Lupa

1734 Kata

"Arum!" Sentak Megan memegang bahu Arum. Pagi ini dan hingga saat ini mereka di kantin Arum tetap saja diam seakan jiwanya berkelana entah kemana. Arum mengerjap-erjapkan matanya menoleh pada Megan disampingnya dan Mirah duduk didepannya yang terlihat khawatir. "Kamu nggak apapa, Rum? Kamu sakit?" Tanya Mirah berdiri memegang kening Arum dan sebelah tangannya lagi ia letakkan pada kening Megan yang lebar. Megan menepis tangan Mirah sambil mendumel, kenapa mesti keningnya? Kenapa bukan kening Mirah sendiri? Apa karena kening Megan yang cukup lebar hingga Mirah leluasa menyentuhnya? "Kok kening kamu makin lebar?" Tanya Mirah reflek membuat Megan memegang keningnya "Enak aja!" Sentak Megan tak terima, kalau keningnya makin lebar bisa gawat, ibaratnya bukan cuma lapangan bola lagi tapi dit

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN