Arwah Bayi

1760 Kata
"Kenapa kamu mengganggu Adik ini?" tanya Marcell membuat ketiga teman Gadis melongo melihat Marcell yang mulai berbicara. "Aku tidak mengganggu Kak, aku hanya ingin minta tolong," ucap Gadis sambil menangis dengan nada seperti seorang anak kecil. "Minta tolong apa, kamu siapa?" tanya Marcell lembut. "Bantu aku menemukan jasadku Kak, aku dibuang dibelakang sekolah ini Kak," ucap sesosok bayi yang merasuki tubuh gadis sambil menangis. Ketiga teman Gadis hanya melongo, mereka tak percaya dengan apa yang mereka lihat, sungguh sangat tak masuk akal. "Siapa yang membuangmu Adik manis?" tanya Marcell lembut dengan nada seolah seperti sedang berbicara dengan anak kecil. "Seorang wanita yang pernah mengandungku Kak. Dia dulu bersekolah di dekat sekolah ini Kak, namun dia hamil dengan pacarnya, tetapi pacarnya tidak mau bertanggung jawab." ucap arwah bayi malang itu sambil menangis pilu. "Jadi saat wanita itu melahirkan di toilet sekolah tanpa sepengetahuan siapapun, dia membungkusku dalam plastik dan membuangku hidup-hidup di belakang sekolah ini Kak, Sampai akhirnya aku meninggal karena tak ada yang menemukanku, dan tubuhku telah membusuk" ucap bayi yang merasuki tubuh Gadis itu sambil menangis terisak mengingat kejadian yang memilukan itu. Mudita, Paramita dan Ratana juga ikut menangis. Mereka membayangkan betapa tragisnya kejadian saat itu. "Lalu setelah kami menemukan jasadmu, apa yang harus kami lakukan Adik?" tanya Marcell dengan tenang, walaupun sebenarnya dia juga merasa ngeri mendengarkan cerita bayi tak berdosa yang telah meninggal ditangan ibunya sendiri itu. "Aku mau minta tolong agar Kakak menguburkan aku dengan layak walaupun sekarang jasadku tinggal tulang," ucap sesosok bayi itu kepada Marcell dengan nada sedih, membuat Mudita, Paramita dan Ratana menangis semakin sesenggukkan. Ternyata pikiran Marcell salah, dia sempat berpikir jika sesosok bayi itu akan memintanya untuk memberikan jasadnya itu ke orang yang telah membuangnya. "Apakah Adik bersedia jika Kakak mengkremasi tulang-tulang Adik dan melarungnya ke laut?" Tanya Marcell lembut, karena selama ini ia menggunakan tradisi pemakaman yang seperti itu. "Iya Kak aku mau," jawab sesosok bayi yang meminjam raga Gadis untuk menyampaikan keinginannya itu. "Baiklah setelah ini kami akan menemukan jasadmu ya Adik kecil, sehingga kamu bisa melanjutkan perjalananmu dengan lebih tenang," ucap Marcell yang membuat tangisan sesosok bayi itu berhenti. "Kita doakan, semoga karma baik yang adik kecil lakukan di masa lampau, dan juga cinta kasih yang kita pancarkan kepada Adik kecil, bisa membawa Adik kecil ke jalan kedamaian sehingga dapat terlahir di alam yang berbahagia," ucap Marcell yang diikuti oleh Mudita, Paramita dan Ratana meletakkan kedua tangan didepan d**a. "Terimakasih Kak," ucap bayi malang itu mengakhiri percakapan mereka. Setelah percakapan itu selesai, tubuh Gadis kembali melemah dan dia kembali tak sadarkan diri. Mudita, Paramita dan Ratana hanya diam tanpa berkata sepatah kata pun. Mereka merasa takut dan juga penasaran, ini adalah kali pertama mereka melihat orang kesurupan secara langsung. Sebenarnya mereka sering mendengar dari cerita orang lain mengenai orang yang kesurupan, namun mereka tak bisa percaya begitu saja, karena belum melihat langsung dengan mata kepala mereka sendiri. Kini mereka baru percaya bahwa kesurupan itu benar-benar nyata. "Kak maaf aku mau tanya, sebenarnya apa yang terjadi dengan Gadis Kak?" Tanya Mudita mengawali percakapan dengan Marcell. "Jadi gini ya, kalian nggak perlu takut, sebelumnya Kakak mau tanya, apakah kalian bisa Kakak percaya untuk menyimpan rahasia ini?" Tanya Marcell yang membuat ketiga teman Gadis terkejut. Mereka menjadi takut karena ada rahasia, namun karena rasa penasaran mereka, mereka bertiga memberanikan diri untuk menerima jawaban dari Marcell. "Iya Kak, kita akan menyimpan rahasia ini baik-baik," jawab Mudita dengan yakin. "Iya Kak kami janji," imbuh Paramita dan Ratana. "Bagus, jadi gini," ucap Marcell terputus yang membuat mereka bertiga semakin tegang. "Sebenarnya sebelum Gadis pingsan tadi, Kakak melihat jika Gadis sedang diikuti cahaya putih," ucap Marcell yang membuat Mudita, Paramita dan Ratana menjadi syok, mereka bertiga takut tapi penasaran. "Jadi Kakak indigo?" tanya Ratana dengan ekspresi wajah terkejut. "Ya bisa dibilang begitu, sejak kecil Kakak sudah bisa melihat makhluk-makhluk tak kasat mata," ucap Marcell sambil melihat ke belakang mereka bertiga, seolah sedang melihat sesuatu disana. Pandangan Marcell itu membuat Mudita, Paramita dan Ratana merinding, bulu kuduk mereka berdiri serentak. "Kalian tak perlu takut seperti itu, sebenarnya dimanapun tempat kita selalu berdampingan dengan makhluk-makhluk tak kasat mata, cuma kalian tidak bisa melihat mereka, namun mereka bisa melihat kalian," ucap Marcell membuat mereka bertiga semakin merinding ketakutan. "Asalkan kita tidak mengganggu mereka, maka mereka juga tidak akan mengganggu kita. Walaupun ada juga yang suka mengganggu manusia, yang terpenting kita selalu memancarkan cinta kasih kepada semua makhluk, dimanapun kita berada," lanjut Marcell dan didengarkan dengan baik oleh ketiga adik kelasnya itu. "Dengan selalu merenungkan atau mengucapkan "semoga semua makhluk berbahagia" dengan penuh kesadaran dan ketulusan, maka dimanapun kita berada kita akan selalu terlindungi oleh karma kita sendiri, yaitu buah dari karma baik karena kita mendoakan makhluk lain," imbuh Marcell yang direspon oleh anggukan Mudita, Ratana dan Paramita. "Karena para makhluk tak kasat mata itu juga bahagia mendapat doa dari kita, sehingga mereka tak akan mengganggu kita, atau bahkan mereka akan membantu kita," ucap Marcell yang tak dapat dimengerti oleh ketiga adik kelasnya itu. "Dibantu gimana Kak maksudnya," tanya Mudita yang tak mengerti dengan maksud dari perkataan Marcell. "Misalkan gini, saat kita sedang berada di suatu tempat dan sedang dalam bahaya,misalnya kita akan tertimpa pohon. Ketika kita selalu memancarkan cinta kasih kepada semua makhluk, maka makhluk lain itu akan menghindarkan kita dari musibah itu. Misalkan kita seolah-olah diajak agar pergi dari tempat itu melalui sugesti pikiran kita," ucap Marcell dengan jelas dan dapat diterima oleh Mudita, Ratana dan Paramita. "Eh iya Kak aku pernah ngalamin waktu SMP. Ketika itu aku sedang berteduh dibawah pohon, dan disamping pohon itu ada baliho besar Kak. saat itu angin berhembus sangat kencang disertai hujan yang sangat deras, tapi tiba-tiba pikiranku merasa nggak enak, kayak gelisah gitu seperti ada yang menyuruhku segera pergi. Jadi aku memutuskan untuk pergi dari tempat itu, dan ternyata benar Kak, beberapa langkah aku pergi dari situ balihonya roboh, dan menimpa beberapa orang disana, bahkan sampai memakan korban," ucap Ratana yang menceritakan pengalaman nyatanya itu. "Nah seperti itu, berarti Adik pikiran dan hatinya selalu memancarkan cinta kasih kepada semua makhluk," ucap Marcell yang direspon dengan anggukan mereka bertiga. "Iya Kak, terus sejak aku kecil di altar sembahyang di rumahku itu Mama selalu meletakkan buah dan minuman gitu. Saat aku tanya untuk apa, katanya untuk dipersembahkan kepada sanak saudara dan semua makhluk yang telah meninggal Kak," ucap Ratana lagi membuat teman-temannya juga memikirkan hal yang sama. "Iya Kak, di altar rumah ku juga gitu, malah aku yang sering menyiapkan setiap pagi saat Mama sedang sibuk," ucap Paramita dengan ekspresi yang meyakinkan. "Lalu apa yang kamu pikirkan saat menyiapkan semua persembahan itu Dik?" Tanya Marcell kepada Paramita. "Aku diajarin Mama merenungkan gini Kak. Semua makhluk yang ada disini maupun dimanapun berada, silahkan menikmati persembahan yang kami persembahan dengan tulus dan penuh cinta kasih ini. Semoga persembahan ini bisa membantu semua makhluk yang membutuhkan, dan bisa bermanfaat untuk semua makhluk. Apabila ada yang tak dapat menikmatinya, semoga para dewa dapat membantu mereka, lalu sujud tiga kali kak," ucap Paramita menjelaskan dengan seksama. "Nah itu bagus sekali perenungannya, karena ada juga makhluk yang terlahir di alam yang sangat menderita, bahkan sampai tak mampu untuk menerima dan menikmati persembahan makanan yang kita berikan, sehingga membutuhkan bantuan para dewa agar sari makanan itu sampai kepada mereka, dan dapat dinikmati oleh mereka," ucap Marcell yang direspon anggukan oleh ketiga adik kelasnya itu. "Nah dengan kita melakukan itu, artinya kita juga sudah berbuat baik, sehingga karma baik yang kita lakukan itu juga akan melindungi kita dimanapun kita berada," ucap Kak Marcell yang dimengerti oleh Mudita, Ratana dan Paramita. Sekolah mereka memang sekolah Swasta dibawah naungan salah satu agama yang ada di Indonesia, jadi hampir semua siswanya memiliki keyakinan yang sama, dan ajaran mereka di sekolah juga sama. Sekolah mereka termasuk sekolah terbaik, yang sangat elit dan terkenal di kotanya. Fasilitas di sekolah itu juga sangat lengkap dan dengan biaya yang sangat mahal pastinya. "Makasih ya Kak atas ilmu yang Kakak berikan, yang awalnya kita belum tau sekarang menjadi tau," ucap Mudita kepada Marcell. "Iya Dik sama-sama, kalo ada yang ingin ditanyakan kepada Kakak tanyakan saja, jika bisa pasti akan kakak jawab. "Iya Kak," jawab mereka bertiga serentak. "Yaampun, ternyata Kak Marcell baik banget ya, aku kira sombong loh," ucap Mudita yang semakin mengagumi Marcell. "Iya nih, jadi makin ngefans deh," imbuh Paramita. Marcell hanya tersenyum mendengar pujian mereka. "Jadi kembali lagi ke teman kalian, cahaya putih yang masuk kedalam tubuh Gadis ini memiliki kekuatan positif, jadi kalian nggak perlu takut jika tiba-tiba Gadis akan seperti tadi, bahkan kekuatan positif itu bisa menjadi sangat bermanfaat jika digunakan dengan baik, misalkan untuk membantu orang lain bahkan makhluk lain," ucap Marcell. "Tapi kalian jangan bocorkan ke siapa-siapa ya, ini adalah rahasia kita berempat, karena jika diketahui oleh orang lain yang memiliki niat buruk, ini akan membahayakan Gadis, kalian mengerti?" Ucap Marcell kepada mereka bertiga. "Mengerti Kak," jawab Mudita, Paramita dan Ratana serentak. "Bagus, sekarang kita tunggu Gadis sampai dia sadar ya, baru kita kembali ke kelas kalian, dan setelah pulang sekolah kita akan mencari jasad Adik bayi malang tadi," ucap Marcell yang direspon baik oleh Mudita dan teman-temannya. "Iya Kak," jawab Ratana dengan semangat, namun yang lainnya hanya diam. "Kok ada ya manusia yang sejahat itu, kalo nggak mau merawat lebih baik diserahkan ke panti asuhan atau diberikan kepada orang yang sudah lama belum dikaruniai anak lah," ucap Ratana yang merasa miris dengan sikap si wanita sadis pembuang bayi malang tadi. "Iya, apa setelah melakukan itu dia tidak teringat dengan perbuatan kejinya itu ya? Apa dia tidak selalu teringat dengan dosa-dosanya, apa dia bisa hidup dengan tenang," ucap Mudita dengan wajah emosi. "Ya kalo emang mereka nggak menginginkan bayi itu seharusnya mereka jangan melakukan hubungan terlarang itu lah," imbuh Paramita yang kesal. "Ya kita doakan semoga para pelaku bisa sadar dan tidak akan mengulangi hal yang sama lagi," ucap Marcell dengan penuh kebijaksanaan menasehati adik-adik kelasnya. "Iya Kak," jawab mereka bertiga bersamaan. Beberapa menit kemudian Gadis terbangun dari pingsannya, Gadis mulai membuka matanya perlahan. "Gadis kamu sadar?" ucap Mudita saat melihat Gadis membuka mata dan Mudita segera beranjak mendekatinya. "Aku kenapa?" ucap Gadis yang merasa bingung kenapa ada di UKS bersama ketiga temannya dan kakak Kelasnya, karena seharusnya dia masih mengikuti MOS. "Sudah Gadis istirahat dulu ya, jangan banyak gerak, nanti kalo sudah benar-benar pulih baru kita kembali ke kelas, ini minum teh hangat dulu, biar lebih tenang," ucap Kak Marcell lembut sambil membantu mendudukkan Gadis dan membantu meminumkan teh panas yang sudah menghangat itu. Gadis hanya menurut saja dengan kata-kata Kak Marcell. Kelembutan dan perhatian Marcell kepada Gadis membuat ketiga teman Gadis meleleh, mereka ingin sekali ada di posisi Gadis.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN