Sebelas

660 Kata
"Sarah, mas nggak bisa nganter kamu ke pasar ya. Vivi ngajak jalan sebelum dipingit." Bastian berujar pada Sarah di pagi hari setelah sarapan. "Yaa... gimana mas, persediaan makanan di kulkas hampir habis terus besok mama papa kan dateng. Mang Asep sakit lagi, atau aku naek taksi aja?” "Nggak kamu nggak boleh naik taksi, nantinya di pasar kamu sendirian." Bastian sangat protektif pada Sarah karena tidak ingin kejadian di masa lalu terulang. "Terus gimana dong, Sarah pengen masak buat mama papa." "Dianter Gusti aja ya? Mas telpon Gusti deh" Sarah mengangguk. Setengah jam kemudian Gusti datang. Sementara Bastian bersiap menemui Vivi. "Jaga adek gue baik-baik, awas kalau loe nyakitin atau bikin dia nggak nyaman gue bikin loe babak belur." "Loe tenang aja Bas, gue siap bahagiain adek loe." Gusti mengangkat jempolnya sambil tersenyum. Sarah dan Gusti dalam perjalanan menuju pasar tradisional. Sarah lebih suka belanja ke pasar tradisional dari pada super market. Mbok Nah yang dulu merawatnya seorang pedagang sayur di pasar tradisional sehingga Sarah sudah terbiasa bolak-balik ke pasar. "Ka, tiba-tiba dimintain tolong nganter Sarah sama mas Bas nggak ganggu jadwal weekendnya?" Sarah membuka percakapan sambil memangku Ayu yang memaksa ingin ikut ke pasar. "Nggak lah, buat kamu apa sih yang nggak." Gusti mengerlingkan matanya sementara Sarah menatapnya aneh. "Emang kalau weekend gini kakak ngapain?" "Bantuin ibu di toko kue" "Ibunya kak Gusti punya toko kue? Enak ya bisa icip-icip." "Kalau kamu mau icip-icip juga bisa, sekalian saya kenalin sama ibu. Pasti ibu seneng deh kenalan sama kamu." Percakapan itu pun terhenti karena sudah sampai di pasar. Di pasar Sarah sibuk memilih bahan makanan yang akan dibeli sementara Gusti menggendong Ayu yang terlihat mengantuk. "Neng Sarah, tambah cantik aja." Tukang sayur yang juga teman baik Mbok Nah menegur Sarah. "Bude bisa aja" Sarah memilih beberapa sayuran segar. "Neng itu yang di sebelahnya siapa? Ganteng loh." Gusti yang mendengar itu hanya senyum-senyum. Sosok Gusti yang tinggi, tegap, kulit sawo matang, rambut ikal, dan wajah yang tidak kalah tampan dengan artis sinetron memang menarik perhatian pedagang dan pengunjung pasar. "Temen bude" "Temen apa demen?" Cocok loh sama kamu, kayaknya juga sayang sama Ayu" "Sayanya sih demen, tapi nggak tahu deh sama Sarah. Ini juga lagi pendekatan Bude" Gusti angkat bicara. "Ini udah semua Bude, jadi berapa?" Sarah yang merasa jantungnya berdetak lebih cepat segera mengalihkan perhatian. Belanjaan segera dihitung dan saat akan membayar, Gusti mengeluarkan uang lebih cepat dari Sarah. "Doakan ya bu biar sampai ke pelaminan!" Tiba-tiba Gusti berseru saat akan meninggalkan Bude sayur. "Aamiin!" Bude menjawab sambil tersenyum. Dalam perjalanan pulang, Ayu sudah tertidur di pangkuan Sarah. "Yang saya bilang tadi di Bude sayur beneran loh, saya serius suka sama kamu" Gusti membuka pembicaraan saat baru saja keluar area parkir pasar. "Kirain cuma bercanda." "Saya tahu gimana hubungan kamu dengan Satria dulu, Bastian cerita" "Saya nggak ada hubungan apa-apa sama dia." "Berarti saya punya kesempatan kan untuk masuk ke hati kamu?" "Sampai saat ini belum ada satu lelaki pun di hati saya setelah almarhum Mas Pras." " Beri saya kesempatan mengisi hatimu sekaligus jadi ayah buat Ayu. Saya berjanji akan menyayangi kamu dan Ayu" "Saya masih belum kepikiran kesitu Ka" "Saya nggak akan putus asa membuka hatimu, kamu perempuan pertama yang bikin hati saya berdebar tiap dekat kamu. Kamu perempuan yang cocok buat jadi istri sekaligus ibu dari anak-anak saya. Pokoknya saya akan terus berusaha!" Gusti adalah tipe pria yang tidak bisa basa-basi, bukan pria romantis yang pandai merayu. Ia juga belum pernah berhubungan serius dengan wanita manapun. Kehilangan ayahnya di usia belia membuat Gusti harus membantu ibunya berjualan kue untuk membiayai kuliahnya dan sekolah adiknya. Di kampus ia bertemu Bastian yang kemudian merintis usaha bersamanya. Kini kerja kerasnya sudah membuahkan hasil, usaha yang dibangun bersama Bastian berkembang pesat. Kalimat Gusti terus terngiang di telinga Sarah. Dia memang belum pernah membuka hatinya pada pria manapun setelah kematian suaminya. Dulu ia pernah merasa punya harapan dengan Satria tetapi keangkuhan ibunya meruntuhkan segala rasanya. Mungkinkah kali ini ia harus membuka hatinya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN