Sepuluh

513 Kata
Sarah duduk di tepi ranjang sambil mengusap air matanya. "Kamu nggak pa-pa?" Bastian menghampiri Sarah. "Nggak pa-pa Mas" "Dia udah kuhajar, kamu jangan nangis lagi. Jangan pernah bersedih lagi, Mas akan selalu jaga kamu." Bastian memegang bahu Sarah menatap Sarah lekat-lekat. "Makasih Mas" "Dulu dia minta kamu manggil dia dengan embel-embel mas kan? Sekarang panggilnya pake bang aja" "Bang?" "Iya, bang...sat" Sarah tersenyum mendengar penuturan Bastian. Hatinya menghangat, menemukan keluarganya membawa kebahagiaan tak terkira. "Ibu, Ayu mau picang." Ayu tiba-tiba masuk ke kamar. Tangannya menarik-narik tangan Sarah. "Pisang?" Ayu mengangguk. "Picang bakal pake es klim" Sarah dan Ayu sibuk membuat pisang bakar ice cream. Ayu mengupas pisang dengan bimbingan Sarah. Setelah pisang selesai dikupas Sarah mulai mengolahnya disaksikan oleh Ayu yang digendong oleh mbak Sri. Dari kejauhan sepasang mata mengamati acara masak memasak Sarah dan Ayu. " Ngeliatin apa loe sampe bengong gitu?" Bastian mengibas-ngibaskan telapak tangannya di depan Gusti. " Subhanallah, ada bidadari turun ke bumi. Cantik, pinter masak, pinter ngurus anak. Gue pengen satu aja ada di rumah gue." "Woy yang loe omongin tuh adek gue. A-d-e-k gue!" "Emang adek loe, siapa lagi. Boleh ya gue jadi adek ipar loe?" "Ngarep banget loe. Ngapain ke sini? Tumben." "Mau ketemu calon istri." "Gusti, loe serius mau deketin adek gue?" "Serius pake banget...." Belum selesai Gusti bicara handphone Bastian berbunyi, Bastian segera mengambil handphonenya. Gusti berjalan ke arah dapur. "Ayu... papa gusti punya hadiah buat Ayu." Gusti memberikan sebatang coklat pada Ayu. Dari awal pertemuannya dengan Ayu, Gusti meminta Ayu memanggilnya dengan sebutan papa. "Makacih..." "Taraa....Pisang bakar ice creamnya udah jadi" Sarah memberikan hasil masakannya pada Ayu. "Yeay, ayu sayang ibu" Ayu mencium pipi Sarah. "Saya dapet bagian nggak?" Gusti menatap Sarah penuh harap. "Ini" Sarah memberikan seporsi pisang bakar ice creamnya. "Terima kasih, boleh cium pipi juga kayak Ayu?" Gusti menerima piringnya sambil tersenyum. "Bukan muhrim" Sarah menjawab tegas. Cantik, keibuan, pinter masak, sholehah. Pas buat jadi istri. Gusti membatin. "Buat big Daddy mana?" Bastian tiba "Ini buat big Daddy" Mereka menikmati hasil masakan Sarah dan Ayu bersama-sama. Sarah juga meminta mba Sri membagikan makanannya pada semua pekerja di rumah itu. "Mba Sarah ada kiriman nih buat mba" Dino datang membawa sebuah boneka berwarna putih dengan tulisan “I'm sorry Sarah” "Dari siapa?" Bastian bertanya sambil mengunyah potongan terakhir pisangnya. Sarah membuka kartu yang ada di boneka tersebut. "Satria" tatapan Sarah menjadi sendu. Tiba-tiba Bastian mengambil boneka itu dan membawanya keluar. ♡♡♡ Kesibukan baru Sarah setelah menemukan keluarganya adalah kuliah. Sudah lama ia ingin melanjutkan pendidikannya baru sekarang dapat terwujud. Pagi itu Sarah sudah berangkat ke kampus diantar mang Asep supir pribadinya. Mama dan papa Sarah tidak mengizinkannya bepergian sendirian. Sampai di parkiran kampus Sarah turun dan berjalan menuju ruang kelasnya. Baru saja sampai di taman depan kampus Satria tiba-tiba datang menghampiri. "Sarah saya minta maaf, saya memang keterlaluan." Sarah terus berjalan tanpa mempedulikan perkataan Satria. Tapi Satria terus saja menghalanginya berjalan. "Sarah please maaf kan saya!" Satria berlutut. " Saya sudah memaafkan kamu, sekarang pergilah saya tidak ingin jadi tontonan." Sarah memutuskan memaafkan Satria mengingat jasanya pada Ayu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN