Beberapa minggu telah berlalu dan Gianna telah mulai terbiasa dengan kehidupan barunya. Namun, nasib buruknya belum berhenti. Saat menonton berita di TV, ia cukup terkejut saat tahu sepupunya, Gizca tengah menghilang. Dan Gianna tahu pasti siapa pelaku dibalik menghilangnya gadis itu. Beruntung, karena beberapa hari yang lalu ia memberikan hadiah berupa bross yang dipasangi GPS pada Gizca, sehingga pencarian terhadap gadis itu bisa sedikit lebih cepat berkat Gianna.
Sayangnya, dalam misi penyelamatan itu Gianna harus rela kehilangan adiknya Giovanni yang terkena tembakan polisi. Meskipun saudara kembar itu tak pernah akrab, tetap saja Gianna merasa sangat kehilangan. Dan karena hanya dia satu-satunya keluarga Giovanni yang tersisa, maka Gianna jugalah yang mengurus proses pemakaman adiknya.
Rencananya Giovanni akan disemayamkan selama tiga hari sebelum dikuburkan. Dan selama waktu itu, ia hanya ditemani oleh Rhea. Sedangkan Gizca masih dalam proses pemulihan pasca trauma akibat perbuatan Giovanni yang bahkan diluar nalar.
Dukanya bertambah saat kepolisian mengabarkan bahwa ibunya, Bianca juga telah ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa. Akhirnya ia pun mengambil jenazah ibunya dan menguburkannya bersama dengan Giovanni.
Kehilangan dua anggota keluarga terdekatnya dalam waktu yang hampir bersamaan membuat Gianna menjadi terpuruk. Ia hanya bisa menerima takdir buruk yang menurutnya adalah karma karena perbuatan buruk mereka sejak dulu. Namun ia masih bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk berubah, meskipun sangat sulit.
“Kau yakin sudah akan kembali bekerja?” Tanya Rhea saat ia melihat Gianna dengan wajah lesunya tengah bersiap-siap. Itu hanyalah satu hari sejak prosesi penguburan ibu dan adiknya.
“Aku tidak bisa terus bersedih, Rhe. Hidupku masih harus tetap berjalan.” Jawab Gianna tak bersemangat. Ia segera meraih tas selempangnya.
“Yasudah. Jangan terlalu memaksakan kalau memang sulit! Gajiku cukup untuk kita bertiga.” Saran Rhea.
Gianna mendekati Glenn yang sedang menikmati sarapan di kursi makannya.
“Aunty pergi dulu ya!” Pamit Gianna sambil mencium pipi batita itu. “Aku tidak ingin membebanimu, Rhe. Aku berangkat ya!”
Perjalanan dari apartemennya menuju galeri memakan waktu sekitar 30 menit. Gianna menggunakan subway yang sebelumnya bahkan tak pernah ia lirik. Gadis dua puluh delapan tahun itu menggunakan topi hoodie dan juga kacamata bacanya, menutupi identitasnya karena kemanapun ia pergi orang-orang selalu mengenalinya dan mulai mencemoohnya. Identitasnya sebagai anak konglomerat dari kalangan old money membuat semua orang mengenali wajahnya dari media.
Namun penyamaran itu seolah tak terlalu berpengaruh, karena masih ada saja yang bisa mengenalinya. Dan bisik-bisik cemooh itu kembali ia dengar.
“Jangan dekat-dekat dengan dia. Adiknya saja psikopat, siapa tahu dia juga sama.”
“Hati-hati kedengaran, bisa-bisa kau diincarnya. Kalian tahu kan dia suka merundung orang lain?”
“Biar saja kedengaran! Lagipula dia sudah tidak punya backingan. Sepupunya saja membuangnya!”
“Tapi bisa saja dia jadi semakin ganas dan menggila.”
Suara-suara itu semakin mengganggu telinga Gianna, namun ia tetap berusaha mengabaikannya seolah tak mendengar apapun. Untung saja ia telah sampai di stasiun yang dituju dan segera meninggalkan kereta. Dengan agak terburu-buru, Gianna berjalan menuju galeri karena jam kerjanya sebentar lagi akan dimulai.
Waktu terus berlalu. Cibiran terus Gianna terima dari setiap orang yang ditemuinya, tak terkecuali para rekan kerjanya. Ia seperti sedang dikucilkan karena tak ada seorang pun yang mau mendekat padanya. Bahkan makan siang pun ia lewati seorang diri.
Saat hendak kembali ke galeri, tanpa sengaja ia bertemu dengan segerombolan wanita berpenampilan glamor yang sesungguhnya tak lagi asing untuknya. Mereka memperhatikan penampilan Gianna yang sangat jauh berbeda. Beberapa terlihat mencebik, memandang sinis, dan bahkan menatap jijik.
“Girls, tolong panggilkan departemen kebersihan kota! Ada sampah disini!” Ujar seorang gadis blonde yang membawa tas Gucci ditangannya dan disambut tawa teman-temannya. Ia adalah Andrea Hathew, teman sosialita Gianna.
“Apa departemen kebersihan saja cukup? Sepertinya kita juga butuh NASA untuk membuang sampah ini keluar angkasa.” Tambah gadis berkulit tan bernama Ruby Blanc.
“Kalian jangan berkata kasar seperti itu dong!” Pinta seorang lainnya, Renata Winch. “Dia jadi menangis, kan?” Tambahnya dengan nada sangat mengejek.
Gianna memang tengah menahan amarahnya bahkan hingga berkaca-kaca melihat teman-teman yang dulu ia kira adalah sahabatnya, namun kini malah menjadi seperti musuh untuknya.
“Eh, bukankah itu seragam Milost’? Kebetulan sekali kami mau kesana. Kau harus melayani kami!” Pinta Kehlani Stone dengan paksa.
“Aku bukan pramuniaga. Minggir kalian!” Seru Gianna sambil buru-buru masuk ke dalam bangunan galeri.
Ia menghapus air mata yang jatuh ke pipinya dan segera menuju kubikelnya. Saat sedang bersiap-siap untuk melanjutkan pekerjaan, seseorang mengetuk mejanya. Orang itu adalah bosnya yang biasa dipanggil miss Adhara.
“Ada apa miss?” Tanya Gianna dengan sopan.
“Kau kedepan! Pelanggan hanya ingin dilayani olehmu. Jangan buat kesalahan karena mereka adalah pelanggan VVIP!” Perintah Adhara.
“Tapi melayani pembeli bukan job desk saya, miss.” Protes Gianna.
“Lakukan atau kau kupecat!” Seru Adhara tak ingin dibantah. “Sudah untung kau kuterima disini, jangan banyak tingkah!”
“Baik, miss.” Balas Gianna lirih. Tangannya menggenggam dengan erat hingga buku-buku tangannya memutih.
Sudah jelas sekali siapa yang memintanya untuk menjadi pelayan mereka. Meskipun terpaksa Gianna harus menuruti perintah bos. Jika tidak maka ia tak akan bisa menghidupi dirinya sendiri.
“Selamat siang, selamat datang di Milost’ Jewelry. Apa ada yang anda cari?” Sapa Gianna dengan menunduk tanpa memperhatikan pelanggan yang tak lain adalah teman-temannya.
“Eh, sampahnya sudah datang.” Ujar Renata dengan sok manis.
“Ada barang apa yang bagus hari ini?” Tanya Andrea sambil memperhatikan meja display.
Gianna segera menuju box display yang berada ditengah galeri. “Ini adalah produk terbaru kami. Desain dibuat secara eksklusif oleh pemilik kami miss Adhara dan dibuat dengan bahan-bahan berkualitas tinggi, emas putih dengan kadar 23 karat dan batu zamrud Zambia yang langka.” Jelas Gianna panjang lebar dan serius.
“Kau yakin ini zamrud Zambia asli?” Tanya Kehlani dengan mengejek.
“Iya.” Jawab Gianna singkat. “Apa anda ingin melihatnya?”
Gianna bersiap untuk membuka box display dan mengambilkan perhiasan itu untuk dilihat teman-temannya, namun mereka mencegah.
“Jangan diambil!” Seru Andrea. “Sayang kan zamrudnya ikutan kotor kalau sampah yang mengambil.”
Teman-teman Andrea ikut tertawa. Bahkan pengunjung dan karyawan lainnya yang juga ada diruangan itu pun ikut menertawakan Gianna. Namun gadis itu tetap berusaha bertahan dan tak mengeluarkan reaksi apapun.
“Kenapa kau diam saja? Biasanya kan kau Gianna STILLER yang paling pandai membalas ucapan orang lain!” Tanya Ruby dengan menekan jelas nama belakang Gianna.
“Ruby sayang, mana berani dia membalas kita. Satu backingannya kan sudah dipenjara dan satunya lagi sudah mati. Ah iya, adiknya yang psikopat juga sudah mati, jadi tidak akan ada yang membantunya.” Balas Kehlani.
“Jangan lupa, sepupunya juga sudah tak peduli lagi padanya. Lagipula untuk apa peduli kalau keluarga sampah ini yang selalu mencari masalah pada miss Stiller yang sesungguhnya.” Tambah Andrea dengan sinis.
Gianna menggenggam kedua tangannya dan mengeraskan rahangnya. Rasanya ia ingin menangis, namun ia tak ingin membuat orang-orang itu merasa menang. Tentu ia sangat paham mengapa teman-temannya itu berbuat demikian, karena dulunya ia juga sama seperti itu. Hanya ingin melihat reaksi tertekan dan kekalahan lawan bicaranya.
“Apa anda akan membelinya? Saya akan meminta pegawai lainnya jika anda tidak ingin saya yang mengambilkan untuk anda.” Tanya Gianna setelah ia bisa menguasai dirinya lagi.
“Kalian punya berapa set yang seperti ini?” Tanya Renata. “Kami ingin empat set yang sama.”
“Awalnya kami ingin membeli lima, tapi teman kami yang satunya sudah jadi sampah.” Ujar Ruby sambil terkekeh.
“Saya akan memanggilkan pegawai lainnya, permisi.”
Gianna segera pergi dan menyampaikan permintaan itu pada rekannya.
Matanya sudah memanas dan ia tak lagi bisa menahan bulir air itu dari kelopak matanya, sehingga ia segera berlari kearah belakang gedung. Ia berjongkok dan membenamkan wajahnya kedalam telapak tangannya. Tangisnya pecah dan ia terus sesenggukan meratapi nasibnya.
“Well, well, siapa ini disini? Bukankah dia jaminan kita?” Suara berat seorang pria menghentikan tangis Gianna.
Gadis itu mengangkat kepalanya dan nampaklah wajah memerah serta bekas air mata dipipinya. Mantanya menyipit, menyesuaikan dengan sinar matahari yang terasa menyilaukan. Saat itu ia menyadari bahwa ada beberapa orang atau lebih tepatnya preman telah mengelilinginya. Rasa takut segera menghampiri dan ia segera menghapus air mata di wajahnya. Ia pun segera berdiri dengan agak kesulitan karena kakinya yang mengalami kesemutan akibat terlalu lama ditekuk.
“Siapa kalian?” Tanya Gianna dengan waspada.
“Apa kabar miss Stiller? Ah, sepertinya buruk.” Preman pria itu bertanya dan dijawab dengan sendirinya.
“Apa mau kalian?”
Gianna memundurkan posisinya satu langkah, namun preman bernama Bryce itu malah memajukan langkahnya mendekat pada Gianna.
Bryce menatap Gianna dari atas kebawah dan kembali lagi keatas dan berhenti pada bagian d**a Gianna yang sintal. Kedua rekannya ikut memperhatikan dan menampilkan senyum miring di wajahnya.
“Lumayan. Bos pasti senang jika kita membawanya.” Ujar Bryce tanpa mengalihkan pandangannya.
Gianna yang menyadari arah pandangan pria itu segera menutupi dadanya dengan menyilangkan kedua tangannya.
“Aku tidak tahu siapa kalian. Jangan ganggu aku!” Seru Gianna yang malah mendapat kekehan tiga preman didepannya.
“Kau memang tidak mengenal kami, tapi ibumu sudah menyerahkanmu sebagai jaminan pada kami.” Jelas Bryce.
“Apa maksudmu? Aku tidak mengerti.”
Bryce berjalan memutari Gianna sambil terus memperhatikan bentuk tubuhnya hingga membuat gadis itu bergidik ngeri.
“Kau tahu, miss Stiller? Ibumu memiliki hutang 2 juta dollar pada bos kami. Sayangnya suaminya bangkrut dan dia tak bisa melunasinya. Jadi dia kabur meninggalkan kalian. Tapi kami tidak mau tahu dan dia tetap harus membayarnya, sehingga kami terus mencarinya sejak dia menghilang. Saat dia melarikan diri dari kami, dia malah jatuh ke jurang dan mati. Jadi, sesuai perjanjian awal, kami akan meminta keluarganya untuk melunasinya. Hanya kau satu-satunya keluarga yang tersisa dan sayangnya kau juga tidak akan bisa melunasi hutang itu. Apa boleh buat? Kau harus bersedia kami serahkan pada bos dan biarkan dia yang menentukan hukumannya. Kalau moodnya sedang baik, mungkin kau akan bisa menjadi jalangnya. Tapi kalau kau sedang apes, mungkin kau akan dijual di pasar gelap.” Jelas Bryce panjang.
“Bohong! Untuk apa ibuku berhutang? Dia punya uang yang berlebih saat hidupnya.” Sanggah Gianna.
“Kau benar-benar tidak mengenal ibumu, manis.” Seorang preman lainnya membalas.
“Ibumu itu pecandu judi. Namanya sudah sangat terkenal didunia perjudian Las Vegas.” Tambah Bryce.
“Tidak. Tidak mungkin ibuku seperti itu. Dan kalaupun benar, kalian tidak bisa memaksaku untuk membayarnya.”
“Kami punya surat perjanjian hutang ibumu, nona. Dan itu legal.”
“Karena ini pertemuan pertama kita, kami akan memberikan keringanan untukmu. Jika sampai minggu depan kau belum bisa membayar hutang ibumu, kami akan menyeretmu pada bos!” Bryce memberi peringatan kemudian segera mengajak kedua rekannya pergi.
Gianna meluruh ke lantai dan pandangannya pun kosong. Beban ini terasa begitu berat untuk dipikul seorang gadis manja sepertinya. Ia dipaksa untuk masuk kedalam berat dan gelapnya kehidupan tanpa ada ancang-ancang, membuatnya hilang arah dan ingin rasanya menyerah akan hidupnya.
***** to be continued *****