SEMINGGU berlalu, tanpa sepengetahuan Yusuf, Asep masih memikirkan pembicaraan intens terakhir mereka. Pembicaraan itu berlangsung begitu personal di antara dua orang laki-laki bertemperamen sama. Sampai-sampai Asep yakin, kalau uminya menonton atau mendengar pembicaraan itu, ia akan was-was atas konflik berkepanjangan yang tercipta—bukan antara ayah dan anak, tetapi antara dua laki-laki yang sama-sama egois. Pemutus pembicaraan malam itu masih betah membayangi pikiran Asep. Ia lekas tak enak hati setelah ke luar begitu saja dari ruang kerja Yusuf, meninggalkan abinya termenung sendirian. Definisi pepatah mulutmu harimaumu telah Asep rasakan semingguan ini. Hubungan ia dengan Yusuf yang memang sudah dingin, menjadi semakin dingin karena baris-baris kalimat dari dirinya sendiri: “Kenapa

