Enam Belas

685 Kata
Sarah membaca kartu nama nyonya Wisesa lalu menaruhnya di meja, melihatnya lagi lalu menaruhnya. Ia ingin cerita pada Gusti tapi ragu. Ada sebersit niat di hatinya untuk menemui Satria tapi pasti akan ditolak oleh Gusti. Ia tidak ingin bertengkar dengan Gusti, mereka sama sekali belum pernah bertengkar. Sarah : Ka... Gusti : Ya calon istri Sarah tidak tau harus menulis apa. Ia terdiam. Gusti : kenapa shalihah? Sarah : nggak pa pa Gusti : kangen ya? Sarah tidak menjawab. Ia masih bingung bagaimana mengungkapkannya. Gusti : kalo kangen bilang aja. Aku juga kangen kamu ♥♥♥ Gusti : besok aku ke kampus kamu ya pas jam makan siang. Ngobatin kangen :) Setiap kali berkomunikasi dengan Gusti, Sarah tidak banyak menanggapi ungkapan sayang Gusti. Ia masih tidak yakin dengan perasaannya sendiri. Akhirnya Sarah memutuskan untuk tidur dan meninggalkan handphonenya di atas meja belajarnya. Pagi harinya setelah mengikuti satu mata kuliah Sarah keluar dari gedung kampusnya. Mata kuliah berikutnya diliburkan, dosennya mendadak sakit dan hanya memberi tugas. Masih 2 jam lagi Gusti ke kampus, terbersit di pikiran Sarah untuk menemui Satria sebentar saja. Ia mengambil handphonenya untuk memberitahu Gusti. Mendial nomer Gusti dan tiba-tiba handphonenya mati. Ia lupa mengisi baterainya semalam. Ia meminta Pak Asep mengantarkannya ke alamat yang diberikan oleh nyonya Wisesa. "Pak Asep tunggu di sini ya, saya ketemu teman sebentar" "Oke non" Sarah naik menuju lantai 10 setelah berbicara dengan security di lobby apartemen. Sampai di depan pintu yang bernomer 1003 Sarah menekan tombol sesuai password yang diberikan nyonya Wisesa. Pintu terbuka. Sarah melihat isi apartemen yang sangat berantakan, sampah kemasan makanan bertebaran, botol-botol kosong minuman beralkohol tergeletak di meja. Penuh keraguan dia melangkah masuk. Prang! Suara benda pecah terdengar dari arah dapur. Sarah berjalan menuju dapur. Sarah melihat Satria dengan kondisi mengenaskan. Bajunya kusut, rambut acak-acakan dan dagunya ditumbuhi rambut-rambut halus tidak beraturan. "Mas Satria...." Sarah memanggil Satria perlahan. Satria menengok ke arah Sarah. "Sarah kamu datang" Satria turun dari kursi dan berjalan mendekati Sarah. Tiba-tiba kedua tangan Satria memegang pundak Sarah. Jarak yang teramat dekat membuat Sarah dapat mencium aroma alkohol yang menguar dari tubuh Satria. "Kamu mabuk, lepas!" Sarah berusaha melepas tangan Satria dari pundaknya. "Apa yang dia punya dan saya nggak? Sampe kamu milih dia?" Tangan Satria mencengkeram pundak Sarah. Sarah berusaha melepaskan tangan Satria sekuat tenaga tapi sia-sia. "Lepas Mas, kamu mabuk percuma kita bicara!" "Saya yang seharusnya jadi suami kamu. Kamu harus jadi milik saya!" Sarah melihat mata Satria, alarm bahaya di otaknya menyala. Sarah mendorong Satria sekuat mungkin dan berhasil Satria mundur beberapa langkah. "Jangan dekati saya, mundur!" Satria kembali maju mendekati Sarah. Sarah bergerak mundur berusaha menjauhi Satria. "Saya tidak mau kehilangan lagi, kamu harus jadi milik saya!" Satria berhasil mencengkeram tangan kiri Sarah. "Tidak! Lepas!" Sarah memukul Satria dengan tasnya. Lalu menginjak kaki Satria. Sarah berlari menuju pintu namun sayang Satria bergerak cepat dan menarik tubuh Sarah lalu memanggulnya seperti karung beras dan membawanya menuju kamar. "Lepas! Turunin aku!" Sarah meronta-ronta. "Tolong! Tolong!" Sarah berteriak sekencangnya. Satria membaringkan tubuh Sarah di atas kasur king size nya. Mencengkeram kedua tangan Sarah di atas kepala Sarah dan mengunci kaki Sarah dengan kakinya, menindih Sarah dengan tubuhnya. "Nggak ada yang akan denger teriakan kamu!" Sarah tetap berontak, tangan dan kakinya sulit digerakkan. "Kamu harus jadi milik saya! Kamu nggak bakal nikah sama cowo lain kalau hamil anak saya!" "Kamu b******n! Pfuh!" Sarah meludahi Satria. Satria mengelap wajahnya dengan tangan kirinya lalu mulai menciumi Sarah dengan kasar. Sarah memalingkan wajahnya ke kanan dan ke kiri. Sarah meronta-ronta tapi sia-sia. Satria menarik jilbab Sarah dan melemparnya ke sisi ranjang. "Jangan!" Sarah teriak. Satria semakin menjadi. Ia terus menciumi Sarah bukan hanya di wajah tapi juga leher. Kemudian ia mulai membuka kancing baju Sarah dengan satu tangan dan tangan satunya lagi mencengkeram kedua tangan Sarah. Tidak sabar karena kancingnya sulit dibuka Satria menarik paksa dan lepaslah kancing-kancing itu dari baju Sarah. Satria menatap tubuh Sarah yang tidak tertutup baju. Kulit putih Sarah terekspose. Payudaranya masih tertutup bra namun d**a dan perutnya terbuka. "Kamu cantik. Sangat cantik" Satria mulai b*******h. Air mata Sarah mengalir. Ya Allah tolonglah aku! Tolong lah aku!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN