Berkat beberapa jenis ancaman yang dilontarkan kedua orang tuanya, Austin tak lagi bisa menolak perjodohan itu. Dengan amat terpaksa, pria berkacamata itu mengikuti setiap proses persiapan pernikahan yang rencananya akan dilaksanakan satu bulan lagi. Prosesi pertunangan pun telah dilakukan secara internal yang hanya menghadirkan keluarga dan rekan dekat kedua belah pihak.
Sikap Austin tak bisa dibilang toleran. Sepanjang acara dia hanya menampilkan wajah datarnya dan tak sekalipun ia tersenyum meskipun beberapa kali ditegur oleh ibunya.
Tunangan Asutin, Sabrina sangat menantikan prosesi ini, namun begitu melihat respon dingin Austin, ia hanya bisa pasrah dan berharap pria itu segera mau membuka hati untuknya.
“Kakak kenapa tidak mau coba buka diri saja buat Sabrina?” Tanya Claire untuk kesekian kalinya. Adik Austin itu tak pernah puas dengan alasan yang diberikan oleh kakaknya.
Saat ini mereka tengah berada di kamar Austin di mansion Bergmann setelah acara pertunangan usai.
“Masalah perasaan tidak bisa dipaksakan, Claire.” Jawab Austin sambil melepas jasnya dan meletakkannya di sandaran sofa.
“Perasaan manusia itu bisa berubah-ubah, jadi jangan pernah bilang tidak, kak. Kakak belum mengenal Sabrina dengan dekat saja makanya belum bisa menyukainya.” Oceh Claire.
“Biarkan waktu saja yang menjawab, oke? Sekarang kau keluar! Kakak capek mau istirahat.”
Austin mendorong Claire keluar dari kamarnya dan mendapat balasan gerutuan kesal gadis delapan belas tahun itu. Setelah menutup pintu kamarnya, Austin berjalan ke pinggiran ranjang dan segera merebahkan tubuh bagian atasnya dengan kaki yang masih menggantung. Matanya memandang kosong kearah langit-langit selama beberapa saat sebelum kemudian ditimpa oleh lengan kanannya. Ia menghela nafasnya dengan dalam.
“Aku pasti akan membalas perbuatanmu.” Gumam Austin.
Lagi-lagi ia teringat akan masa lalu traumatis yang pernah dialaminya. Kalimat itu tanpa sadar selalu terucap di akhir hari menjelang tidurnya.
*****
Hari-hari selanjutnya menjadi semakin padat untuk Austin. Selain pekerjaannya yang dipenuhi dengan deadline, ia harus mau ikut mempersiapkan pernikahannya. Siapa lagi yang bisa membuatnya melakukan hal itu jika bukan nyonya besar Bergmann? Meskipun secara garis besar acara itu telah ditangani oleh wedding organizer yang disewa keluarganya, namun untuk beberapa hal ia masih harus mengurusnya sendiri bersama dengan Sabrina.
Jadwal pasangan itu hari ini adalah fitting gaun pengantin. Namun sayang, Austin terlambat satu jam untuk hadir di butik. Meskipun sebelumnya ia telah mengabari tunangannya bahwa ia akan terlambat, tetap saja Austin mendapat omelan dari ibunya yang menemani Sabrina.
Saat ini Sabrina tengah berada diruang ganti, sementara Austin dan ibunya sedang duduk di sofa yang berada di ruang tunggu.
Srreekkk
Gorden penutup ruang ganti terbuka dan menampailkan Sabrina dengan gaun putih panjang berbentuk A-line dengan tali spaghetti dan belahan d**a rendah dibagian atas, sedangkan bagian punggungnya juga bermodel backless. Batuan swarovski menghiasi dibeberapa bagian gaun membuatnya nampak glamor. Tak lupa pula veil dengan panjang sepunggung yang terpasang di kepala Sabrina menambah sempurna gaun yang dikenakannya itu. Pakaian itu memamerkan bahu dan leher jenjang pemakainya. Meskipun agak terbuka di bagian atasnya, namun terlihat cantik dan elegan saat dikenakan Sabrina.
“Bagaimana mom, Austin, bagus tidak?” Tanya Sabrina malu-malu.
“Bagus sekali sayang. Tapi apa bagian atasnya tidak terlalu terbuka?” Tanya Alina.
“Benarkah?” Sabrina memperhatikan d**a dan bahunya. “Menurutmu bagaimana, Austin?”
“Apa kau menyukai gaun ini?” Austin balik bertanya yang lagi-lagi dengan nada datarnya.
“Ya. Ini sangat cantik meskipun agak terbuka.” Sabrina menjawab dengan yakin dan senyuman yang tak lepas dari wajahnya.
“Yasudah, ambil yang ini saja. Lagipula kau sendiri yang akan memakainya. Selama kau menyukainya dan nyaman, komentar orang lain tak akan ada artinya.” Balas Austin seolah seadanya yang membuat ibunya merasa kesal, begitupula dengan Sabrina yang langsung kehilangan senyum di bibirnya.
“Kau bisa bicara dengan lebih sopan, kan?” Tegur Alani. “Ini pernikahan kalian, kau tidak bisa seenaknya begitu!”
“Mommy ingin aku hadir kesini dan sudah aku turuti. Aku sudah mencoba tuxedo yang akan kupakai, juga sudah memberikan pendapatku pada gaun Sabrina. Cukup, kan? Jangan terlalu berharap padaku mengenai pernikahan ini mom, Sab.” Balas Austin panjang. “Sudahlah, aku lelah dan ingin pulang sekarang. Besok aku ada meeting pagi sekali.”
Tanpa menghiraukan kekecewaan ibu dan tunangannya, Austin segera melenggang pergi meninggalkan butik. Kakinya melangkah dengan terburu-buru menuju mobilnya di parkiran. Setelah duduk dibalik kemudi, Austin segera memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tujuannya kali ini bukanlah mansion atau penthouse, melainkan club malam langganannya. Situasi yang dialaminya benar-benar membuat otaknya stress dan ia butuh melepaskannya.
“Whiskey neat!” Pesan Austin pada bartender.
Tak perlu menunggu waktu lama, minuman itu telah tersaji dihadapannya. Dengan sekali teguk, minuman beralkohol itu langsung tandas dan mulai membakar tenggorokannya. Merasa satu gelas tak cukup, pria itu kembali memesan minuman yang sama. Permintaan itu terus berulang hingga pada saat akan menenggak gelasnya yang kelima, tangan Austin dicekal oleh seseorang yang duduk disampingnya.
“Kau sudah mabuk, brother.” Ujar pria itu sambil merebut gelas Austin.
Austin yang kesal langsung memperhatikan orang disampingnya. “Kembalikan gelasnya padaku, Ben!”
Austin merebut kembali gelas whiskeynya dan langsung meminumnya hingga tandas, membuat Benson aistennya yang tadi sempat merebutnya hanya bisa berdecih.
“Kenapa kau minum sebanyak ini?” Tanya Benson.
“Apalagi masalahku akhir-akhir ini kalau bukan ini!” Jawab Austin sambil mengangkat tangan kirinya dan menampakkan cincin pertunangan di jari manisnya.
“Kalau saja kau mau menerimanya, mungkin semua akan lebih mudah.” Ujar Benson yang telah membawa segelas brandy ditangannya. Tak butuh waktu lama, ia pun langsung meneguk minuman itu dengan sekali tegukan. Pelipisnya mengkerut kala tenggorokannya terasa terbakar namun bibirnya mengeluarkan suara kepuasan.
“Hanya kau yang tahu bagaimana isi hatiku, Ben.” Balas Austin dengan menatap asistennya tajam.
“Jangan berkata seperti itu dengan keras, apalagi dengan tatapan seperti itu! Para gadis akan mengira kita gay.” Protes Benson yang dibalas kekehan Austin.
“Mungkin sebaiknya aku jadi gay saja supaya bisa membatalkan pernikahan ini.”
“Kau sudah gila bro!” Benson turun dari kursinya. “Ayo turun! Sudah ada beberapa gadis yang memperhatikan kita sejak tadi. Kau mau mulai bersenang-senang?”
Austin ikut turun dari kursinya, namun tubuhnya tak lagi bisa berdiri tegak akibat alcohol yang dikonsumsinya tadi.
“Tentu saja. Sudah sampai disini mana mungkin aku melewatkannya.”
Kedua pria itu langsung bergegas menuju lantai dansa. Tak berapa lama kemudian, beberapa gadis dengan pakaian terbuka ikut bergabung dan mereka mulai menikmati kerasnya musik yang dimainkan DJ.
Gerak tarian yang intim dan erotis seperti bukan lagi hal yang tabu untuk pengunjung club. Tak jarang pula tarian itu diselingi dengan make out ringan hingga panas yang akan berakhir di kamar hotel yang berada diatas club ini.
Austin memang tak ingin menjalin hubungan serius dengan wanita manapun, tapi bukan berarti kebutuhan seksualnya akan terbengkalai. Saat ia sedang menginginkannya, berburu di club malam dan membawa satu dua gadis ke kamar hotel sudah sering ia lakukan. Perilaku ini sudah berjalan sejak sepuluh tahun lalu. Awalnya ia hanya ingin melampiaskan rasa marah dihatinya, namun lama-kelamaan, kegiatan ini sudah menjadi bagian dari hidupnya yang semakin bebas.
*****
Menjelang akhir pekan, Austin kembali harus menuruti permintaan ibunya untuk menemani Sabrina membeli cincin untuk pernikahan mereka. Awalnya ia menolak, karena menurut kamusnya, cincin yang sekarang dikenakannya juga sudah cukup. Tapi tentu saja pendapat itu ditolak oleh ibunya.
Sampailah ia dan Sabrina didepan sebuah galeri perhiasan yang cukup terkenal dikalangan elit, Milost’ Jewelry. Sabrina tampak bergelayut di lengan Austin yang sedikitpun tak tanggapi oleh pria itu. Austin tidak menolak namun tidak juga menyambut gandengan tangan tunangannya.
Keduanya melangkah menuju ruang display galeri yang cukup ramai. Mereka berkeliling untuk mencari bagian cincin dipajang. Seorang pramuniaga terlihat menghampiri keduanya.
“Ada yang bisa saya bantu?” Tanya pramuniaga itu yang tak lain adalah Zoey.
“Kami ingin mencari cincin pernikahan.” Jawab Sabrina dengan manis.
Zoey mengantarkan pasangan itu menuju tempat cincin-cincin dipajang. Selama kedua pelanggannya itu memilih-milih, Zoey juga ikut menjelaskan mengenai spesifikasi perhiasan tersebut. Namun, belum berapa lama gadis itu merasa perutnya tidak enak. Ia ingin meminta bantuan rekannya yang lain untuk mengisi posisinya, namun rekannya tak ada yang kosong. Disaat sudah benar-benar tidak bisa menahan sakit diperutnya, ia melihat Gianna sedang berjalan melewati pintu ruang display dan ia segera memanggilnya. Gianna ingin menolak menggantikan Zoey, namun melihat rekannya sudah sangat kesakitan ia pun tidak tega, akhirnya ia mengambil alih posisi Zoey melayani Austin dan Sabrina.
“Maaf rekan saya sedang tidak enak badan, apakah tidak apa-apa jika saya yang menggantikan?” Tanya Gianna sopan.
“Ya. Tidak apa-apa.” Jawab Sabrina datar. “Coba tolong ambilkan cincin yang itu!”
Gianna mengambilkan cincin yang ditunjuk oleh Sabrina dan memberikannya.
“Sayang, yang ini bagaimana? Bagus tidak?” Tanya Sabrina sambil memperlihatkan cincinnya pada Austin. Namun pria itu hanya berdehem tanpa memperhatikan dirinya maupun cincin yang di bawanya.
Sebenarnya, sejak Gianna menggantikan Zoey, Austin sudah tidak lagi memperhatikan apapun disekitarnya. Atensinya terus tertuju pada gadis itu namun dengan pandangan yang tak dapat diartikan. Irisnya terus bergerak seiring dengan pergerakan tubuh Gianna. Raut wajah Austin juga semakin mengeras, begitupula dengan jari-jarinya yang sudah terkepal hingga memutih.
Sabrina yang merasa aneh dengan sikap Austin pun beralih memperhatikan tunangannya itu. Saat ia menyadari Austin terus memperhatikan Gianna, mata Sabrina berpindah ikut memperhatikan gadis itu.
Sayangnya, tak ada respon apapun dari Gianna. Gadis itu masih fokus melayani pelanggannya, bahkan tak sedikitpun memperhatikan Austin. Hal ini membuat Sabrina merasa kesal.
“Nona, apa kau mengenal tunanganku?” Tanya Sabrina terang-terangan yang membuat Gianna langsung memperhatikan pasangan itu.
Saat iris hazel Gianna bertemu tatap dengan iris biru Austin, gadis itu malah menggeleng pelan dengan pandangan yang tidak mengenal.
“Kau yakin?” Tanya Sabrina lagi.
“Iya nona. Saya baru pertama kali bertemu dengan anda dan tunangan anda.” Jawab Gianna sopan.
“Apa maksudmu bertanya seperti itu padanya, Sab?” Austin bertanya pada Sabrina dengan tajam.
“Kau terus saja memperhatikannya sejak tadi Austin. Jadi kukira kalian saling kenal, tapi ternyata tidak. Tolong jaga pandanganmu, kau itu tunanganku!” Jelas Sabrina.
Saat mendengar nama Austin disebut, Gianna kembali memperhatikan pria dihadapannya. Ia menelisik wajah itu yang menurutnya seperti tidak asing, namun otaknya tak bisa mengingat apapun.
“Jangan menuduhku sembarangan!” Seru Austin dengan nada agak meninggi. “Ayo pergi saja dari sini! Kita bisa membeli cincin kapan-kapan.”
Austin segera menarik lengan Sabrina dan membawa tunangannya keluar galeri. Sementara Gianna masih berdiam diri ditempatnya dan terus mengingat-ingat wajah itu. Beberapa saat kemudian, ia tiba-tiba saja terkejut seolah baru mendapatkan informasi sangat penting dalam hidupnya.
‘Ya Tuhan, mungkinkah dia Austin yang kukenal dulu? Tapi dia sangat berbeda dari Austin yang kuingat. Austin yang kukenal adalah cupu dan kutu buku dengan postur tubuh kurus, sangat berbeda dengan yang baru kutemui. Mungkinkah mereka orang yang sama?’ Batin Gianna.
***** to be continued *****