I Want You
"Siena?"
Perempuan yang dipanggil itu hanya menjwan dengan sebuah gumaman. Saat ini posisinya sedang duduk di depan cermin, menatap wajahnya yang polos tanpa meninggalkan kesan cantik alami pada dirinya.
Farel. Laki-laki baru saja keluar dari kamar mandi, dia masih menggunakan jubah mandinya meninggalkan aroma sabun yang menyuruak hampir ke seluruh ruangan. Membuat Siena merasa nyaman. Jika dia bisa katakan ini adalah wangi paling disukainya. Aroma tubuh yang khas keluar dari laki-laki yang dia kagumi.
Saat Siena memikirkan tentang Farel, tangan dingin laki-laki itu menyentuh pipinya. Dia mengusap lembut, sedikit menekan tanpa menyakitinya. Terasa dia sedang membungkuk lalu detik berikutnya Siena harus menelengkan leher, memberikan akses pada Farel untuk bisa meninggalkan jejak cintanya di sana.
Tidak cukup sampai di situ, Farel kemudian memutar kursi yang digunakan Siena hingga mereka bisa saling tatap.
Siena menemukan manik hitam milik Farel jatuh tepat padanya. Bola mata yang indah, jernih dan seperti tanpa cela. Laksana mutiara hitam yang paling mengagumkan. Siena tenggelam dalam tatapan yang memabukkan itu. Hingga tidak menyadari sejak kapan bibir mereka telah berpagut.
Siena merasa terisap dalam gelombang cinta yang begitu kuat. Tidak kuasa dia menolak apalagi mengabaikan. Rengkuhan kuat jemarinya di jubah mandi Farel menjadi bukti dia terlalu lemah menahan godaan ini.
Rasanya ....
Manis. Hangat dan lembut. Seperti sesendok es krim vanila yang meleleh di mulut di musim panas. Bahkan napas habis pun delusi tentang rasa manis itu membuat Siena abai.
"Farel ...."
"Ya, Siena?"
Kedua suara itu telah sama-sama berat dibuai gelombang asmara yang begitu besar. Setiap inchi dari tubuh Siena adalah milik Farel malam ini dan selamanya.
Setelah dia jelajahi dan basahi dengan kecupan cintanya, kembali mereka berbagi rasa yang sama dari mulut. Semakin dalam semakin memabukkan. Entah sudah berapa kali Siena meminta waktu untuk meraup udara, tapi hanya beberapa detik diberikan sisanya telah direbut lagi oleh Farel.
"Farel ... Farel ...." Siena telah merintih. Tidak sanggup lagi. Tulang dalam kakinya seakan telah dicabut sehingga dia tidak bisa menyangga tubuhnya lagi. Tenaganya telah dihabiskan pula untuk membalas sentuhan yang memabukkan itu.
Farel mengangkatnya, membawa Siena pada tempat yang lebih nyaman. Dia dibaringkan dengan penuh kasih sayang.
Farel telah menyerahkan diri sepenuhnya pada Siena. Tidak ada rasa malu ketika dia bagai bayi baru lahir setelah meloloskan jubah mandinya di depan Siena.
"I want you ...," bisiknya. Dia tahu Siena tidak akan memberikan jawaban yang lain.
Cinta yang besar, hubungan mereka yang suci membuat Siena dengan mudah membuka pintu kebahagiaan bagi Farel. Dalam sekejap mata rasa canggung dan menyakitkan itu telah berubah menjadi kenikmatan tiada tara.
Farel membuatnya berayun di antara jutaan kelopak bunga. Kupu-kupu beterbangan. Harum semerbak tersebar. Siena bagai pengembara kecil yang diberikan secawan madu.
Dia berlari di pinggir pantai, mencelupkan tubuh dalam gelombang lautan yang membuat tubuhnya terombang-ambing, perlahan perlahan lalu terbawa kian cepat.
Ini memabukkan sekaligus membawanya pada perasaan menginginkan lagi. Sebuah candu yang hanya pernah dia dapat dan harapkan dari Farel seorang.
Farel melepaskan semua hasratnya. Dia terjebak dalam dahaga yang tidak berkesudahan. Seperti berlari di padang pasir, tubuhnya berpeluh hebat. Dia seperti mahluk kecil yang membutuhkan pertolongan. Tidak asa nama yang dia sebut selain wanita yang berada dalam kuasanya saat ini.
"Siena ... Siena ...." Dia mengerang ketika tubuhnya tidak bisa dikendalikan. Bagai berada dalam pacuan kuda, dia bergerak cepat seakan tidak ingin dikalahkan lawan. Hingga bagian akhir, benih yang dimilikinya telah menyemai di dalam tubuh Siena.
Farel terkulai. Dia berbaring dengan memberikan lengannya untuk Siena bersandar.
Siena masih memberikan sebuah bonus kecil. Pagutan di bibir mereka yang berirama pelan dan tenang. Biarkan ... biarkan mereka terus memiliki dan mengingat rasa yang sama malam ini. Abaikan saja tubuh yang lelah rasa sakit yang tersisa. Hingga tidak ada kapok, mereka kembali dibuai dalam gelombang cinta.
Farel menarik Siena, membuatnya duduk saling bertatapan.
"Kamu menyukainya?"
Siena hanya melingkarkan tangan di leher Farel. Tidak sanggup bicara dia hanya menunduk. Menyembunyikan wajahnya yang mungkin sudah sangat memalukan.
"Angkat kepalamu, Siena ...." Butuh usaha bagi Farel untuk bisa bicara ketika dia tidak menghentikan aktivitasnya.
Siena menggeleng. Tanpa disadari, Farel telah menjepit dagunya memaksa agar dia mengangkat kepala.
"Lihat aku. Lihat aku di saat kita bercinta."
Siena tidak sanggup, tapi dia juga tidak kuat menolak. Hingga akhirnya dia menyembunyikan wajahnya kembali di balik punggung Farel. Tubuhnya secara alami mengikuti irama Farel, hingga pencapaian yang kedua itu usai dia hanya berani menyembunyikan wajahnya.
Selesai. Mereka telah menggapai hakikat hubungan yang paling tinggi. Siena meringkuk tidak lagi berani menyebutkan nama Farel.
"Siena ...." Lembut laki-laki itu menyapanya. Jemarinya yang kokoh itu memainkan surai rambut Siena. Dia mengukir senyum ketika wanita yang baru saja menghangatkan ranjangnya mendongak. "Kamu belum jawab, suka atau nggak tadi."
Wajah Siena memanas. Mereka telah melakukannya dua kali dalam satu waktu. Bagaimana mungkin dia tidak menyukai ini?
"Jangan menggodaku."
Farel mengekeh. "Aku nggak menggoda kamu. Makanya, jawab dong."
Siena ingin menghindar dari pertanyaan itu, tapi sepertinya gagal karena Farel mengancam akan merajuk kalau tidak dijawab.
"Hemh, aku suka."
"Aku membuatmu bahagia?" Kembali Farel bertanya.
Siena tidak pandai mengelak. Terus terang dia berkata, "Iya, aku bahagia."
Farel menarik Siena agar lebih dekat padanya. Kulit demi kulit mereka bertemu kembali. Debaran yang hebat melanda diri Siena.
"Kalau begitu aku akan buat kamu bahagia sepanjang malam di sisa hidup kamu."
Siena tersenyum kecil. "Kalau kita sudah tua, nggak akan lagi bisa melakukannya."
"Kalau kita sudah tua nanti, cukup kita saling memeluk dan bertukar cerita. Kurang lebih begini."
"Tanpa pakaian?" Siena menggoda.
"Kayaknya pakai. Kalau kita sudah tua nanti, kita akan gampang masuk angin."
Siena bergumam. "Pada saat itu wajahku pasti sudah jelek dan keriput."
"Menjadi tua, nggak akan membuat kamu kelihatan jelek, Siena. Kamu adalah satu-satunya perempuan yang membuatku jatuh cinta. Nggak ada yang lain."
Siena terdiam. Hubungannya dengan Farel tidak seindah apa yang mereka lakukan saat ini. Terhalang restu, terhalang status. Ketika orang tahu bahwa Farel adalah putra pertama dari keluarga Abraham Gunadi, semua pasti akan menilai mereka berasal dari dunia yang berbeda. Sebab, Siena hanya anak yatim piatu, cucu dari mendiang nenek yang bekerja di rumah keluarga Farel.
Hubungan mereka rumit. Mulanya, Siena merasa Farel hanya ingin mengganggunya. Pria itu memiliki wajah yang dingin setiap kali menatap tanpa senyuman.
Sungguh perempuan itu tidak pernah menyangka kalau Farel menyimpan perasaan padanya.
Hingga satu titik balik membuat Siena menyadari ada cinta dari Farel yang harus dia hargai. Perlahan, tapi pasti Farel menjelma menjadi laki-laki yang membuat Siena merasakan butterflies in stomach.
Bagaikan kupu-kupu berada di perutnya. Sebuah istilah untuk perasaan canggung karena terlalu mengagumi.
Farel memecah lamunan. "Siena, besok mau nggak kamu temui mamaku?"
Deg!