02 Austin Keoni Bergmann

1413 Kata
Seperti hari-hari biasanya, kegiatan Austin sangat padat hari ini. Sudah lima tahun terakhir sejak bisnisnya mulai menampakkan hasil yang stabil. Austin memang terlahir dari keluarga sendok emas dan keturunan keluarga Bergmann yang sangat disegani dalam dunia bisnis. Namun ia memilih membuat jalur karirnya sendiri dengan mendirikan sebuah perusahaan kecil yang diberi nama Keoni Property, mengambil dari nama tengahnya. Bisnis ini sudah ia mulai sejak masih duduk dibangku kuliah tujuh tahun lalu, jadi tidak aneh jika diusianya yang baru menginjak dua puluh delapan tahun, namanya sudah bisa bersanding dengan legenda bisnis lainnya. Meskipun tentu saja privileged sebagai seorang Bergmann juga sangat berpengaruh. Ddrrttt ddrrttt ddrrttt Ponsel diatas meja kerja Austin bergetar ditengah kesibukannya membuat desain Villa yang sedang dikejar deadline. Terlihat nama ibunya di layar ponsel sehingga ia segera menjawab panggilan telephone tersebut. “Ya mom, ada apa?” Sapa Austin tenang. ‘Apa nanti malam kau sibuk, son?’ Tanya ibunya yang bernama Alani Bergmann tanpa basa-basi. Ia bahkan tak menanyakan kabar sang anak padahal sudah cukup lama sejak terakhir kali mereka berbincang. “Aku ada deadline mom, mungkin akan lembur juga.” Jawab Austin jujur. ‘Tunda dulu lemburmu, kau harus pulang ke rumah malam ini!’ Pinta Alani. “Harus ya? Aku benar-benar sibuk mom. Aku akan pulang saat weekend saja.” Tawar pria berkacamata itu. ‘Mommy tidak mau tahu! Turuti kata mommy atau mommy akan meminta daddy untuk membekukan semua asetmu!’ Setelah mengatakan ancamannya yang bisa membuat Austin mati kutu, sambungan telephone diputus secara sepihak. Ia hanya bisa mendengus kesal atas permintaan itu. Sejak kuliah Austin memang sudah tak lagi tinggal di mansion Bergmann. Awalnya pria bermata biru gelap itu tinggal di asrama kampus, dan setelah bisnis yang dirintisnya mulai membuahkan hasil, ia mulai membeli apartemennya sendiri. Kini Austin sudah memiliki sebuah penthouse di daerah Riverdale, The Bronx. ***** Waktu telah menunjukkan pukul 6 sore dan ini sudah waktunya jam pulang kantor. Awalnya Austin ingin mengabaikan perintah sang nyonya Bergmann, namun akhirnya ia memaksakan diri untuk menurutinya meskipun dengan perasaan dongkol. Setelah membereskan berkas-berkas di mejanya, ia segera meninggalkan kantor. Dengan menggunakan Mercedes Benz tipe e300 coupe yang dipacunya dengan kecepatan sedang, Austin bergerak menuju mansion Bergmann yang membutuhkan waktu 45 menit. Austin disambut oleh pelayan mansion setelah ia keluar dari mobilnya yang terparkir di garasi. Langkah kakinya terus menuju kedalam rumah dan orang pertama yang ditemuinya adalah sang adik, Clarisse atau biasa dipanggil Claire. Gadis yang masih seorang senior di sekolah menengahnya itu terlihat senang sekali begitu melihat kakaknya pulang. Tak ayal ia langsung saja bergelayut manja di lengan Austin dan terus mengikuti kakaknya ke lantai atas menuju kamar lama Austin. “Kakak siap-siap ya! Bakal ada berita besar.” Ujar Claire bersemangat. “Memangnya ada apa?” Tanya Austin sambil melepas dasi dari ujung lehernya. “Kalau aku cerita sekarang, tidak akan jadi kejutan lagi nanti.” Jawab Claire dengan senyum usilnya. “No hint?” Austin tidak ingin menyerah. “Kakak pakai baju yang rapi saja dan dandan yang tampan, supaya tidak malu-maluin!" Perintah Claire. “Kita akan ada makan malam bersama beberapa tamu nanti.” Tambahnya. “Memangnya kapan kakakmu ini terlihat tidak tampan, huh?” Tanya Austin sembari menyugar rambutnya dan berlagak sok keren, meskipun sebenarnya dia memang sangat tampan. “Sepertinya seseorang sudah lupa dengan penampilannya sepuluh tahun yang lalu.” Sindir Claire yang langsung membuat raut wajah Austin menjadi kecut. Tentu ia tak akan pernah lupa. Karena penampilannya dulu yang sangat norak membuat dia harus merasakan pahitnya sakit hati dari cemoohan dan ejekan teman-temannya. Tapi itu dulu. Penampilan Austin terus berevolusi sejak saat itu, hingga terciptalah Austin sekarang yang begitu tampan dan mempesona. Kulit yang bersih tanpa bercak dan cenderung mulus dengan warna sedikit tan, badan kekar yang dilengkapi dengan abs diperutnya, garis wajah yang tegas, rahang yang ditumbuhi bulu-bulu halus yang tipis, rambut coklat kemerahan yang selalu tertata rapi, dan jangan lupakan mata tajam dengan iris berwarna biru yang bisa menghipnotis siapapun saat ditatap olehnya. Meskipun ia mengenakan kacamata, namun itu tak bisa menutupi mata indahnya yang bisa mengintimidasi. ***** Setelah mengganti pakaiannya dan terlihat rapi, Austin segera turun ke lantai dasar dan menemui kedua orang tuanya yang berada di ruang makan. Mereka juga telah terlihat rapi dengan setelan semi-formal, begitupula dengan Claire yang terlihat cantik dengan dress berwarna peach selutut. Ditengah-tengah mereka juga telah hadir tamu yang tadi disebut oleh Claire. Sepasang paruh baya dan seorang gadis berusia dua puluhan akhir. Mereka adalah keluarga van Djik yang sudah cukup akrab dengan keluarga Bergmann, pria paruh baya yang bernama Aldert, wanita paruh baya bernama Cornelia, dan wanita muda yang merupakan anak dari keduanya dan bernama Sabrina. Dengan cuek dan seolah tidak peduli, Austin langsung ikut bergabung dan duduk di kursi yang tersedia. Ia bahkan tak menyapa siapapun di ruangan itu. “Itu dia anaknya sudah turun.” Ujar Henry, ayah Austin yang duduk di kursi ujung meja. “Ada tamu tuh disapa, son!” Tegur Alani sang ibu. Austin hanya memperhatikan satu-persatu tamu itu dan mengangguk, kemudian kembali fokus pada makanan di hadapannya dan mulai mengisi perutnya yang keroncongan. “Maaf ya, anak saya sedang banyak pekerjaan di kantor, jadi moodnya agak buruk.” Jelas Alani sambil mencubit paha Austin dari bawah meja, membuat anaknya itu meringis kesakitan meskipun tidak mengeluarkan suara. “Tidak apa-apa. Sabrina juga juga seperti itu kalau sedang terlalu sibuk.” Balas Cornelia. “Kita selesaikan makan malam dulu, nanti baru bicarakan permasalahan itu.” Ujar Henry dengan santai dan disetujui semua orang. Mereka makan malam dalam diam dan hanya suara denting sendok dan garpu yang menyentuh piring sesekali terdengar. ***** Saat ini mereka telah berada diruang keluarga. Austin duduk diantara Claire dan ibunya, sementara ayahnya dan Aldert duduk saling berhadapan di sofa single, dan Cornelia berbagi sofa dengan Sabrina di sebelah Alani. “Austin, kau ingat dengan Sabrina kan?” Tanya Henry dengan tatapan tajam. Austin memperhatikan tamu wanita yang berusia dua puluhan sekilas, kemudian kembali menatap ayahnya. “Dia Sabrina, kan?” Tanya Austin datar. “Ya benar. Syukurlah kau masih ingat.” Jawab Henry. “Jadi begini, kalian ingat kan saat kecil dulu sudah saling dijodohkan?” “Tapi dad!” Protes Austin segera. “Kalian juga harusnya ingat kalau kami sudah memberi kelonggaran pada kalian untuk mencari jodoh masing-masing. Namun, jika usia kalian sudah mencapai dua puluh tujuh tahun dan belum memiliki pasangan, kalian harus mau untuk melanjutkan perjodohan ini!” Tegas Henry. “Sabrina bulan lalu baru berusia dua puluh tujuh tahun dan dia juga masih belum menemukan pasangannya.” Tambah Aldert. “Om dengar kau juga masih single, Austin. Jadi tidak ada masalah kan kalau kita meneruskan perjanjian ini?” “Bagaimana? Apa kalian setuju?” Tanya Alani sambil memegang tangan Austin dan mata yang memandang Sabrina. Sabrina, gadis cantik berdarah Belanda itu dengan malu-malu mengangkat kepalanya dan memperhatikan Austin yang juga sedang memperhatikannya. Pandangan mata Sabrina menyiratkan rasa kagum sementara Austin memberikan tatapan datar dan dinginnya. Setelah beberapa saat saling berpandangan, mereka akhirnya mengalihkan perhatiannya pada para orang tua yang masih menunggu jawaban. “Sabrina setuju.” “Aku menolak!” Ujar keduanya bersamaan. Jawaban yang saling bertolak belakang itu membuat semua orang bingung. Sementara Austin malah menatap tajam Sabrina dengan pandangan yang mengintimidasi, membuat nyali gadis itu menciut. “Kau tidak punya alasan untuk menolak, Austin!” Seru Henry tidak menerima penolakan. “Aku bisa mencari pasangan hidupku sendiri, dad! Lagipula aku masih sangat muda. Aku baru dua puluh delapan tahun dan masih sangat banyak pria single diluaran sana yang seumuran denganku dan belum memikirkan untuk menikah!” Jelas Austin. “Usiamu sudah matang, son. Apalagi kalian dulu juga sama-sama setuju kan dengan batas waktu yang sudah kami tentukan?” Tanya Alani. “Aku tidak mau! Sudah itu saja. Permisi!” Austin langsung berdiri dan berjalan keluar meninggalkan mansion. Claire ikut menyusul kakaknya keluar setelah meminta izin pada orang tuanya. Gadis delapan belas tahun itu langsung saja masuk dan duduk di kursi penumpang mobil Austin. “Kenapa kau disini?” Tanya Austin. “Turunlah! Jangan memaksaku untuk menerima perjodohan konyol ini!” “Aku tidak akan mengatakan apa-apa. Aku hanya merindukanmu. Boleh kan malam ini aku menginap di tempat kakak?” Tanya Claire dengan puppy eyesnya, membuat Austin tak bisa menolak. Pria itu segera menginjak pedal gas dan pergi dari kawasan mansion mewah keluarganya. Selama perjalanan, ia berbincang ringan dengan adiknya. “Kenapa kakak menolak perjodohannya? Kak Sabrina baik loh kak. Cantik dan sukses lagi!” Ujar Claire tiba-tiba. “Sudah kubilang, jangan memaksaku dan membuatku berubah pikiran!” Ketus Austin yang langsung kesal. “Apa masih karena dia, kakak tidak mau menjalin hubungan dengan siapapun?” Tanya Claire dengan hati-hati. “Siapa maksudmu?” Austin balik bertanya. “Cinta pertama kakak.” Jawab Claire dengan mencicit. “Jangan pernah menyebutkan tentang dia lagi! Kau tahu aku sangat membencinya.” Ujar Austin dengan nada memerintah. “Lupakan dia kak! Jangan membencinya ataupun mengingatnya. Dia tidak pantas bahkan hanya untuk kakak ingat.” Balas Claire tajam. “Diamlah Claire! Atau kakak akan marah padamu.” Ancam Austin. “Aku sayang kakak, makanya aku ingin yang terbaik untukmu.” Gerutu Claire. Rencana awalnya Austin ingin pergi ke club malam untuk menjernihkan pikirannya. Namun karena Claire sedang bersama dengannya, maka niat itu harus dibatalkan. Tidak mungkin ia mengajak anak berusia delapan belas tahun ke club. Akhirnya mereka pun langsung menuju penthouse Austin dan menghabiskan malam dengan sekedar menonton film bersama seperti kebiasaan mereka sejak kecil. ***** to be continued *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN