Sebuah selusur hangat yang tiba-tiba menyapa bahu Caterina langsung membuat ia mendongak. Sesaat menahan napas melihat satu sosok yang tidak mau ia akui jika telah ia rindukan sejak beberapa waktu lalu.
Jika Caterina sebenarnya merindukan sosok lelaki tampan tersebut, maka berbanding terbalik dengan satu sosok lain yang kini mengeraskan rahang melihat kedatangan lelaki itu.
"Sialan! Bos harus tahu ini. Target N2 gagal aku lenyapkan." Dengan cepat ia menghubungi kembali sosok di seberang sana yang tidak lain adalah otak dari penargetan Caterina.
"Sir, misi gagal. Target N2 tengah bersama target X-1 sekarang. Aku harus bagaimana?" Lelaki bertopi hitam itu masih memendar kegusaran. Revolver hitamnya pun ia turunkan. Benda berkaliber 44 itu gagal ia tembakkan ke arah Caterina.
"Lenyapkan kedua target. Ini kesempatan emas untuk kita," balas bosnya di seberang sana dengan suara bariton yang memendar tenang.
Mengenggam erat senjata mematikan tersebut, ia pun melebarkan netra mendengar jawaban dari bosnya.
Sosok misterius tersebut kembali melanjutkan kalimatnya dengan suara yang sangat pelan setelah kesusahan menelan saliva. "Target X-1 harus dilumpuhkan hari ini juga? Bukannya sebelum ini Anda mengatakan punya rencana khusus untuk target X-1? Lalu sekarang apa rencananya berubah, Sir?"
"Kerjakan saja perintahku, Jevano. Jangan membantah. Ingat, kau dan adikmu berhutang nyawa padaku. Tenang saja, aku juga mengirim rekanmu yang lain ke sana. Kau tidak sendirian," sahut bosnya lagi. Kali ini penuh penekanan.
Di sisi lain, Caterina tengah mengulas senyuman manis ke arah lelaki yang kini menarik tangannya cepat hingga ia terpaksa bangkit dari duduk nyamannya.
"Tristan? Kamu sudah pulang? Kenapa cepat sekali?" tanya Caterina begitu ia sudah menegakkan torsonya. Persis berhadapan dengan tunangannya itu sekarang.
"Jangan tanyakan apa pun. Sebaiknya kita kembali ke apartemen dan segera bersiap-siap kembali ke Palermo." Tristan berucap cepat dan kembali menarik pergelangan gadis cantik itu, menyeret penuh tuntutan. Tampak tergesa-gesa.
"Kenapa buru-buru sekali? Aku sedang menikmati pemandangan di sini, Tristan. Aku masih mau di sini. Beri aku waktu setengah jam lagi. Okay?" Caterina memelas.
"Apa?! Setengah jam lagi?! Kamu menunggu sampai kita mati dan membusuk di sini, hah?!" Tristan menaikkan suaranya.
Caterina yang terkejut pun segera menghentikan langkahnya. Ia menatap Tristan datar sekarang. "Apa masalahnya sekarang? Aku bahkan tidak tahu apa pun. Kamu tidak menjelaskan yang sebenarnya, Tristan. Sekarang lihat aku."
Caterina langsung melepas genggaman tangan Tristan dan kini beralih menangkup wajah tampan sang tunangan. "Aku ini calon istrimu, kan? Aku berhak tahu masalah apa yang kamu hadapi seka—Tristan awas!"
Caterina tidak melanjutkan kalimatnya dan langsung memeluk Tristan hingga keduanya limbung dan kini terguling beberapa kaki di atas hamparan pasir putih tersebut. Gadis bersurai kecoklatan itu baru saja melihat ujung sebuah shotgun yang diarahkan kepada mereka berdua. Tepat di balik pohon pinus di belakang Tristan. Shotgun milik lelaki dengan kain penutup wajah berwarna hitam dan juga pakaian dengan warna senada.
Tristan yang kini tergeletak di atas pasir bersama Caterina, segera bangkit dengan sebelah tangan membantu Caterina untuk ikut menegakkan torsonya. Tidak menunggu lama baginya untuk mengeluarkan sebuah revolver hitam mematikan dengan amunisi penuh dari dalam saku celananya.
"Lari ke apartemen, Cate. Temui Vitto," tekan Tristan dengan suara yang nyaris tidak terdengar. Ia tidak ingin musuhnya tahu gerak-geriknya. Setidaknya, ia harus menyelamatkan Caterina terlebih dahulu. Berdiam terlalu lama bersamanya hanya akan membuat nyawa calon istrinya itu terancam.
"Ta-tapi bagaimana denganmu?! Aku tidak mungkin meninggalkanmu sendirian di sini. Aku ti—"
"Ini bukan waktunya untuk berdebat. Ikuti perintahku. Cepat!" Kali ini volume suara Tristan kembali naik satu oktaf. Namun matanya tidak sedikitpun lalai untuk mengamati sekitarnya. Ia tiba-tiba sadar, sekarang ada beberapa titik musuh yang mengepungnya.
Sesaat ia ragu untuk membiarkan Caterina berlari sendirian ke dalam apartemen. Ia harus mengantar Caterina sampai ke tempat tujuan dengan selamat. Maka setelah berpikir cepat, Tristan pun menarik pergelangan tangan kanan Caterina dan membawanya pergi sembari berlarian. Membuat gadis itu menurut dengan ribuan pertanyaan berkecamuk di dalam benaknya.
Namun, baru beberapa kaki mereka lewati, suara tembakan yang terlontar dari shotgun milik lelaki dengan penutup wajah itu membuat Tristan melompat cepat sembari memeluk Caterina. Mereka kini berakhir jatuh di dekat sebuah batu besar di pinggir pantai tersebut.
Tristan menyeret tubuhnya untuk berlindung di belakang batu besar itu dan diikuti oleh Caterina. Keduanya terengah sekarang. Terlalu terkejut mendengar suara tembakan yang memekakkan telinga.
"Kamu diam di sini. Aku harus menangani ini secepatnya. Kali ini kamu harus mendengar perkataanku jika ingin selamat. Apa pun yang terjadi, jangan keluar dari tempat persembunyian," tegas Tristan pada Caterina. Gadis itu hanya mengangguk pelan walau masih tidak mengerti situasi apa yang sekarang dihadapinya.
"Gadis pintar ..." Tristan menepuk pelan pucuk kepala Caterina lanjut merangkak untuk memeriksa keadaan. Ia masih belum tahu pasti titik musuhnya.
Akan tetapi, netranya tiba-tiba menangkap sebuah siluet berpakaian serba hitam dengan topi yang tertangkup nyaman di atas kepala tengah berdiri—bersembunyi—membelakanginya. Tristan pun menyeringai.
Ia bangkit perlahan, mengendap-endap, mencoba mendekati musuh. Sialnya, ketika ia hampir mencapai targetnya, suara tembakan yang terlontar dari arah lain membuat ia terjatuh, Tristan memegang bahunya yang kesakitan.
Sedikit terasa panas karena sebuah peluru baru saja menyerpih kulit di lengan atasnya. Membuat jas navy-nya sedikit tersobek. Memang tidak fatal, namun ia meringis karena rasa kebas yang tiba-tiba menguar di sepanjang lengannya.
Menahan kesakitan, Tristan dengan cepat menembakkan revolver-nya ke arah asal peluru yang mengenainya tadi.
"Arggh!"
Tristan mendengar sebuah suara yang menguar dalam kesakitan. Sepertinya tembakannya berhasil mengenai lawan. Ia pun kembali berbalik untuk melihat sosok bertopi di bawah pohon pinus. Namun sayang, musuhnya itu menghilang dari pandangan.
Tristan menghela napas berat. Merasa seperti di permainkan oleh musuh. Andai saja musuhnya itu sekarang nyata berdiri di hadapannya, maka ia lebih memilih menghajar mereka dengan tangan kosong bersama semua kekuatan yang ia punya. Tidak dengan cara seperti ini.
Kini ia menggerakkan tungkainya perlahan mendekat ke arah pohon pinus satunya, hendak memeriksa satu musuh yang tumbang karena revolver miliknya. Jantungnya berdetak lebih cepat sekarang. Berpikir jika yang ada di balik pohon pinus itu adalah musuh yang sama yang telah melenyapkan sang ayah tercinta.
Tatapannya begitu murka saat melihat sosok laki-laki misterius yang tergeletak di atas pasir sembari memegang lengannya yang tengah dialiri darah segar akibat tembakan Tristan barusan.
Dalam sekali gerakan, Tristan menarik penutup wajah laki-laki tersebut dan sukses menganga kemudian. Cukup dibuat terkejut, karena yang sekarang tengah ia paksa berdiri itu adalah ....
"Paballo?? Kau?!" Tristan begitu murka sekarang. Ia menatap nanar. Lelaki misterius yang ia duga adalah musuh atau anak buah dari pembunuh mendiang ayahnya itu ternyata adalah anak buah yang merupakan orang kepercayaannya sendiri. Anak buah yang ia pikir adalah orang yang setia di dalam klan Moreno setelah Vitto.
"Kau mengkhianatiku, hah?! Kau berkhianat?! BERENGSEK! Kau bekerja untuk siapa sekarang?!" Tristan sudah mencengkeram erat kerah baju lelaki bertubuh gempal pemilik nama Paballo tersebut. Kemarahannya sudah di ubun-ubun.
"JAWAB AKU, SIALAN! Kenapa hanya diam saja?! Siapa yang menyuruhmu untuk menyerangku? KATAKAN!!" Tristan berteriak tepat di depan wajah anak buah kepercayaannya itu.
"Berengsek kau, Paballo! Kau tahu bagaimana selama ini aku mempercayaimu? Kau dan Vitto adalah dua anggota klan yang paling aku percaya. Oh, biar aku tebak. Jangan bilang ... kau yang memberitahu musuh kita tempat persembunyianku ini? Dan pesanmu tadi pagi yang mengatakan bahwa Benigno memajukan agenda pertemuan itu hanya untuk memancingku agar keluar dari apartemen, hah?! Tunggu, apa mereka mengincar tunanganku juga? JAWAB AKU PABALLO SEBELUM AKU LEDAKKAN KEPALAMU!" Tristan menguar tatapan nyalang.
"A-aku ..." Paballo tampak ketakutan. Ia tidak bisa berkutik di hadapan pimpinan klan Moreno tersebut.
"PABALLO! Jangan menguji kesabaranku! Kau kenal aku, kan? Aku bisa saja menghabisimu sekarang, kau tahu?!"
"Maafkan aku, Donathan."
"Tristan!" teriak Tristan lagi.
"I-iya, Tristan. Maafkan aku. Mereka mengancam akan membunuh anak dan istriku jika aku tidak menuruti mereka. Maafkan aku." Paballo memelas.
Mendengar itu, Tristan langsung meninju batang pohon pinus di belakang Paballo. Rahangnya mengeras dengan amarah memuncak. Dadanya naik turun hingga membuat Paballo bergetar ketakutan.
"KURANG AJAR!" teriaknya lagi.
"Sekarang katakan padaku, siapa dalang dari semua ini, Paballo? Apa Benigno dari klan Desperado itu terlibat?!" selidik Tristan dengan tatapan nanar.
"Ti-tidak. Bu-bukan Benigno. Yang menyuruhku itu ... sebenarnya—"
Kalimat Paballo terputus karena sebuah suara tembakan yang memekakkan telinga. Tristan tahu itu suara revolver yang sama seperti miliknya. Ia pun buru-buru mengedarkan pandangan dan berakhir melebarkan netra.
Seorang laki-laki berpakaian serba hitam dengan topi berikut penutup wajah berwarna senada tengah menyandera Caterina. Mengarahkan benda mematikan itu tepat di kepala calon istrinya.
"Cate?" Tristan semakin tersalut emosi.
"LEPASKAN PABALLO! BIARKAN DIA PERGI! Atau ... hari ini kau akan melihat gadis ini mati di tanganku!"
***
To be continued ....