Crazy Stalker

1493 Kata
"Kau akan bergerak sekarang?" Gustav bertanya hati-hati saat melihat Henry yang tengah memakai coat hitam itu dengan cepat. Ia sekarang berada di kediaman Henry. Mereka baru saja merencanakan sebuah misi penting. Menjauh dari pantauan Amadhea ia rasa adalah hal terbaik untuk sekarang. Ia tahu, istrinya itu sangat sensitif jika ia tengah berbicara soal Tristan bersama Henry. Maka, pergi ke rumah sahabat sekaligus tangan kanannya itu dirasa adalah hal yang lebih baik untuk ia lakukan bersama putranya, Luca. "Aku dan Luca akan langsung berangkat sekarang, Gustav. Ayo, Luca." Henry melirik kecil ke arah pemuda yang sejak tadi terdiam bersandar di tembok sembari memainkan revolver di tangannya. Henry pun berdecak setelahnya. "Gunakan itu dengan baik kali ini, Luca. Jangan sampai salah sasaran seperti kejadian dua tahun lalu." Henry menghela napas berat. "Aku tahu apa yang harus aku lakukan, Henry. Tenang saja." Luca menarik satu sudut birainya. "Bagus. Tunggu apa lagi, kau yang menyetir, kan?" tanya Henry seraya menatap Luca lamat-lamat. Ia selalu khawatir dengan sikap menggebu dari putra Gustav Patrizio tersebut. "Ya. Seperti yang kau mau, Henry. Aku hanya sudah tidak sabar untuk bertemu Caterina." Luca menegakkan torsonya dan segera berlalu meninggalkan Henry dan ayahnya yang menguar tatapan curiga. "Gustav, aku tidak mau jika Luca sampai mengganggu pernikahan putriku dan Tristan. Kita sudah menyusun rencana ini dari lama. Kau harus ingat itu. Aku tidak akan memaafkan putramu jika sampai terjadi hal-hal yang selalu aku takutkan." Henry memainkan lidah di dalam mulutnya. Gustav bukannya tidak tahu maksud Henry. Hanya saja, membuat kesepakatan dengan putranya itu lebih menjebak dan melelahkan dibanding berdebat dalam pertemuan antar pimpinan mafia. Namun, saat mengingat satu hal, Gustav langsung mengulas senyuman hingga memperlihatkan dimple manisnya yang tidak pernah hilang dimakan usia. "Luca biar jadi urusan Amadhea. Anak itu selalu tidak bisa berkutik jika tengah berhadapan dengan istriku itu. Jadi, kita mengandalkan Amadhea sekarang, Henry." *** "Ka-kamu ... datang juga? Maksudku, kamu kenapa masuk ke sini tanpa mengetuk pintu terlebih dulu, Tristan?" Caterina terperanjat dan langsung bangkit dari pembaringan nyamannya, di tempat tidur, begitu melihat Tristan yang kini berdiri tepat di bibir pintu kamarnya. Ah, sebenarnya kamar Tristan yang sementara ini ditempatinya. Tristan langsung terkekeh dan menggelengkan kepala. Senang sekali melihat seorang tawanan yang begitu mudah dikendalikannya. "Kamu bahkan tidak mengunci pintunya. Bukankah artinya ... kamu yang menungguku datang?" tembak Tristan tepat sasaran. Tungkainya kini digerakkan perlahan. Mendekat ke arah tempat tidur "I-itu karena kamu sendiri yang mengatakan akan ..." Caterina menghentikan ucapannya. Ia menggosok tengkuknya yang tiba-tiba meremang. "Apa? Katakan saja apa yang ingin kamu katakan." Tristan kini sudah duduk di tepi tempat tidur dan langsung meletakkan dua buah paper bag yang sejak tadi berada dalam genggaman tangan kekarnya. "Ini apa?" Caterina malah mengernyit menatap benda yang dibawa Tristan. Sebenarnya hanya ingin mengalihkan pembicaraan. "Itu pakaian untukmu. Pakai itu sekarang atau ... besok saja. Malam ini aku lebih suka kamu memakai T-shirt milikku. Okay, besok pagi saja dipakai setelah mandi bersama." Tristan sepertinya tidak sadar, jika perkataannya barusan membuat pikiran Caterina melanglang buana dalam debaran yang semakin gila karena ulahnya. "Ka-kamu mau apa? Bukannya kamu mengatakan tidak akan menyentuhku sampai pernikahan kita resmi dilangsungkan? Ka-kamu berubah pikiran?" Caterina terbata pun menelan saliva dengan kesusahan sesaat setelah Tristan kini berbaring di sisinya. "Ya, tidak akan kusentuh. Hanya ..." Tristan langsung menarik Caterina agar kembali merebahkan tubuhnya dengan posisi membelakangi Tristan. "Hanya ingin aku peluk seperti ini saja." Dengan leluasa Tristan memeluk gadis itu dari belakang. Menghantarkan rasa remang yang lebih dahsyat bagi Caterina. Ia merutuki dirinya sekarang. Betapa bodohnya ia tak bisa berkutik saat bersama pimpinan mafia yang baru sehari berstatus tunangannya. Caterina pasrah dan berusaha baik-baik saja saat hembusan napas hangat Tristan terus menyapa ceruk lehernya. Kegilaan tunangannya ini memang tiada akhirnya. Caterina yang mendadak jadi penurut begini adalah suatu pemandangan langka. "T-Tristan, aku tidak bisa tidur jika kamu terus memelukku begini." Caterina akhirnya mampu melayangkan tanda protes yang sejak tadi ia tahan. "Biarkan dulu seperti ini, Cate. Mungkin ini kali terakhir kita bisa melakukan ini," gumam Tristan dengan netra yang sudah terpejam. "Kamu berbicara aneh. Seolah-olah kita tidak akan bisa sedekat ini setelah pernikahan. Apa tebakanku benar?" tanya Caterina sembari menggigit bibirnya gusar. Hening. Menunggu belasan detik, namun tidak ada jawaban apa pun dari Tristan. Berpikir lelaki itu sudah terlelap, akhirnya Caterina ikut memejamkan netranya. Harus ia akui, diperlakukan seperti ini membuat ia tenang pun nyaman. Rasanya tidak mau malam ini berlalu dengan cepat. Tristan membuka matanya sekarang. Ia menghembuskan napas perlahan dalam rasa gusar. "Maafkan aku, Cate. Aku bahkan tidak bisa berjanji akan menyentuhmu setelah pernikahan kita. Aku ... tidak bisa melakukan lebih dari ini tanpa adanya cinta." *** Caterina mengerjap cantik dengan netra hazelnya. Suara langkah kaki yang terdengar buru-buru itu menyapa rungunya, hingga ia pun terjaga. Mengucek netra perlahan lanjut mengedarkan pandangan, Caterina akhirnya mampu melihat sebuah siluet gagah tengah kesusahan memasang dasi di kerah kemeja yang sudah dibalut jas navy tersebut. "Tristan? Kamu mau pergi? Ke mana?" Ia melirik sekilas pada jam weker di atas nakas sisi tempat tidur dan semakin mengernyit dalam. "Ini masih terlalu pagi. Apa kita akan kembali ke Palermo sekarang?" tanya Caterina penasaran. "Tidak, Cate. Ada pertemuan yang harus aku hadiri sekarang," ucap Tristan dengan tatapan masih terpaku pada cermin meja rias di hadapannya. Ia selalu kesusahan memakai dasi jika sedang terburu-buru seperti ini. "Tristan ..." panggil Caterina lembut. "Iya?" sahut Tristan tanpa sedikitpun mengalihkan atensinya dari cermin. "Ke sini ..." panggil Caterina lagi. "Apanya?" Kali ini Tristan memutar torsonya 45 derajat untuk bisa melihat Caterina di belakangnya. "Ke sini dulu," panggil tunangannya lagi. Tidak menunggu lama untuk Tristan mendekat ke tempat tidur di mana Caterina tengah duduk sekarang. Sampai di depan sang tunangan, Tristan tercekat saat dasinya ditarik cepat. "Cate, aku sudah rapi. Jangan diacak-acak lagi." Tristan terkekeh sembari menahan tangan Caterina. "Apanya yang diacak? Aku hanya mau membantumu memasang dasi. Diam saja, okay?!" sergah Caterina lalu menepis tangan Tristan dan melanjutkan niatnya. Diperlakukan seperti itu, Tristan malah semakin takut. Takut tidak bisa membalas kebaikan gadis di depannya. "Jadi, ada pertemuan apa jika aku boleh tahu?" tanya Caterina begitu selesai memasangkan dasi berwarna navy tersebut. "Pertemuan dengan klan Desperado. Ke gudang mereka. Barang yang aku pesan sudah sampai dan aku harus memastikannya. Tidak jauh, hanya setengah jam dari sini. Kamu di sini dulu bersama Vitto ya. Jangan keluar apartemen tanpa ada Vitto yang menemani. Akan lebih baik jika kamu di sini saja. Habiskan waktumu dengan menonton, belajar memasak atau apa pun itu. Okay? Aku pergi sekarang." "Kenapa penampilanmu seformal itu?" Pertanyaan Caterina langsung menghentikan Tristan yang akan menarik gagang pintu kamar. Ia menoleh cepat. "Aku akan bertemu pimpinan klan terbesar di kota ini, Cate. Penampilanku akan meyakinkan mereka. Hanya itu yang bisa aku jelaskan. Sampai bertemu nanti ya." Tristan berucap cepat dan langsung menghilang di balik pintu bercat putih tersebut. Meninggalkan Caterina yang menghela napas berat. Ia pasti akan merasa bosan setelah ini. *** Caterina yang sudah memakai dress selutut berwarna coklat nude itu, harus menghela napas lelah. Lagi. Ia sedang dilanda kebosanan. Menonton televisi membuat ia mengantuk hingga ia memutuskan untuk mencari Vitto. Berjalan memasuki elevator yang akan membawanya ke lantai tujuh di mana kamar Vitto berada, Caterina terus berdecak frustrasi. Perasaannya tidak tenang sejak Tristan meninggalkan apartemen dengan tergesa-gesa. Ia sekarang tiba di lantai tujuh dan tidak menunggu lama untuk menemukan Vitto. Namun, Caterina dilanda rasa kecewa sekali lagi saat melihat lelaki yang ia ketahui merupakan sahabat tunangannya itu kini tengah terlelap dengan sangat manis seperti bayi di atas sofa. Caterina jadi tidak tega membangunkan Vitto. Berpikir jika laki-laki itu bergadang semalaman untuk memastikan keamanan mereka. Mengamati sekeliling kamar Vitto, tatapannya pun terhenti. Ia langsung menelan saliva melihat puluhan monitor komputer CCTV pada salah satu sisi tembok dindingnya. Sudah dipastikan jika Vitto sangat kelelahan, hingga belum terbangun sampai sekarang. "Lebih baik aku ke pantai sendiri saja. Hanya ke pantai depan apartemen tentu tidak akan jadi masalah. Tristan tidak akan marah," gumam Caterina dan segera meninggalkan kamar apartemen Vitto. *** Berjalan santai ditemani suara deru ombak pantai yang membuai, Caterina kegirangan. Ia berputar-putar seraya berlarian kecil di atas hamparan pasir putih tersebut. Seperti healing tersendiri setelah melewati minggu ini dengan menegangkan. Apalagi mengingat besok ia akan kembali berkuliah seperti biasanya. Pihak kampus memang tidak tahu-menahu jika ia adalah seorang Caterina Valerio yang akan menikah beberapa hari ke depan. Ia menyembunyikan identitasnya. Sama seperti Tristan. Caterina kini duduk di atas salah satu bangku kayu bercat putih tepat di bawah sebuah pohon kelapa yang menghadap ke arah pantai. Ia pun memejamkan netra menikmati semilir angin pagi yang mengurai surai panjang kecoklatannya. Begitu tenang. Caterina tidak pernah menyadari jika rasa tenang yang dirasakan sekarang hanyalah fatamorgana yang disuguhkan oleh satu sosok yang berdiri di belakang pohon pinus besar tidak jauh darinya. Menatap bengis dengan senyuman smirk yang tidak berhenti menguar. "Target N2 sudah di depan mata, Sir," ucapnya tiba-tiba. Ia sedang berbicara dengan seseorang di seberang telepon melalui handsfree bluetooth yang tersampir di rungu kanannya. "Okay, Sir. Aku sudah mengunci bidikannya. Setelah ini, satu hutang Tristan terbayarkan dengan nyawanya." *** To be continued ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN