8 malam. Beribu kali lebih hangat dan ceria, itulah definisi sepadan untuk makan malam mereka kali ini. Menikmati selar dan lalap, mereka duduk melingkar di ruang tengah, tempat biasa untuk sesi makan keluarga semenjak meja makan merah mereka tidak cukup lagi untuk menampung 13 balad. Obrolan yang bergulir mayoritas tentang persiapan hari esok. Baik dari Yusuf dan Aini ataupun anak-anak mereka, semuanya mengatakan sudah siap untuk senin kesekian mereka di tempat masing-masing, entah sekolah atau tempat kerja. Untuk sesaat, Aini melirik suaminya di tengah suasana kekeluargaan itu. Ia menarik napas, sungguhan lega menyadari satu keceriaan yang selama ini hilang, telah kembali. Berbaikannya Yusuf dengan Asep sedikit banyak membawa perubahan pada suasana hati lelakinya. Aini pun menjadi jau

