Semenjak diperkenalkan kepada khalayak bahwa Sarah adalah putri keluarga Pramono, salah satu dari 5 pengusaha terkaya di Indonesia, banyak komunitas sosialita yang mengajaknya bergabung salah satunya Ladies Squad. Tapi tawaran itu selalu ditolaknya, untuk apa bergabung dengan komunitas yang untuk sesi foto saja keluar uang puluhan juta mending uangnya disumbangkan kepada anak-anak yang butuh uang untuk pengobatan.
"Sarah, tolong wakili mama meeting dengan teman-teman mama" Mama Sarah bicara lewat telpon. Mama Sarah sudah kembali ke Brussel bersama papanya.
"Kapan Ma?"
"Besok jam 12.30 jadi meetingnya sekalian makan siang."
"Tapi aku ada kuliah Ma, nggak papa kalau aku telat?"
"Nggak pa-pa yang penting kamu dateng ngewakilin Mama"
Mama Sarah tergabung dalam club sosialita yang isinya para istri pejabat dan pengusaha. Selain arisan kegiatan rutin yang biasa dilakukan adalah santunan. Sebenarnya Sarah tidak menyukai berkumpul bersama kalangan sosialita namun karena mama yang meminta maka Sarah mengiyakan.
Sarah tidak ingin pergi ke pertemuan yang tidak dikenalnya, ia berusaha mencari informasi dengan browsing di internet dan hasilnya sangat mencengangkan. Sarah menyiapkan mentalnya.
Pukul 12 siang, Sarah baru saja keluar dari gedung fakultasnya menuju ke parkiran. Mobil yang biasa mengantarnya tidak ada. Sarah justru melihat Gusti yang tersenyum mendekatinya.
"Pak Asep mana ka Gusti?"
"Saya suruh pulang, saya jemput kamu sekalian ngajak kamu makan siang."
"Saya sudah ada janji ka, maaf ya!"
"Janji makan siang dengan siapa?" Gusti curiga.
"Mama minta aku dateng ke acara Lily Club, ngewakilin mama. Acaranya sekalian makam siang."
Gusti merasa lega.
"Yaudah aku anter ya, sekalian nanti aku makan di sana."
"Nanti Kak Gusti tetep makan sendirian. Aku makan bareng ibu-ibu Lily Club"
"Nggak pa-pa" Gusti tersenyum.
Mobil pun melaju ke restoran yang dituju. Mereka mampir sebentar ke sebuah masjid untuk menunaikan ibadah wajib.
"Kamu tau nggak Lily club itu ketuanya siapa?" Gusti dan Sarah berjalan di parkiran restauran.
"Tau Kak"
"Siap ngadepin dia?"
"Insya Allah siap"
"Aku ada di sini kalau kamu butuh, handphone ku juga stand by. Kalau ada apa-apa hubungi aku ya?" Sarah mengangguk. Gusti duduk di salah satu sudut restauran. Ia memesan makanan dan berniat menunggu Sarah sampai acaranya selesai.
Sarah memasuki ruang VVIP yang sudah dibooking Lily Club. Ibu-ibu sosialita yang berusia di atas 40 sudah berkumpul duduk di posisinya masing-masing. Meja berbentuk oval menyisakan satu kursi kosong.
"Maaf saya terlambat, saya mewakili Mama." Sarah duduk di kursi yang masih kosong.
"Anak muda zaman sekarang tidak menghargai waktu." Nyonya Wisesa yang duduk paling ujung berucap ketus.
Sabar... sabar... . Sarah mengambil nafas.
Lily Club diisi oleh ibu-ibu sosialita, istri pejabat atau pengusaha. Club ini diketuai oleh Nyonya Wisesa. Saat ini Club sedang diguncang isu tak sedap karena sebagian suami dari anggotanya diperiksa KPK terkait kasus korupsi. Nama Lily Club juga ikut tercemar dan ada isu akan diperiksa KPK. Itulah informasi yang didapat Sarah setelah browsing di internet.
Setelah acara makan-makan selesai, rapatpun dimulai. Agenda rapat hari ini adalah membicarakan tentang acara amal tahunan yang rutin diadakan Lily Club.
"Seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini kita juga akan memberi santunan kepada masyarakat miskin. Acara akan dilakukan 2 bulan dari sekarang."
"Boleh saya usul?" Sarah mengangkat tangan kanannya lalu berdiri.
"Silakan" Nyonya Wisesa mempersilakan. Sebagai ketua ia harus menjaga imej nya, ia tidak mau disebut otoriter karena itu ia memberikan hak Sarah untuk bersuara.
"Dari informasi yang saya dapat, club ini sedang disorot media karena beberapa suami dari anggota club ini sedang diperiksa KPK atas kasus korupsi. Karena itu bagaimana kalau acara tahunan bukan sekedar santunan tetapi sesuatu yang bisa mendongkrak imej club ini. Pencitraan bahasa kerennya."
"Acara apa yang jeng Sarah usulkan?" Wanita yang duduk tepat di depan Sarah buka suara. Ia adalah salah satu dari anggota club yang suaminya diperiksa KPK.
"Selain santunan, anggota club ini termasuk saya akan menginap di rumah warga di salah satu kawasan kumuh."
"O M G , yang benar saja?" Seorang ibu bereaksi. Beberapa anggota bereaksi serupa, terdengar suara kasak-kusuk tanda tidak setuju.
"Jadi maksud kamu, kami yang terhormat ini harus tidur di rumah yang sempit, kotor dan bau? Kamu merendahkan derajat kami Nona! Yang mereka butuhkan cuma uang dan sembako." Nyonya Wisesa menatap horor ke arah Sarah.
"Bukan maksud saya merendahkan derajat nyonya sekalian. Dengan ikut merasakan penderitaan mereka, masyarakat akan lebih menghargai club ini karena mereka menganggap anggota club ini memiliki hati yang mulia. Perlu saya ingatkan, masyarakat kita sudah cerdas uang dan sembako pasti mereka terima tapi mereka pasti tetap mencibir dan menggunjingkan tuduhan korupsi pada kalian. Kita bisa mengundang media cetak dan elektronik untuk meliput kegiatan ini." Sarah berucap dengan penuh kesungguhan.
Sarah benar-benar ingin para sosialita itu merasakan penderitaan orang miskin walau hanya semalam. Sarah berharap kesombongan mereka bisa berkurang walau hanya sedikit dan lebih bersyukur dengan yang mereka miliki.
"Sudah beberapa hari ini anak saya tidak mau sekolah karena malu, teman-temannya mengatakan kalau suami saya koruptor padahal baru diperiksa KPK belum jadi tersangka." Seorang ibu berkata dengan berkaca-kaca.
"Kalau dengan menginap di rumah kumuh bisa mengurangi hujatan orang terhadap keluarga kami maka saya rela melakukannya." Air matanya perlahan menetes. Wanita di sebelahnya mengusap punggungnya untuk menenangkan.
"Saya juga setuju usulan jeng Sarah" seorang nyonya yang sejak tadi terdiam ikut bicara.
Akhirnya usulan Sarah disetujui mayoritas anggota Lily Club. Acara yang akan dilangsungkan 2 bulan lagi adalah menginap di rumah warga di daerah kumuh dan dilanjutkan dengan santunan keesokan harinya.