Pergi atau Tinggal

1363 Kata
“VITTO!” Tristan panik dan segera memasukkan revolver miliknya itu kembali ke dalam saku jas navy-nya. Kemudian bergerak cepat menarik Vitto keluar dari bathtub. Dengan gerakan yang ia perhitungkan setiap detiknya, Tristan membuka tali yang mengikat tangan dan kaki Vitto sedangkan Caterina melepas lakban hitam yang membungkam mulut lelaki tampan berkulit putih bersih itu. Mengerjap cepat, Vitto langsung menarik napas lega meskipun sedikit terengah sebelumnya. Namun, berbeda dengan Tristan yang sekarang malah bertambah gelisah melihat paha sebelah kiri Vitto yang terus mengeluarkan darah segar, termasuk bagaimana ia sekarang sadar jika sebuah peluru bersarang di dalam sana. “Vitto, apa yang terjadi? Siapa yang melakukan ini padamu?” tanya Tristan gusar. “Aku tidak tahu, Tristan. Aku tidak mengenal mereka. Ada belasan laki-laki berpakaian hitam dengan wajah tertutup kain hitam masuk ke sini. Hei, kau sudah memeriksa kamarmu?” Vitto tiba-tiba melebarkan netra bulatnya. "Kamarku? Tidak. Belum. Aku dan Caterina langsung naik ke sini setelah menghadang musuh di luar sana. Kau tahu, Vitto? Paballo ada bersama mereka. Paballo berkhianat. Orang yang sangat aku percaya setelahmu mengkhianatiku hari ini. Ia tidak mengatakan apa pun padaku, untuk siapa dia bekerja. Apa itu ... Gustav? Pria tua itu berada di balik semua serangan ini? Bukankah madre mengatakan kalau Henry dan Luca tengah melacak kita sebelumnya. Pasti mereka sudah tahu tempat persembunyian kita.” Tristan menatap Vitto dalam. Mencoba menyambungkan telepatinya. Caterina menutup mulutnya sekarang. Ia menggeleng cepat dengan hati mencelos seketika. “Tidak, Tristan. Tidak mungkin padreku dan Gustav melakukan ini. Bukankah kalian adalah klan sekutu?” ucap Caterina. “Tidak ada yang tidak mungkin, Caterina. Bahkan yang kamu anggap saudara bisa menusukmu tanpa terduga. Bukankah itu yang Paballo lakukan padaku hari ini?” tembak Tristan dengan perasaan geram. Bukan kepada sang tunangan, tetapi kepada sosok pengkhianat bertubuh gempal. Paballo. “Aku masih tidak percaya Paballo melakukan ini pada kita.” Vitto kembali berujar ketika tengah menahan kesakitan di sepanjang paha dan betisnya karena peluru yang terasa memanas mengoyak di dalam sana. “Aku tidak tahu ke—“ Sebuah suara dahsyat yang membuat gedung itu berguncang hebat, membuat perkataan Tristan terputus. Ia segera bangkit dan berjalan cepat keluar dari kamar mandi menuju pintu balkon. Tristan berdiri di sana, mengintip keluar tanpa menunjukkan dirinya. Ia pun terperanjat saat melihat gedung apartemennya dikepung oleh puluhan pasukan berseragam hitam dengan penutup wajah berwarna senada membawa senjata lengkap di tangan mereka. Tristan mendelik saat beberapa RPG dan belasan shotgun di arahkan ke gedung apartemen mewahnya tersebut. Ia kesusahan menelan saliva mendapatkan serangan tiba-tiba tersebut. Sudah terlambat untuk memanggil anak buahnya yang berada di markas yang berbeda. “Tenang, Tristan. Seperti yang pernah aku katakan. Aku sudah mem-prepare semuanya. Termasuk misi penyelamatanmu dan Caterina. Sekarang aku tanya, di mana kamu menyimpan chips-nya? Apa ada di kamarmu? Jika iya. Berarti kita habis hari ini. Karena mereka sudah terlebih dahulu mengobrak-abrik lantai bawah sebelum masuk ke kamarku,” jelas Vitto cepat bertarung dengan waktu. “Untungnya tidak ada di kamar, aku menyimpannya dengan aman bersamaku. Aku membawanya sekarang,” sahut Tristan tidak kalah cepat. Caterina memandang dua laki-laki tampan tersebut dengan kebingungan. Terus memikirkan chips apa yang mereka maksud? Apakah sama dengan hunter chips yang ia punya? “Bawa Caterina ke rooftop, Tristan. Kita tidak punya waktu sekarang. Aku sudah mengirim sinyal ke Gericho agar membawa helikopter ke sini dan menjemput kalian.” “Hanya aku dan Caterina? Lalu bagaimana denganmu?!” Tristan memicing tajam. “Aku ... ada yang harus aku selesaikan di sini. Yang terpenting itu kalian ber—“ “Apa kau sebodoh itu untuk terus bertahan di Giardini Naxos dalam keadaan segenting ini? JANGAN GILA, VITTO!” “Tristan benar, Vitto. Kami tidak akan pergi meninggalkanmu sendirian di sini. Apalagi dengan keadaanmu sekarang. Kita bahkan belum mengeluarkan pelurunya, Vitto. Pikirkan sekali lagi. Jangan mengorbankan nyawamu untuk semua ini. Aku tetap tidak akan pergi.” Caterina pun bersuara parau. Merasa seakan ini waktunya untuk berpisah. “KALIAN JANGAN KERAS KEPALA!” bentak Vitto dengan tatapan nanar pun kilatan bening yang siap jatuh dari sana. “Ka—“ Ucapan Vitto terputus karena suara ledakan yang terdengar lebih dahsyat dari sebelumnya. Tristan dan Vitto saling berpandangan. Mereka merasa semakin terancam dengan Caterina yang harus mereka jaga keselamatannya. Sesuai surat perjanjian yang telah ditandatangani Tristan bersama Henry sebelumnya. “Cepat, Tristan! Bawa Caterina ke rooftop gedung sekarang juga!” Suara Vitto kembali naik satu oktaf. Caterina tidak tahan lagi untuk tidak menjatuhkan air matanya sekarang. Ia bergeming menatap Vitto yang sedang duduk di atas kursi menghadap meja komputer. Entah apa yang dikerjakan laki-laki itu. Gerakan jarinya sangat lincah menari di atas keyboard. “Bagaimana denganmu?” tanya Tristan kalut. “Aku ... aku akan menyusul kalian nanti. Cepat!” Kini atensi Vitto sudah teralihkan dari layar komputer. Menatap Tristan dan Caterina bergantian. Mencoba meyakinkan calon pasangan pengantin tersebut. “Aku akan menunggumu di rooftop. Tapi ... bagaimana kau akan bergerak naik ke atas sana dengan keadaan kakimu seperti itu?” tanya Tristan lagi dengan tatapan yang masih sama. “Kau meremehkanku? Kau pikir bagaimana barusan aku keluar dari kamar mandi sampai ke sini? Mengisut?” Vitto masih sempat menguar kekehan kecilnya. “Demi padre dan madremu, Tristan. Dengarkan aku kali ini.” Vitto memelas. Membuat Tristan memejamkan netra dan akhirnya mengangguk pasrah—setuju. Tristan segera menarik Caterina dan membawa bersamanya. “Tunggu, Tristan!” Baru beberapa langkah mereka berjalan, suara Vitto kembali memendar menahan keduanya. Tristan pun berpaling menatap Vitto yang kini memegang sebuah shotgun di tangan kekarnya dan melemparkan ke arahnya. “Bawa ini. Aku rasa revolver-mu itu tidak cukup untuk melindungi diri dari musuh yang datang mengepung,” ucap Vitto dengan mengulas senyuman hangat. Tristan menangkap shotgun tersebut dan ikut mengulas senyuman. Namun bukan senyuman hangat, melainkan senyuman penuh kegetiran. Merasakan jika perpisahan itu semakin dekat dengan keduanya. *** Tristan dan Caterina berlarian di tangga yang akan membawa mereka ke rooftop. Keduanya melakukan semua yang dikatakan Vitto. Meskipun hati terasa berat meninggalkan Vitto di kamarnya dalam keadaan terluka seperti itu. Mereka sudah tidak punya banyak waktu. Benar seperti yang dikatakan Vitto, di mana Tristan dapat melihat sebuah helikopter yang dikendarai seorang pilot berusia muda, mengambang rendah di atas helipad rooftop. Itu Gericho, yang merupakan anggota klan Moreno, anak buah Tristan. “Sir! Kita tidak punya banyak waktu. Pasukan musuh sudah bergerak masuk ke dalam gedung. Mereka membawa senjata lengkap. Bahkan aku melihat RPG itu mereka tembakkan berulang kali ke arah gedung. Mereka akan menghancurkan tempat ini, Sir! Ayo cepat!” Pemuda bernama Gericho itu berteriak dari dalam helikopter yang dikendarainya. Tristan mengangguk cepat dan segera membawa Caterina yang sejak tadi tidak bersuara untuk menghampiri helikopter tersebut. Selesai membantu Caterina naik, Tristan mundur. Hal itu sontak membuat Caterina menarik tangan Tristan yang sejak tadi menuntunnya naik. “Kamu mau ke mana, Tristan? Aku ikut,” tutur Caterina parau. “Jangan bodoh, Caterina. Aku membawamu ke sini untuk menyelamatkanmu. Kenapa kamu malah ingin ikut denganku? Sekarang diam saja di dalam sini dan aku akan membantu Vitto di bawah. Dia pasti kesusahan di bawah sana sendirian menahan musuh. Tolong dengarkan aku,” sergah Tristan cepat. “Tapi, Sir. Vitto menyuruhku untuk membawa Anda dan tunangan Anda saja. Tanpa ... Vitto,” sela Gericho dengan wajah lesu. “Apa?!” Tristan mengeleng cepat dengan rahang mengeras sempurna dan segera berbalik setelahnya. Ia berniat untuk menyusul Vitto. Akan tetapi, sebuah ledakan dahsyat yang mengenai pagar pembatas rooftop gedung tersebut membuatnya terperanjat. Tidak berbeda jauh dengan Caterina yang kini kembali bergetar ketakutan. Sungguh, ia belum pernah menghadapi kondisi seberbahaya ini dalam hidupnya. Ia merindukan sosok padrenya sekarang, Henry Valerio. Sosok yang selalu menjaga dan melindunginya selama ini. Namun, menatap Tristan sekali lagi yang sudah mengarahkan shotgun-nya ke arah pintu masuk rooftop, membuat ia rela seketika. Rela membuat dirinya masuk ke dalam bahaya seperti sekarang. Di mana Caterina melompat turun dari helikopter untuk menyusul Tristan dengan revolver hitam yang ia genggam erat pada kedua tangan. Siap ia bidik ke arah musuh yang akan menghadang mereka di depan. Tristan pun terkejut dengan tatapan bergetar yang diarahkan kepada sang tunangan yang selalu membuatnya menggeram kesal. “Kamu sangat keras kepala, Cate.” “Untuk satu hal ini ... kita selalu sama, Tristan.” To be continued ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN