Setelah rapat yang cukup melelahkan bersama Lily Club, Gusti mengantar Sarah pulang. Di perjalanan ia menepikan mobilnya.
"Sarah, saya pernah bilang kan kalau mau serius sama kamu. Saya juga sudah minta izin Bastian dan ayah kamu untuk mendekati kamu." Sarah mengangguk.
"Saya bukan tipe cowo romantis yang bisa puitis. Saya jujur apa adanya. Saya Gusti Narendra Maheswara ingin kamu jadi istri saya, ibu dari anak-anak saya,menemani saya sepanjang hayat dan bersama saya berusaha meraih surgaNya." Sarah terkejut.
Ka Gusti ngelamar aku? Batin Sarah. Sarah terkejut ia tidak menyangka akan dilamar secepat ini.
"Kak Gusti nggak sakit kan? Kok tiba-tiba ngomong gitu?"
"Saya sudah pikirkan masak-masak beberapa hari ini hanya menunggu waktu yang tepat. Saya rasa lebih cepat lebih baik."
Sebenarnya sebelum mereka memasuki mobil Gusti melihat Satria di parkiran restauran, hal itu memicu Gusti untuk segera melamar Sarah.
"Gimana?"
"Apanya?"
"Jawaban kamu"
"Belum bisa jawab sekarang, masih shock" Sarah memegang dadanya.
"Saya tunggu besok jawabannya."
"Nggak bisa, saya mau istikharah dulu kak"
"Dua hari?" Sarah menggelengkan kepalanya.
"Tiga hari, saya nggak bisa lebih lama dari itu." Sarah terpaksa mengangguk
Tiga hari dilalui Sarah tanpa berhubungan apapun dengan Gusti. Tidak bertemu tidak juga telpon. Sarah menunaikan beberapa kali shalat istikharah ia ingin keputusan yang diambilnya bukan hanya pertimbangan akalnya tapi ada campur tangan Yang Maha Kuasa.
Setelah tiga hari, Gusti menghubungi Sarah via whats app di perjalanan menuju kampusnya.
Gusti : Assalamualaikum
Sarah : Waalaikum salam warahmatullah
Gusti : Sudah tiga hari Sarah shalihah
Sarah : iya kak
Gusti : Kita ketemuan yuk, sudah ada jawabannya kan?
Sarah : Sudah
Gusti : Alhamdulillah. Saya ke kampus pas jam makan siang ya?
Sarah : iya
Gusti : ketemuan di kantin ya?
Sarah : iya.
Gusti : see you shalihah :)
Gusti menatap hand phone nya sambil tersenyum, ia merasa gemas dengan jawaban Sarah yang selalu hanya satu kata.
Sarah sudah duduk manis di kantin kampusnya. Ia menyeruput orange juice yang baru saja diantar pegawai kantin. Hand phone nya berbunyi, segera ia cek notifikasi pesannya.
Gusti : Maaf aku sedikit terlambat, baru selesai meeting dengan client. Ini otw. Kamu di mana?
Sarah : kantin
Gusti : tunggu ya
Sarah : iya
Sarah asyik dengan handphonenya sampai tidak sadar seseorang mendekatinya.
"Sarah!" Satria berucap pelan di samping Sarah.
Sarah menoleh dengan tatapan terkejut. Satria menarik kursi di depan Sarah dan duduk dengan santainya.
"Saya ingin bicara sama kamu."
"Ada apa?" Sarah menanggapi datar.
"Saya tahu saya dan mommy punya kesalahan besar padamu untuk itu saya mohon maaf atas kesalahan kami." Satria menatap Sarah
"Dulu sudah pernah minta maaf kan dan sudah saya maafkan" Jawab Sarah.
"Saya tahu. Tapi kamu mengacuhkan saya, telpon saya tidak pernah dijawab begitu juga dengan pesan-pesan saya.Bisakah kita mulai dari awal, anggap aja kita dua orang yang baru bertemu. Gimana?" Satria penuh harap. Selama ini ia memang rutin menelpon Sarah baik telpon rumah ataupun langsung ke handphone Sarah tapi Sarah selalu mengabaikan.
"Maaf bagaimanapun juga apa yang sudah terjadi tidak mungkin dilupakan." Ucap Sarah.
Gusti mempercepat langkahnya saat dari kejauhan ia melihat Sarah berbicara dengan Satria.
"Maaf mengganggu pembicaraan kalian tapi saya ada janji dengan Sarah" Gusti langsung menyela percakapan Sarah dan Satria begitu sampai di dekat mereka.
"Pak Satria ini Ka Gusti..."
"Saya tahu dia temennya Bastian." Satria menyela ucapan Sarah.
"Ka Gusti ini calon suami saya." Ucap Sarah tanpa ragu.
Senyum Gusti merekah mendengar ucapan Sarah. Seakan mengetahui kondisi Sarah yang ingin segera pergi dari hadapan Satria, Gusti mengambil tas Sarah.
"Yuk kita jalan, bunda sudah menunggu di rumah"
Ribuan peluru seakan membobol jantung Satria, sakit. Tubuhnya terasa lemas mendengar ucapan Sarah. Satria merasa ia akan kehilangan Sarah sekali lagi.
"Saya permisi pak" Sarah berjalan berdampingan dengan Gusti. Satria menatap sedih kepergian keduanya, habis sudah harapannya.
Gusti berjalan riang sambil sesekali menatap Sarah yang terus memandang ke depan. Terasa ada kupu-kupu yang menggelitik perutnya. Tapi ia perlu memastikan perasaannya.
"Yang kamu bilang tadi beneran? Atau karena pengen kabur dari Satria aja?" Gusti berhenti di parkiran.
"Dua-duanya" Sarah menjawab malu-malu.
"Dua-duanya? Berarti lamaran saya diterima dong." Sarah mengangguk.
"Yess, alhamdulillah!" Gusti tersenyum lebar. Ia merentangkan tangannya ingin memeluk Sarah.
"Belum halal" Sarah menepis tangan Gusti.
Akan kusegerakan. Jawab Gusti di hatinya.