8 MALAM.
Berbeda dengan kemarin malam yang diwarnai dengan bentakan dan perdebatan, kali ini Aini berdebar-debar menanti orang yang dimaksud abi dan uminya. Di kamarnya, setelah menuruti instruksi Umayyah untuk berpakaian rapi, ia heran sendiri kenapa jadi menanti-nanti kedatangan tamu istimewa yang dimaksud Buya Sholeh.
Umayyah pun begitu kiranya. Aini cukup terkejut juga karena ternyata bukan hanya dia yang penasaran dengan sosok pilihan abi dan uminya. Kepala kakaknya yang tak bisa berhenti menoleh penasaran ke pintu keluar, membuat Aini terkikik sendiri. Ini siapa yang sebenarnya mau dilamar, sih?
Kesini-sini Aini menyadari satu hal; selain ketiadaan biaya yang ternyata benar adanya, kedua orang tuanya jauh lebih memahami dirinya ketimbang Aini sendiri. Mereka paham kalau Aini adalah sosok perempuan yang ingin menjadi manusia yang tanpa batas, perempuan yang mau belajar tekun demi nilai yang baik dan mencapai pendidikan tinggi. Itu bagus, dan Aini tahu mereka mengerti keinginannya.
Tapi menurut mereka, ada bagian dari wanita-berpendidikan-tinggi itu yang mereka pahami—bahwa Aini yang pergaulannya nanti akan meluas, dikhawatirkan tak akan bisa membagi fokus antara pendidikan, pekerjaan, fitrahnya sebagai perempuan, dan kewajibannya terhadap agamanya. Orang tuanya takut Aini akan terjebak dalam gemerlap tingginya gelar dunia, sehingga lupa akan keharusan mencari pasangan yang baik agamanya terlebih dahulu agar sama-sama dapat menaikan gelar akhiratnya. Atau yah—yang paling parahnya lagi, ketika virus merah jambu itu datang, mereka takut kalau Aini akan lepas kendali dan terjebak zina dengan lawan jenisnya yang siapapun itu.
Makanya, Aini mendapat bocoran dari Buya Sholeh bahwa calonnya ini adalah lelaki yang menurut abinya sudah baik agamanya. Jujur, ia senang dengan klue satu itu. Yang baik agamanya sudah pasti akan menghormati wanita lebih dari apapun, berbeda dengan yang baik gelarnya.
Tiba-tiba, dilihatnya dari kamar, senyum Umayyah merekah lebar. Aini ke luar kamar dengan melemparkan pandangan bertanya-tanya pada sang kakak.
“Sudah datang orang—”
“Assalamu’alaikum!” Salam itu memotong pertanyaan Aini. Ia jadi menuju ke sumber suara sambil dan membalas salam, “Wa’alaikumussalam!—” Sejurus kemudian Aini tak bisa berkata-kata. Sekujur tubuhnya yang tadinya menghangat dan jantung yang berdebar, jadi dipenuhi perasaan menyayangkan yang tak terbilang. Tak pernah terlintas di kepala Aini bahwa calon pilihan abinya adalah dia.
Imam dan Opik yang memang bertugas menjadi penyambut tamu, membawa masuk satu keluarga tamu mereka itu dengan senyum yang sama merekahnya dengan Umayyah. Bahkan mereka melirik Aini dengan lirikan godaan, seperti peristiwa ini akan menjadi satu sejarah besar dalam keluarga Buya Sholeh.
“Silakan duduk,” Umayyah mempersilakan. Ia ke belakang untuk membuatkan minum kepada satu keluarga yang berjumlah enam orang itu.
Aini buru-buru mengekori Umayyah karena abi dan umi sudah muncul di ruang tengah rumah ini dan menyambut keluarga itu.
Di dapur, ia menyenggol kakak perempuannya itu, benar-benar terlihat risih. “Dia yang mau...nge-khitbah aku?”
“Ya. Siapa lagi? Cuma ada satu tamu penting malam ini, dan dia yang datang.” jawab Umayyah agak acuh. Meski begitu, senyum simpul yang terulas di wajah ayu-nya, membuat Aini yakin sebenarnya kakaknya tak se-acuh itu.
Ia menarik-narik baju Umayyah, seperti anak kecil yang enggan naik wahana menyeramkan di tempat wisata. “Masa dia, sih, Kak?” Nada ucapannya terdengar tak ikhlas. Aini masih tidak percaya dengan pilihan orang tuanya. Iya sih baik agamanya... Tapi bukan dia juga, kali!, teriak benaknya lagi.
“Lho, kenapa? Harusnya kamu beruntung, dong, punya dia. Lulusan terbaik pesantren dan sekolah, sudah bekerja, tampan, hafidz 30 juz, lagi. Apa coba yang kurang?”
“Aduh, kakak kayak nggak ngerti aja, sih. Kami kan dulu—”
“Aku yakin kalian itu sama-sama suka, kok. Jalanin aja, kenapa, sih?”
Satu kalimat pertama Umayyah lah yang nyatanya diperhatikan Aini. Dengan wajah yang makin merah padam karena malu, Aini membalas,
“Aku nggak suka sama Yusuf, lho, ya, asal kakak tahu.”
“Oh, benar? Yakin? Orang tampan gitu, kok. Kalau belum dijanjikan mau dikhitbah sama Mas Fadli, kakak juga mau kok sama Yusuf.”
Ih! Sebel! Alhasil, karena ucapan ngeyel itu, Aini tambah cemberut dalam kesal yang bercampur aduk. Ia kini menggumul sendirian di dapur rumah sementara di ruang tamu sana, perbincangan antara orang tuanya dan orang tua Yusuf berlanjut. Tak mau mendengar sangkalan adiknya lebih lagi, Umayyah ke luar mengantarkan minum berupa delapan gelas teh manis hangat itu.
Berbagai pertanyaan seketika bersahutan di kepala Aini. Salah satunya soal bagaimana musuh bebuyutannya itu bisa ‘mau’ diajak ke mari.
Dan, akhirnya, terlontar jugalah pertanyaan itu dengan kata dan nada ketus begitu Aini berhenti di pintu ruang tamu.
“Kamu yakin nggak merasa dipaksa abi buat ke sini? Serius kamu mau melamar orang yang dulu sering kamu kata-katain ‘anak hitam’ itu?”
Dan,
Krik.
Krik.
Krik.
Sempurna, hanya keheningan yang menyelimuti ruang tengah. Kalimat pengingat masa lalu itu sukses membuat Yusuf tertegun.
“Tuh, kan.” Aini menunjuk-nunjuk Yusuf, tapi dengan kepala yang menoleh pada Buya Sholeh. “Bi, jangan paksa-paksa orang buat hal seperti ini, kenapa. Lihat, dia aja sampai mikir dua kali, tuh.”
Sontak seringaian dan senyum lebar yang mengisi wajah seisi ruang tengah. Mereka menanggapi ucapan tidak terima Aini itu seperti menanggapi bocah lima tahun ketika memerotes mainan yang salah beli.
Melihatnya, Aini makin cemberut. “Ih, giliran aku serius, kalian nanggapinnya bercanda!” Tanpa berminat lagi memandangi kegiatan di ruang tamu rumah ini, ia melengos ke luar rumah, pundung.
Tahu Aini hanya mau menikmati udara malam yang sedang segar, Yusuf jadi menyusulnya, tetapi sebatas pintu depan rumah ini saja.
Ia membuka obrolan diantara mereka itu dengan satu sapaan klise, “Aini,”
“Apa?”
Masih saja ketus.. Yusuf sampai menggeleng-geleng melihat kelakuan kekanak-kanakan gadis 16 tahun ini. Tapi demi meluruskan hal itu—alasan ia mau melamar Aini—mati-matian Yusuf meredam degup di dadanya yang masih belum bisa hilang ketika didaulat abi Aini untuk melamar gadis yang memang ia cintai. Sampai detik ini, Yusuf sendiri masih tak menyangka kalau yang dimaksud orang terdekat Aini itu adalah dia.
“Aku nggak dipaksa kok sama abimu.” ujarnya tenang, tanpa menunggu Aini berbalik kepadanya.
“Halah.. nggak usah bohong kamu.”
“Siapa yang bohong?”
“Nggak ada sejarahnya, tauk.”
‘Sejarah?’ “Tumben kamu jadi segitu peduli dengan sejarah.” Dan, Yusuf pun menarik napas untuk mempersiapkan kalimat pamungkasnya itu. Kalimat yang sebenarnya sudah dia tahan untuk terucap, sejak lama... sekali.
“...Ya kalau sudah cinta, mau gimana? Masa aku mau melamar yang lain?”
Sesuai dugaannya, Aini jadi membisu setelah kalimat itu terucap. Tadinya Yusuf ingin mendekati gadis itu dan menariknya ke dalam. Tapi ia masih sadar untuk tak meluapkan perasaannya pada Aini sebelum mereka menjadi halal, nanti.
Akhirnya, melanjutkan kalimatnya barusan, Yusuf hanya terkekeh pelan, “Aku nggak tahu kamu akan mau atau enggak bersanding denganku. Tapi banyak yang mau aku ceritakan ke kamu cuma setelah kamu halal bagiku.”
“...Dan menjawab pertanyaanmu yang tadi; ya, aku serius dengan ini semua. Aku serius melamar kamu, Ni.”
Kalimat terakhir itu berhasil membuat Aini berbalik. Terlihat sekali, semburat merah itu kembali memenuhi wajahnya. Yusuf mengulas senyum karenanya, begitupun Aini, meski hanya senyum tipis yang tersimpul di sana.
Selanjutnya, yang mereka tahu dari malam prosesi khitbah itu, semuanya berjalan lancar. Kedua orang tua dan keluarga mereka saling merestui, tanggal pernikahan ditentukan, dan yang masih saja terasa mengejutkan bagi Aini; malam itu Yusuf baru saja menyatakan perasaannya. Bukan hanya kagum, suka, atau sayang—tetapi cinta.
Yusuf mencintainya.
-YUSUF & AINI-