24 : MENGABDI

865 Kata

Pemberitahuan itu membuat tengah malam Aini dan Yusuf tak berlangsung sama. Yah, bagi Aini, lembaran baru mereka kini tak lagi sama—ke luar dari kemuraman itu bagai baru saja ke luar dari lubang buaya, masuk ke mulut harimau. Menyadari arti pembicaraan mendadak mereka ba’da isya’  tadi, Aini sama sekali tak bisa tidur nyenyak di sisi lelakinya. Meski semua posisi sudah dicoba dan panjangnya do’a yang sudah diucap, hasilnya masih sama. Di sisi Yusuf yang tertidur lelap, Aini justru tetap terjaga. Akhirnya wanita itu menyerah untuk tak mengganggu Yusuf. Ia mendekati lelaki itu ke bagian ranjangnya dan merebahkan kepala di atas d**a bidangnya. Sungguh, napasnya yang naik-turun dengan tenang memberikan satu ketenangan tersendiri untuk Aini. Sepasang tangannya memeluk Yusuf, seakan tak mau

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN