"Aku sudah mengatakan sebelumnya, jangan berdebat denganku. Apalagi di saat segenting ini. Kamu lebih aman bersama Gericho di sana daripada ikut denganku, Cate. Apa kamu masih tidak mengerti? Kenapa susah sekali berbicara denganmu? Dan kenapa juga kamu selalu membantahku?!" Tristan mengusap wajah frustrasi.
"Aku hanya tidak bisa berdiam diri duduk manis di dalam helikopter itu di saat kamu sedang mempertaruhkan nyawa seperti sekarang ini. Aku tidak bisa, Tristan!" Tatapan Cate terkunci pada manik elang Tristan.
"Kenapa tidak bisa?!" Kali ini Tristan memicing tajam.
"Karena aku—" Caterina menghentikan ucapannya lanjut menelan saliva dengan kepayahan.
"Karena?" tanya Tristan dengan tatapan yang masih sama.
"Karena ... bukankah kamu calon suamiku? Aku tidak mau dihantui rasa bersalah seumur hidup jika terjadi apa-apa denganmu." Caterina mendadak bergetar mengatakan itu. Padahal, ada hal lain yang ingin ia gaungkan sekarang. Namun, ini bukanlah saat yang tepat. Caterina juga masih butuh waktu.
Mendengar penuturan tersebut, Tristan semakin mengerutkan dahinya. Merasa aneh. Ia masih ingin mengulik lebih dalam, akan tetapi suara ledakan dahsyat yang memendar di lantai bawah rooftop berikut getaran pada pijakannya sekarang langsung mengalihkan atensi bos mafia tersebut.
Suara riuh langkah kaki yang tengah menaiki tangga menuju pintu masuk rooftop gedung apartemennya itu pun tak kalah membuat ia menegang dengan memasang tatapan elang.
"Bersiaga, Cate. Pasukan musuh datang," tekan Tristan seraya mengeratkan genggaman tangannya pada shotgun hitam yang diberikan Vitto sebelumnya.
"Tapi ledakan apa itu tadi, Tristan? A-apa mungkin ..." Caterina yang sudah kembali menggenggam erat revolver milik musuh di tangannya itu seketika bergetar. Membayangkan sesuatu terjadi pada Vitto di bawah sana.
"Tidak, aku tahu Vitto tidak selemah itu, Cate. Dia akan selamat. Aku akan menemukannya dan membawanya pergi bersama kita."
Rasanya Tristan tidak akan menunggu dalam ketegangan yang terus mengeruk kekalutannya. Memberi kode pada sang tunangan agar mengikutinya, ia pun melangkah maju untuk menghadang musuh tepat di belakang pintu masuk rooftop tersebut.
Suara dobrakan pintu yang cukup mengejutkan karena diterjang dengan kasar, membuat Tristan memicingkan netranya tajam dan langsung mengarahkan ujung shotgun-nya tepat pada musuh yang satu per satu masuk melalui bibir pintu yang telah rusak.
Suara tembakan selongsong amunisi silinder yang terlontar dari shotgun yang berada di atas pundak Tristan itu begitu memekakkan telinga. Beberapa musuh langsung terkapar tanpa ada perlawanan apa pun.
"Tidak. Ini terlalu mudah," gumam Tristan dengan netra kembali memicing. Ia curiga dengan musuh yang sengaja memancingnya untuk menunjukkan keberadaan. Sebuah jebakan.
"CATE, MUNDUR!" teriak Tristan yang langsung mendekap Caterina erat seraya mundur beberapa langkah ke belakang dengan cepat bertepatan dengan suara ledakan yang memekakkan telinga keduanya.
Seorang musuh baru saja menembakkkan selongsong gotri-nya. Itu adalah shotgun yang sama seperti milik Tristan. Ia semakin mengeraskan rahang begitu menyadari jika lelaki yang memakai penutup wajah hitam beserta topi berwarna senada yang tengah memanggul shotgun di atas pundak itu adalah lelaki yang sama yang telah menyandera Caterina sebelumnya.
"Kau ..." Tristan sudah bersiap membidik shotgun-nya.
"Hai, Tristan ... kita bertemu lagi secepat ini ya. Aku pikir yang tadi itu adalah pertemuan terakhir kita."
Tristan tidak menyahut sedikitpun. Sekarang ia malah melengos menatap Gericho, pilot helikopter yang merupakan anak buahnya. Membuat sebuah gerakan mulut yang hanya dimengerti oleh anggota klan-nya saja saat dalam situasi seperti sekarang.
Tidak menunggu lama untuk Gericho terbang meninggalkan landasan helipad tersebut. Hal ini sontak membuat Caterina tertegun. Berpikir jika mereka akan terjebak di gedung tersebut bersama musuh tanpa bantuan.
Caterina masih dalam perlindungan Tristan. Bagaimana sekarang detakan jantung bos mafia itu memendar dengan ritme kacau menyapa rungunya.
"Cate, sekarang bidik semua musuh dengan akurat. Revolver berkaliber 44 di tanganmu itu hanya tersisa enam amunisi saja sekarang. Aku masih memiliki amunisi cadangan, tapi itu akan memakan waktu jika musuh berkerumun seperti ini di hadapan kita," tekan Tristan dalam pendaran suara yang sangat pelan.
"Okay, Tristan. Sudah cukup main-mainnya. Sekarang kau tidak punya pilihan lain lagi selain menyerahkan chips itu kepadaku dan aku akan melepaskan kau pergi ... bersama tunanganmu itu. Jangan pikirkan yang lain lagi, karena yang tersisa sekarang hanyalah kalian berdua."
Suara dari lelaki bernama Jevano itu diikuti oleh suara derap langkah kaki musuh yang menaiki rooftop tersebut. Terbilang ada sepuluh lelaki berpakaian serba hitam yang kini berdiri tegak di hadapannya. Jangan lupakan sebuah RPG yang berada di pundak salah satunya. Mereka benar-benar akan menghancurkan gedung apartemen Tristan.
"Chips? Jadi tujuan kalian ke sini karena chips? Seberapa pentingnya chips itu untukmu, Sialan?!" Tristan sudah mengumpat dengan tatapan nyalang. Emosinya terbaca dengan jelas sekarang. Pikirannya berkecamuk memikirkan nasib Vitto yang dikatakan sudah lenyap.
"Ya, chips. Bukankah itu adalah hartamu? Dan lagi pula itu bukan untukku, tetapi untuk bosku." Jevano terkekeh santai tanpa ada rasa gentar sedikitpun.
"Siapa yang menyuruhmu?!" tanya Tristan dengan suara pelan namun penuh tekanan. Ia mengarahkan Caterina agar berdiri di belakangnya sekarang. Saling memunggungi.
"Yang jelas itu bosku. Belum saatnya kau tahu. Karena bosku hanya menginginkan chips-nya. Berikan itu, lalu kau bebas," jawab lelaki tersebut, tenang.
Mendengar itu, seketika membuat Tristan terkekeh sarkas. Menggila seraya menyibak kasar rambutnya ke belakang.
"Apa kau melihat satu anak buahku di bawah? Sayang sekali jika kau menghabisinya. Karena chips itu ada padanya," ujar Tristan dengan netra menajam. Jarinya sudah bersiaga pada shotgun di tangannya. Demikian juga dengan Caterina yang mengarahkan revolver-nya pada musuh yang sudah berdiri mengelilingi mereka.
"Astaga. Aku sudah melenyapkannya. Berarti tidak ada cara untuk pergi lagi, Tristan! Kalian akan berakhir di ta—"
Suara tembakan pun memendar sumbang. Itu berasal dari shotgun milik Tristan. Ia benar-benar murka sekarang. Tidak mau menunggu lama untuk melontarkan tembakan senapan gentel-nya tersebut.
Bagaimana sekarang ia berputar dalam satu gerakan cepat hingga 600 tembakan terlontar setiap menitnya dari shotgun tersebut. Musuh-musuh tumbang. Tidak berbeda jauh dengan revolver di tangan Caterina yang juga sudah memakan korban.
Memastikan semuanya benar-benar terkapar, Tristan pun menarik tangan Caterina dan melompati tubuh-tubuh musuh yang tergeletak acak di atas lantai rooftop. Ia akan pergi ke kamar Vitto sekarang. Ingin memastikan sendiri jika yang dikatakan musuhnya itu adalah kebohongan. Tristan masih memiliki harapan besar akan keselamatan Vitto.
***
Tidak menunggu lama saat Tristan dan Caterina tiba di kamar Vitto. Namun pemandangan yang mereka lihat sekarang ini membuat hati Tristan mencelos dalam rasa sakit. Ia merasakan hancur seperti kamar Vitto yang kini juga hancur lebur.
Bagaimana sekarang puluhan layar monitor CCTV yang sebelumnya terpasang di dinding tersebut tergeletak hancur tak berbentuk. Belum lagi komputer kesayangan Vitto yang hanya tersisa puing-puingnya saja. Sepertinya kamar Vitto baru saja diledakkan dengan RPG milik musuh.
Namun, ia memicing saat melihat banyak musuh yang juga terkapar di lantai dengan keadaan mengerikan. Sejenak ia berpikir, apa Vitto sempat melakukan perlawanan sebelum akhirnya mereka menghabisinya?
"Vitto ... Vitto!" Suara Caterina segera menarik Tristan dari perang pemikirannya. Gadis itu terlihat mengitari kamar sahabatnya itu sampai kembali masuk ke kamar mandi. Tristan berlari mengikutinya. Ia takut saat memikirkan apa yang sebelumnya terjadi kepada Vitto.
"Tidak ada, Tristan. Vitto tidak ada. Apa dia benar-benar di—" Caterina yang mulai bergetar pun menghentikan ucapannya. Tidak sanggup meneruskan. Mendadak ia berkaca-kaca.
"Hei, jangan menangis. Kamu itu akan menjadi istri seorang bos mafia. Kamu harus kuat, Cate. Kematian juga bisa kapan saja datang menjemputku," ucap Tristan datar.
Caterina mendelik sekarang. "Berhenti mengatakan itu, Tristan. Kamu tidak akan mati sebelum mengingat semuanya tentang kita." Gadis cantik itu segera menyeka buliran bening yang tak disangka sudah lolos begitu saja di pipi putihnya.
"Mengingat apa? Aku sudah mengatakan ja—"
Ucapan Tristan terputus saat mendengar suara ledakan yang berasal dari lantai bawah. Sepertinya musuh akan meledakkan ketujuh lantai gedung apartemennya tersebut.
"Lari ke rooftop sekarang sebelum kita terjebak di sini, Cate! Aku belum mau mati sekarang. Aku belum menemukan pembunuh padreku. Aku tidak boleh mati sekarang," tutur Tristan cepat dan kembali menarik pergelangan tangan Caterina.
"Tapi ... Vitto?" Caterina masih sempat berucap ketika langkahnya sudah menjauh dari kamar Vitto.
"Dia selalu mengatakan ingin mati di Giardini Naxos, di mana kedua orang tuanya dibunuh. Aku tidak bisa berbuat apa pun."
Kalimat Tristan terdengar begitu datar dan tegar. Namun Caterina tahu, jiwa calon suaminya itu tengah terguncang sekarang karena baru saja kehilangan sosok Vitto Dominico.
Sama sepertinya, mengenal Vitto selama dua hari ini saja mampu membuat ia merasa memiliki sahabat berhati baik nan setia. Lalu bagaimana dengan Tristan yang sudah bertahun-tahun bersahabat dengan Vitto?
***
Menapaki kaki di atas lantai rooftop, Tristan dan Caterina lagi-lagi dibuat terkejut karena tidak mendapati satu jasad pun milik musuh yang sudah berhasil berhasil mereka tumbangkan sebelumnya. Semua semakin aneh saja, mengingat keadaan menjadi sepi pun senyap.
Tristan mengedarkan pandangan ke sekeliling rooftop, bersiaga. Musuhnya kali ini tidak bisa diremehkan. Sangat berbahaya.
"Tristan, bagaimana sekarang?" tanya Caterina dengan dadanya yang terus berdebar.
"Kita akan menunggu Gericho. Seharusnya dia sudah kembali menjemput kita sekarang," sahut Tristan cepat lanjut menghela napas berat.
"Arghh!" Tristan meringis kesakitan saat sebuah tembakan mengenai tepat di lengan kanannya. Membuat shotgun di tangannya hampir terlepas jika tidak kembali ia eratkan.
"Tristan!" Caterina mendadak panik saat melihat lengan berbalut jas navy yang dikenakan Tristan dipenuhi darah.
"Bu-buka jasmu, Tristan. Buka!" Caterina memaksa untuk melepaskan jas Tristan. Namun Tristan menghentikan tangannya.
"Tidak sekarang, Cate. Ini belum berakhir. Kita tidak boleh lengah. Aku sangat mengkhawatirkan keselamatanmu," ucap Tristan seraya menekan luka yang terus mengucur darah segar tersebut.
Caterina dengan napas yang terengah dalam ketidaktenangan hanya terkekeh miris. Ia segera merobek ujung dress yang ia kenakan dan mengikat lengan Tristan dengan itu untuk menahan darah mengalir semakin banyak sementara waktu.
"Aku benar-benar sedang latihan menjadi istri seorang mafia hari ini, Tristan." Caterina mengusap wajah perlahan. Ia takut tidak bisa bertemu ayahnya lagi setelah ini.
"Ya, setelah hari ini kamu memang tidak bisa lagi beristirahat dengan tenang, Cate. Kamu akan ikut merasakan bagaimana musuh selalu dekat denganmu. Seperti tarikan napas setelah kamu hembuskan."
"Aku tidak masalah akan hal itu. Aku punya Tristan Selvagio," timpal Caterina.
"Tidak, kamu harus bisa bertahan sendiri tanpa aku."
Kalimat terakhir Tristan memendar bersama sebuah ledakan. Keduanya spontan mundur. Lelaki bertopi hitam itu kembali mendekat dan tidak diketahui dari mana munculnya.
"Aku rasa, ini terakhir kalinya kita bertemu. Sebelum aku melenyapkanmu, Tristan." Sebuah seringaian terukir dari balik penutup wajah hitam tersebut.
***
To be continued ....