5 : RENCANA LAMARAN

1064 Kata
1 SIANG.           Seharian ini Yusuf tak bisa mengabaikan kabar yang dibawa kedua adiknya itu. Maka untuk menghilangkan penasaran, ia memutuskan mengunjungi rumah Buya Sholeh sepulang dari kegiatan mengajarnya. Sesampainya di rumah itu, ia menemukan kalau kabar itu memang benar adanya. Tapi bukan karena diizinkan berkuliah oleh Buya. Aini kabur dari rumah. Umayyah yang menceritakan itu. Opik dan Imam sedang sibuk keluar mencari Aini bersama ayah mereka, dan Basri. Sementara itu di dalam, istri Basri tengah menemani Mak Atih yang masih syok di kamarnya. “Waktu aku membuka pintu kamarnya, dia sudah nggak ada. Entah sejak kapan dia kabur. Jendelanya terbuka.” Teringat ucapan Adi, Yusuf mengusul. “Sudah coba ke rumah Iis?” Umayyah memandangnya tidak yakin, “Kata abi, Iis pindah ke luar kota hari ini. Jadi dia nggak mungkin ada di rumah.” Pindah? Tidak yakin, Yusuf mengernyitkan alisnya begitu saja dan memutuskan untuk memberitahu apa yang adiknya lihat tadi pagi. Mendengarnya, mata Umayyah membulat tak percaya, “Jadi kamu pikir Iis bisa aja masih ada di rumahnya sekarang demi menahan Aini pergi ke luar kota?” “Ya. Menurutku Iis nggak akan semudah itu menuruti kemauan Aini walaupun mereka sudah bersahabat lama. Aku coba ke sana, ya?” Cepat, Umayyah pun menyetujuinya. Kemudian, Yusuf bergegas berangkat ke rumah keluarga Adnan Sofyan itu. *** Ternyata benar-benar hanya Iis yang masih tinggal di rumah itu. Aini dan Iis yang adiknya lihat tadi pagi adalah saat mereka berdua habis mengantarkan orang tua Iis dan Sofwan ke stasiun kereta. Iis kembali bersama Aini, lanjut mengambilkan daftar Pendidikan Keguruan yang menyediakan beasiswa dari papan pengumuman kelurahan. Tapi begitu tahu tak ada perizinan orang tuanya di balik kepergian Aini ini, Iis jadi mendebat sahabatnya itu, tak setuju. Begitulah kira-kira kronologi perdebatan Aini dan Iis dari sanggahan yang Yusuf dengar. Suara perdebatan mereka terdengar cukup jelas dari tempatnya sekarang: di depan pagar rumah Iis. Tahu mereka berdua akan sama-sama teguh dengan pendapat masing-masing, Yusuf berinisiatif masuk ke rumah berpekarangan luas itu, memecah perdebatan panas antara Iis dan Aini menjadi keheningan seketika hanya dengan satu dehaman. “Hkhm,” Iis dan Aini kompak menoleh padanya. Mungkin saja karena terlanjur lelah ajakan pulangnya itu disangkal berkali-kali oleh Aini dengan alasan tekad-namun-nekat untuk mengejar cita-cita, Iis menarik napas dan berlalu ke dalam rumah sambil berkata, “Nah, kebetulan banget kamu datang. Silakan urusi musuh abadimu itu. Keras kepalanya masih sama.” Kemudian, Iis mengunci pintu rumahnya seakan tak mau peduli lagi selama Aini masih nekat membujuknya untuk jadi teman yang durhaka kepada orang tua. Bisa ditebak apa yang terjadi setelahnya. Aini yang cemberut sejurus kemudian berpaling dari Yusuf, seperti menganggap lelaki itu tak ada di sini. Yusuf jelas sudah terbiasa dengan itu. Sekian tahun yang lalu, ia selalu menjadi teman bagi ekspresi cemberut yang sama. Ketika lengkungan bibir itu menekuk ke bawah, pasti dialah penyebabnya. Kini ia jadi tahu bagaimana membuka obrolan pertama mereka (lagi) setelah putus kontak hingga tiga tahun lamanya. Yusuf memulai dengan satu kalimat sederhana yang cukup ‘menusuk’, “Nggak ada ongkos buat ke luar kota, Ni?” Merasa terhina, Aini pun menoleh. Ia memandang Yusuf tidak terima. “Heh, mulut kamu itu ternyata masih sama ya? Pedas!” “Memang,” Untuk memperpanjang obrolannya dalam rangka membujuk Aini untuk kembali ke rumah, Yusuf sengaja mengikuti gadis itu yang berlalu ke luar pekarangan rumah Iis. Ia mengeluarkan gaya ‘sombong’-nya lagi dengan membalas sambil melipat tangan di d**a, “Jadi, benar? Kamu itu mau melanjutkan sekolah, tapi ternyata nggak disetujui sama abimu dan jadinya nekat kabur dari rumah? Kamu yakin sama tindakanmu ini, Ni? Orang tuamu saja nggak ridho, gimana Allah?” Deg. Sungguhan satu kalimat terakhir Yusuf membuat Aini jadi tak bisa berkata-kata. Bahkan ia menghentikan jalan cepatnya menjauh dari lelaki itu. Hatinya mencelos, membenarkan pertanyaan retoris itu. Aini mulai kepikiran kedua orang tuanya yang mungkin saja sedang kelimpungan mencarinya. Niatnya berusaha mandiri agar tidak menambah beban, malah terasa sebaliknya. Ah.... Pelan, Aini menarik napas. Ada rasa sesal di sudut hatinya karena tak memikirkan tindakan ini dua kali. Sengaja, Yusuf tak memberi kesempatan Aini menyangkal dengan kembali mendebat gadis itu. “Kamu tahu jelas definisi anak durhaka, kan? Perasaanku, buya nggak pernah mengajarkan anak-anaknya untuk kukuh melawan orang tua.” A...— Aini sungguhan membisu. Yang ditunggu-tunggu Yusuf akhirnya terjadi juga. Gadis itu berbalik, jadi berjalan lurus, kembali ke rumah orang tuanya. Tak ayal, Yusuf mengulas senyum di belakang punggung Aini. Sambil mengekori gadis itu, ia sebenarnya bangga. Bangga karena Aini mengerti bahwa setiap hal yang baik menurutnya, punya kesempatan untuk tak disetujui oleh orang tersayangnya demi alasan yang baik untuknya. Yusuf senang Aini mengerti soal itu. Lama mereka berjalan dalam diam. Ketika akhirnya Yusuf berhasil membawa Aini pulang ke rumah, sejalan dengan keinginannya, keluarganya menyambut kepulangan itu dengan senyum pengertian dan kelegaan, bukan dengan kata-kata memojokan atau menyalahkan. Namun di ruang tengah rumah Aini, hati Yusuf tiba-tiba saja kebas ketika mendengar perbincangan gadis itu dan uminya di kamar utama rumah ini. “Abi dan umi cuma ingin kamu melakukan satu hal, Sayang.” “Apa itu, Mi?” “Janji dulu kamu akan menurutinya.” “Ya, Mi.” “Apa pun?” “Apa pun. Apa satu hal itu?” “Kami mau kamu segera menikah. Abi sudah ada calon yang tepat untuk kamu.” Suara bernada sayang itu terdengar lemas di telinga Yusuf, membuat sekujur tubuhnya berada dalam satu kondisi yang nyaris sama pula. Untuk ketiga kalinya setelah hari di mana ia mendengar keantusiasan Aini untuk melanjutkan sekolah, dan merasakan kekaguman Aini pada Sofwan, Yusuf menyerah. Ia menyerah dalam usahanya terus menuliskan kata-kata puitis itu untuk Aini. Yusuf merasa tak ada gunanya lagi mencintai gadis hitam manis itu secara diam-diam. Yusuf makin termangu dalam tundukan kepalanya, berusaha meredam luapan perasaannya sendiri dengan tetap mengingat Sang Pemilik Hati. Namun, sungguhan, karena ucapan Mak Atih barusan, Yusuf jadi menaruh penasaran akan siapa calon yang dimaksud. “S-siapa orangnya, Mi?” Pertanyaan Aini kiranya sama dengannya. Jantung Yusuf entah bagaimana jadi melompat tak karuan menanti jawaban itu. “Orang terdekat kamu, kok.” Ah? Yusuf mencelos. Rasanya detak jantungnya sempat terhenti sesaat karena jawaban Buya Sholeh itu. Orang terdekat Aini? Kini dalam kepalanya bermunculan berbagai nama. Namun sebelum Yusuf bisa mengambil simpulan atas orang yang dimaksud, sudah kembali terdengar keterangan tambahan dari abi Aini. “Nanti malam, insya Allah keluarganya akan datang ke mari untuk melamar.” N-nanti ... malam?!     -YUSUF & AINI-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN