1978. Dua pasang kaki kecil bertambah selepas kepergian Uus. 75 dan 77. Bagi Aini itu merupakan bukti keseriusan Yusuf untuk melepaskan masa muram mereka. Kepergian Uus mengajarkan mereka satu hal: menahan diri sendiri dari nafsu berkesibukan itu penting. Meski keaktifan Yusuf tetap melingkup GPI, guru, dan remaja masjid, Aini jadi membatasi diri untuk hanya fokus mengurus anak-anak di rumah sampai anak kesembilan mereka sudah bisa untuk ditinggal-tinggal dengan saudaranya. Cuti mengajarnya jadi berlanjut karena yayasan tempat Aini mengajar mengizinkannya cuti lebih lama. Atau, dengan kata lain karena asas kekerabatan masih berlaku di sini, yayasan milik teman mendiang Buya Sholeh itu akan menerima Aini kapan saja, ketika wanita itu sudah siap kembali mengajar. Yusuf dan Aini sama-sama

