12 Her Relatives

1446 Kata
Austin menghampiri wanita itu. Tanpa berkata apapun, ia langsung mencekal lengan wanita itu, membuatnya cukup terkejut. “Kenapa kau bisa ada disini?” Tanya Austin dengan mendesis. Austin ingin membentak, namun mereka sedang ada di keramaian, sehingga ia memilih menurunkan intensitas suaranya. Wanita yang tak lain adalah istrinya itu seketika merasa takut dengan tatapan tajam Austin. “Kenapa kau tidak memberitahuku kalau akan keluar rumah? Bukankah peringatanku sudah jelas?” “Aa-aku,-” Gianna ingin menjawab, namun ucapannya harus terpotong. “Kalian sudah ada disini?” Tanya seorang wanita yang menghampiri keduanya. “Kupikir hanya Gianna yang akan datang, tapi Austin juga ikut rupanya.” Austin melepas cengkeraman tangannya pada lengan Gianna dan mengubah tatapan tajamnya menjadi lebih ramah. Gianna pun langsung tersenyum kearah wanita itu. Wanita yang menyapa mereka adalah Rhea yang sedang menggendong Glenn. Disebelah mereka juga ada seorang pria paruh baya yang Austin tidak kenal sama sekali. Seingatnya, ayah mertuanya tidak seperti pria itu, apalagi pria paruh baya itu juga sedang ada di penjara. “Nona Gianna apa kabar?” Tanya pria itu. Ia adalah Mateo Cavaro, head butler di mansion sepupunya, Gizca sekaligus ayah dari asisten Gizca yang sempat koma beberapa waktu lalu. “Baik, Mr. Cavaro. Anda juga apa kabar?” Gianna bertanya balik. “Sudah jauh lebih baik sejak Adrian bangun. Anak itu hampir saja membuatku ikut menyusul ibunya.” Jawab Mateo sambil bercanda dan dibalas kekehan Gianna dan Rhea. Sementara Austin tidak paham dengan pembicaraan mereka. “Ini siapa, nona?” Tanya Mateo sambil menatap Austin. Gianna mengambil nafas agak dalam, “suami saya, Austin Bergmann.” Jawab Gianna seraya memperkenalkan kedua orang itu. Austin menerima uluran tangan Mateo dan tersenyum simpul. “Saya tidak tahu nona Gianna sudah menikah.” Ujar Mateo. “Saya memang tidak memberi tahu karena kondisi kalian sedang sangat buruk waktu itu.” Jawab Gianna sopan. “Gizca sudah tahu?” Tanya Mateo lagi. Austin tahu nama yang disebut pria itu, nama sepupu Gianna yang diyakininya telah menelantarkan istrinya beberapa bulan lalu. ‘Kalaupun dia tahu juga tak akan peduli, kan?’ Batin Austin berspekulasi. “Saya belum bercerita padanya.” Jawab Gianna dengan tersenyum canggung. “Nona Gianna harus memberitahunya, dia pasti senang mendengar berita ini.” Saran Mateo. ‘Senang? Yang benar saja!’ Batin Austin lagi sambil memutar bola matanya. “Ayo cepat! Keluarga dan teman-teman Gizca pasti sudah menunggu!” Ajak Rhea sambil berjalan menuju kedepan lift yang diikuti tiga orang lainnya dari belakang. “Kau berhutang jawaban padaku.” Bisik Austin di telinga Gianna. “Periksa ponselmu!” Balas Gianna juga berbisik. Austin berjalan sambil mengernyitkan dahinya. Tangannya meraih ponsel yang ada disaku celana dan memeriksanya. Matanya segera membulat sempurna tatkala ia melihat notifikasi 10 panggilan tak terjawab dan 3 pesan singkat dari istrinya. Setelah membuka pesan itu, ia baru mengetahui jika Gianna telah berusaha untuk meminta izin padanya untuk pergi dari penthouse. Namun istrinya hanya mengatakan bahwa ia mendapat undangan. Ternyata undangan itu untuk pesta kejutan ulang tahun sepupu Gianna. Pesta dilakukan dirumah sakit karena Adrian, asistennya yang kini berstatus sebagai kekasih Gizca masih dirawat disana. Austin hanyalah figuran diacara itu. Gianna bahkan tidak langsung mengenalkan dirinya pada Gizca. Dan yang membuat Austin heran adalah, mengapa Gianna bisa ikut merayakan pesta ini jika hubungan kedua sepupu itu tidak baik? Acara kemudian berpindah ke rooftop karena semua orang ingin menyaksikan pergantian tahun di tempat tinggi itu, tak terkecuali Gianna dan Austin. ‘Tanpa sengaja aku mengabulkan permintaan Sean.’ Batin Austin dengan tersenyum miris. Beberapa menit menjelang pergantian tahun, Austin mendapat telephone dari Benson. Austin segera berjalan menjauh dari kerumunan dan mulai berbincang dengan asistennya yang merengek kebosanan karena tak bersama sahabatnya menyambut tahun baru. Saat berbincang itupun pandangan Austin tak pernah meninggalkan Gianna. Dari situ juga ia melihat sepupu istrinya menghampiri. Terlihat aura akrab dan hangat dalam percakapan mereka, bahkan keduanya juga sempat berpelukan. Austin mengernyit heran dan iapun langsung mematikan sambungan telephonenya sepihak. ‘Kalau mereka sedekat itu, mengapa Gia mau menerima lamaranku dan menikah denganku? Padahal dia tahu dengan jelas kalau tujuanku tidak baik. Dia bisa saja meminta sepupunya untuk terlepas dari jerat hutang itu.’ Batin Austin bingung. Pria itu kemudian teringat ucapan Sean yang mengatakan bahwa Gianna juga sempat menyukainya. Namun sedetik kemudian ia langsung menampik pikiran itu. ‘Tidak! Mungkin saja Gia mau menerimaku karena rasa bersalahnya. Ya. Pasti itu alasannya.’ Austin kembali berasumsi. Hatinya terasa seperti teremas saat ia memikirkan hal itu. Entah mengapa rasa sakit yang sama seperti saat ia putus dengan Gianna itu kembali hadir. Iapun menghirup nafas dalam dan menghembuskan perlahan. Mengesampingkan rasa sakitnya, kaki Austin kembali membawanya ketempat sang istri dan sepupunya berada. “Ehem…” Austin berdehem hingga membuat kedua sepupu itu melepaskan pelukannya. Gianna menatap suaminya sambil tersenyum canggung. Ia kemudian menarik sebelah lengan Austin dan berniat memperkenalkannya pada Gizca. “Oh, Giz! Kenalkan ini suamiku, Austin Bergmann. Austin, ini sepupuku Gizca Stiller. Kalian sudah saling tahu kan?” Tanya Giannya. Gizca mengulurkan tangannya dan disambut Austin dengan seulas senyum singkat. Tentu saja mereka saling tahu, meskipun tak mengenal secara personal. Sebagai sesama kalangan old money, circle mereka seperti hanya itu-itu saja. “Bergmann Industry?” Tanya Gizca agak ragu pada Austin. Nama belakang yang disandangnya memang membuat Austin selalu dikaitkan dengan perusahaan ayahnya. Namun itu tak menjadi masalah untuk pria berdarah Jerman Hawaii ini. “Ya. Senang berkenalan dengan anda, miss Stiller. Dan selamat ulang tahun.” Jawab Austin. “Terima kasih, Mr. Bergmann.” Balas gadis itu sambil tersenyum ramah. “Ohya, panggil aku Gizca saja. Kita kan keluarga sekarang.” Sejenak Austin mengernyit heran. Ia masih tidak percaya jika sepupu istrinya bisa seramah ini, padahal berita diluar sana selalu menyebut bahwa gadis itu cukup tak berperasaan. Namun Austin segera mengendalikan ekspresinya menjadi tersenyum simpul. “Hanya jika anda memanggil saya Austin!” Tawar Austin. “Tentu saja, Austin.” Ujar Gizca menyetujui. “Tolong jaga dan perlakukan sepupuku dengan baik! Kalau sampai aku tahu kau membuatnya bersedih, kau tentu tahu apa yang bisa kulakukan untuk membalasnya, karena aku tidak pandang bulu saat menghukum orang jahat.” Gizca mengancam dengan pandangan mata yang menyipit. “Kau membuatku takut.” Kekeh Austin yang membuat Gizca ikut terkekeh pula. Tentu Austin tahu. Jika gadis itu tidak tegas, mana mungkin ia sampai mengambil seluruh asset keluarga Gianna. Austin kemudian merangkul pundak Gianna dan sedikit meremasnya. “Kau berhutang penjelasan lagi padaku.” Bisik Austin di telinga Gianna lirih hingga membuat Gianna memperlihatkan raut terintimidasinya. Di sisi lain Gizca seperti sedang membaca gerak-gerik pasangan dihadapannya itu. Namun tak lama kemudian ia terlihat menggelengkan kepalanya menepis asumsi dan pikiran yang dibuat otaknya. Tak berapa lama kemudian, Gizca meninggalkan Austin dan Gianna setelah diajak Adrian ketempat lain. Hanya menyisakan pasangan suami istri itu dalam keheningan yang mereka ciptakan sendiri. "Tadi aku bertemu Sean." Ujar Austin datar tanpa memandang istrinya. Gianna memandang Austin dengan penasaran, "Sean temanku?" "Siapa lagi?" "Bagaimana kau bisa bertemu dengannya?" "Mertuanya klienku dan sedang dirawat dirumah sakit ini." Jelas Austin. "Penyakit jantung mertuanya kambuh lagi?" Tanya Gianna agak cemas. "Apa aku boleh menjenguknya juga?" "Untuk apa?" Austin balik bertanya sambil memicingkan matanya tak suka. "Apa lagi? Sean sahabatku dan aku juga mengenal keluarga istrinya." Jawab Gianna jujur. "Terserah! Asal kau bisa menjaga sikapmu." Balas Austin tak acuh. "Memangnya kapan aku pernah macam-macam setelah kita menikah?" Gerutu Gianna pelan yang tak ditanggapi Austin sedikitpun. Beberapa saat kemudian, terdengar riuh orang-orang sedang menghitung mundur tanda tahun yang baru akan segera hadir. Tiga Dua Satu Dduarr ddaarr treettt duaarr Suara kembang api dan terompet memecah keheningan malam, membuat langit gelap New York menjadi penuh warna. Orang-orang yang berada disekitar Gianna dan Austin pun mulai bersorak gembira, ada juga yang langsung membuat permohonan atau bahkan mengawali tahun dengan ciuman mesra seperti yang dilakukan oleh Gizca dan Adrian. Sedangkan Gianna fokus mengagumi megahnya kembang api. Senyum merekah terpatri di kedua ujung bibirnya hingga membuat matanya menyipit. Raut bahagia dan bebas Gianna kembali terukir setelah beberapa bulan ini bersembunyi. Austin memandang Gianna dengan tajam. Melihat ekspresi Gianna membuat hatinya menghangat sekaligus teriris. Di satu sisi ia senang bisa melihat raut wajah bahagia itu lagi, disisi lain ia sedih karena tak bisa membuat wanitanya memiliki ekspresi itu lagi setiap harinya. ‘Apa yang sebenarnya kaupikirkan? Otakmu sudah mulai teracuni ucapan Benson dan Sean, Austin!’ Rancau batin Austin, membuat pria itu kembali memasang wajah dinginnya dan mengalihkan pandangan dari Gianna. “Sudah larut, ayo pulang!” Austin langsung saja menarik tangan Gianna dan membawa istrinya meninggalkan rooftop. Ia bahkan tidak bertanya apakah Gianna mau pulang saat itu juga atau tidak. Beruntung Gianna tak membantah meskipun sebenarnya ia masih ingin menyaksikan kemeriahan tahun baru. ***** to be continued *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN