Lima Belas

838 Kata
Gusti dan Sarah tiba di depan sebuah rumah bergaya modern minimalis. Rumah yang tidak terlalu besar dibanding rumah keluarga Pramono. "Ayo turun, Bunda pengen ketemu kamu!" Gusti membukakan pintu mobil untuk Sarah. Sarah mengambil nafasnya dalam-dalam. Ia pernah bertemu bundanya Gusti saat pernikahan Bastian tetapi hanya perkenalan sesaat. Sarah belum tahu pasti beliau seperti apa. Sarah khawatir terjadi seperti kasus dengan nyonya Wisesa, wanita yang awalnya terlihat baik kemudian berubah menghinanya saat tahu puteranya ingin menjalin hubungan yang lebih serius dengan Sarah. "Assalamualaikum." "Waalaikum salam." Seorang wanita paruh baya dengan jilbab panjangnya membukakan pintu. "Calon mantu bunda udah dateng." Senyum sumringah bunda menyambut Sarah. Sarah mencium tangan bunda. "Ayo masuk, sini duduk!" Bunda mempersilakan Sarah duduk di sofa. "Aku ke belakang dulu ya" Gusti pamit ke belakang. "Bunda senang akhirnya Gusti menemukan jodohnya." "Maaf sebelumnya tapi apa tante nggak keberatan dengan status saya, maksudnya saya kan janda punya anak satu?" Sarah ingin memastikan posisinya di depan bunda Gusti saat ini, ia khawatir dengan statusnya. "Bunda nggak keberatan dengan status kamu. Yang penting buat bunda adalah menantu yang patuh sama Allah dan sayang sama Gusti. Tiap hari Gusti cerita tentang kamu dan menurut bunda kamu sudah memenuhi keduanya. " "Alhamdulillah kalau tante nggak keberatan" Sarah merasa benar-benar lega. "Jangan panggil tante panggil Bunda aja ya?" Sarah mengangguk. Tidak lama kemudian Gusti datang membawa nampan yang berisi 3 cangkir teh dan 2 toples camilan. Sejak kecil Gusti terbiasa membantu bundanya karena ayahnya yang seorang tentara sering keluar kota. Ia juga sangat menyayangi dan menghormati bundanya, setiap temannya datang yang menyuguhkan makanan dan minuman adalah dirinya. Sarah meneguk tehnya sambil berbincang dengan Gusti dan bundanya. Terlihat sekali kedekatan Gusti dengan bundanya. "Kita makan siang dulu ya, bunda sudah siapkan makan siang di meja makan." Ketiganya pun makan sambil sesekali bicara. Selesai dengan makanannya Sarah berinisiatif membawa piring kotornya ke bak cucian begitu juga Gusti. Mereka merapikan meja makan sementara bunda menyiapkan pesanan kue yang akan segera dikirimnya lewat ojek online. Gusti dan Sarah berdiri di depan bak cuci piring lalu mulai mencuci. "Kamu tau nggak bedanya spons cuci piring sama kamu?" "Apa bedanya?" "Kalo spons bersihin kotoran-kotoran di piring, kalo kamu bersihin hati aku dari cewe-cewe lain." "Ka Gusti bisa ngegombal juga" "Buat calon istri yang shalihah dan cantik ini aku bisa lakuin apa aja" Sarah yang mendengar ucapan Gusti merasa melambung. Perempuan mana yang tidak senang mendengar kalimat itu. Sarah pun tersenyum. "Khawatir diabetes nih" ucap Gusti sambil membilas sebuah piring. "Kenapa?" "Senyum kamu manis banget" Sarah merasa wajahnya memerah, ucapan Gusti membuat kerja jantungnya tidak normal. Melihat wajah Sarah merona tiba-tiba Gusti mencubit pipi Sarah. "Gusti!" Suara bunda menginterupsi. "Kalian belum halal, jaga diri kamu Gusti. Nggak boleh sentuh-sentuh kalau belum akad" Bunda berkata tegas. "Iya Bun" Gusti mengangguk. ○○○ Lamaran resmi kepada orang tua Sarah akan dilaksanakan seminggu lagi, sesuai permintaan orang tua Sarah. Semenjak lamaran Gusti diterima Sarah minggu lalu, Gusti memberi perhatian lebih dan sering menghubungi Sarah. Gusti : Assalamualaikum calon istri Sarah : Waalaikum salam warahmatullah Gusti : lagi apa? Sarah : ngerjain tugas, bikin makalah. Gusti : Ayu? Sarah : udah tidur dari tadi Gusti : kangen kamu, video call ya? Sarah : nggak bisa, nanti makalahnya nggak selesai. Gusti : sibuk banget ya? Sarah : iya Gusti : jangan kecapean, seminggu lagi kan lamaran. Sarah : kalau sudah selesai nanti langsung tidur Gusti : ♥♥♥ Sepekan ini tugas-tugas kuliah Sarah menumpuk, sering kali ia harus pulang malam hari. Sehingga waktu bersama Ayu sangat berkurang. Selesai mengikuti perkuliahan Sarah segera menuju ke mobilnya. Ia ingin segera pulang menjumpai Ayu yang beberapa hari ini kurang diperhatikan. Handphone Sarah berdering nama Nyonya Wisesa nampak di layarnya. Nyonya Wisesa mengajak Sarah bertemu saat itu juga di sebuah cafe yang terkenal dengan sajian kopinya tidak jauh dari kawasan kampus. Sarah menduga nyonya Wisesa ingin membicarakan masalah Lily Club jadi ia mengiyakan untuk bertemu. Nyonya Wisesa sudah duduk di salah satu kursi bagian pojok cafe saat Sarah datang. Kini Sarah dan Nyonya Wisesa duduk berhadap-hadapan. "Saya ingin minta bantuan kamu. Ini tentang Satria." "Dulu nyonya minta bantuan saya untuk merawat pak Satria lalu setelah sembuh nyonya menghina saya. Lalu sekarang Anda ingin mengulanginya lagi?" "Saya mohon maaf atas kesalahan sebelumnya, ucapan saya memang keterlaluan. Kali ini saya benar-benar memohon bantuan kamu. Kondisi satria sangat memprihatinkan." "Di rumah nyonya kan banyak pembantu." Sarah menjawab datar. "Satria sudah beberapa minggu ini tinggal di apartemen. Kami bertengkar hebat. Dan sudah beberapa hari ini dia tidak ke kantor, saya sudah ke apartemennya dan kami bertengkar lagi. Dia terlihat sangat kacau. Saya mohon, bantu saya mengembalikan kondisi Satria." "Saya dan nyonya tidak punya hubungan apapun. Jadi itu bukan urusan saya." "Saya seorang ibu dan kamu juga seorang ibu. Satria juga sudah berjasa menyelamatkan anak kamu kan. Ini terakhir kalinya saya minta bantuan kamu." Sarah mendengus. "Kalau sudah tidak ada yang perlu dibicarakan saya permisi." "Tunggu sebentar!" Nyonya Wisesa menuliskan sesuatu di balik kartu namanya. "Ini alamat apartemen dan passwordnya kalau kamu berubah pikiran." Sarah menerima kartu itu lalu bergegas pergi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN