Sudah dua bulan berlalu. Umayyah tidak memandang apa yang terjadi dengan adiknya ini sebagai suatu kewajaran yang bisa ditolerir. Hal itu disebut kewajaran hanya karena Aini dan Yusuf-lah yang menganggapnya begitu. Tapi sebenarnya tak sekalipun hal itu dianggap wajar oleh Umayyah. Umayyah dan Fadli; suaminya, sama-sama tahu kalau di umur kehamilan delapan bulan seperti Aini sekarang, adik bungsunya itu akan lebih senang dimanja dan ditanyai kabar hampir setiap detik. Namun Aini seperti menyembunyikan keinginan itu rapat sekali, dalam-dalam, jauh di palung terdalam benaknya. Sejak kembali ke rumah orang tua mereka, perempuan itu masih terlihat ceria, enerjik, dan bahkan konsentrasi ibadahnya pun makin tak terkalahkan. Umayyah bukan tak bangga dengan itu semua. Makin hari ia justru khawati

