bahwa kau baik-baik saja. Selalu seperti itu hingga hari kelulusan kita” Sean menjawab pertanyaannya sendiri. “Tidak mungkin Gia seperti itu.” Gumam Austin masih tidak mau menerima jika cerita itu adalah benar. “Aku tidak memintamu percaya padaku. Tapi tolong perlakukan sahabatku dengan baik, karena kau adalah salah satu orang paling penting dalam hidupnya.” Pesan Sean. “Jadi bagaimana sebenarnya perasaan Gianna pada Austin?” Tanya Benson penasaran. “Sudah mulai malam, aku harus kembali ke ruangan mertuaku. Lagipula ini malam tahun baru, istriku ingin jalan-jalan juga katanya.” Sean mengabaikan pertanyaan itu dan meninggalkan rasa penasaran pada benak Austin dan Benson. “Ajaklah Gianna menyaksikan pergantian tahun, dia sangat suka kembang api.” Setelah mengatakan hal itu sambil menepuk bahu Austin, Sean pun melenggang pergi. “Apa kau masih mau merayakan tahun baru di club bersama denganku?” Tanya Benson setelah beberapa saat keheningan menyapa mereka. Austin terdiam. Ia masih belum bisa mencerna semua cerita yang baru didengarnya. Ada perasaan bahagia menyapa hatinya jika semua itu memang benar. Karena itu berarti bukan hanya dia yang tersiksa dan merasakan sakit hati setelah perpisahan mereka. Secara tidak langsung berarti Gianna juga menyimpan perasaan untuknya. ‘Tidak! Aku masih membencinya. Sudah jelas dia lebih memilih teman-temannya daripada aku. Jadi mana mungkin dia sehancur aku? Sean pasti mengada-ada. Bagaimanapun, dia juga adalah bagian dari orang-orang jahat itu. Aku tidak boleh mempercayainya.’ Batin Austin terus mengelak. Austin segera berdiri dan merapikan pakaiannya kembali. “Tentu! Ayo pergi!” Benson tergelak mendengar jawaban sahabatnya. Ia pikir Austin akan menuruti saran Sean, namun Austin masih tetaplah Austin yang penuh dendam. ***** Kedua pria sebaya itupun menyusuri lorong rumah sakit hingga sampai ke area lobby. Namun langkah keduanya terhenti saat atensi mereka menemukan sosok lain yang tak asing ditempat itu. Sosok wanita dengan pakaian santai yang dilengkapi coat, syal, dan earmuff karena sedang musim dingin. Mata Austin menatap tajam pada wanita yang tengah fokus dengan ponselnya itu. Terdapat aura kemarahan dalam tatapan matanya. Sementara Benson segera meraih pundak pria itu dan menepuknya perlahan. “Aku bisa pergi sendiri. Kau pasti ingin menemuinya sekarang.” Ujar Benson mencoba menyalurkan ketenangan pada sahabatnya. “Sampai jumpa minggu depan!” Kedua orang itupun berpisah di lobby, Benson segera menuju area parkir, dan Austin menghampiri wanita itu. Tanpa berkata apapun, Austin langsung mencekal lengan wanita itu dan membuatnya langsung terkejut. ***** to be continued *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN