Bangunan Angker

1937 Kata
"Ehem ehem, sepertinya kita hanya jadi obat nyamuk ya disini," ucap Mudita meledek Marcell yang duduk didekat Gadis, membuat Ratana dan Paramita terkekeh. "Ini sebenarnya ada apa sih?" tanya Gadis yang memang benar-benar tak mengerti dengan maksud dari teman-temannya itu. "Ayo Kak, ngomong sekarang tugas kita masih panjang," ucap Ratana kepada Marcell. Gadis hanya diam tak mengerti. "Jadi gini Dis, tadi saat kamu pingsan, ada sesosok bayi yang masuk ke dalam tubuh kamu dan menyampaikan sesuatu," ucap Marcell membuat Gadis terperajat. "Maksud Kakak apa?" Tanya Gadis yang tidak mengerti dengan maksud ucapan kakak kelasnya itu. "Jadi sesosok bayi yang merasuki tubuhmu itu meminta tolong pada kami untuk menemukan dan mengubur jasadnya yang tinggal tulang," ucap Marcell menceritakan apa yang terjadi. Marcell menceritakan semua yang Gadis alami saat pingsan tadi. "Jadi kamu mau ikut apa nggak Dis?" tanya Marcell di akhir ceritanya. "Ikut lah Dis, kita aja ikut kok, iya nggak bes?" Ucap Ratana kepada besti-bestinya. "Iya dong," balas Paramita, namun Mudita hanya diam saja, dia masih bimbang antara ikut atau tidak. "Gimana Gadis? Tapi kalo kamu nggak berani nggak usah dipaksa," ucap Marcell lembut sambil terus memandang wajah cantik Gadis dari jarak yang sangat dekat. Belum sempat Gadis menjawab, ponsel Marcell bergetar. "Nddrrtt ndrrtt ndrrtt," ponsel bergetar, Marcell langsung mengangkat ponselnya. "Halo Kak, Kakak dimana, aku udah nungguin daritadi loh?" Tanya seseorang di seberang sana. "Halo Vell, kalo kamu mau pulang duluan nggakpapa, Kakak masih ada urusan," ucap Marcell kepada seseorang diseberang sana. "Lah mobilnya gimana Kak, kita kan bawa satu mobil, kalo aku pulang dulu Kakak pulangnya gimana?" balas seseorang itu yang dapat didengar oleh Mudita,Ratana dan Paramita. "Kakak lagi di kelas 1 A Vell, yaudah kamu kesini aja," balas Marcell kepada orang diseberang sana dengan panggilan Vell itu. "Oke Kak, aku kesana ya," jawab seseorang itu diikuti telfon ditutup. "Siapa Kak Kok mau kesini? ini kan rahasia kita berlima?" Tanya Ratana keheranan. "Nggakpapa kalian tenang aja, dia Adiku," balas Marcell dengam senyuman mautnya, sungguh sangat tampan. "Oh," balas Ratana singkat. Tak berselang lama Marvell datang, ketampanannya membuat Mudita yang awalnya pucat menjadi segar kembali. "Permisi," ucap Marvell kepada semua orang yang ada di dalam kelas. "Masuk Vell," balas Marcell kepada adiknya. "Kenalin ini Adik aku," ucap Marcell membuat Mudita dan kawan-kawan tersenyum manis. "Aku Mudita," ucap Mudita yang mengulurkan tangan sambil tersenyum kepada Marvell. "Aku Ratana," lanjut Ratana yang juga mengulurkan tangannya. "Aku Paramita," Paramita mengulurkan tangannya sambil terus memandamg wajah tampan Marvell yang sebelas dua belas dengan kakaknya itu. Marvell mengulurkan tangannya kepada Gadis yang sedang duduk di sebelah kakaknya. "Namaku Marvell nama kamu siapa?" Ucap Marvell sambil tersenyum manis kepada Gadis, ia ingin mengetahui nama Gadis. "Namaku Gadis," balas Gadis sambil menlmbalas uluran tangan dari Marvell. Selama beberapa detik mereka mempertahankan posisi tangan mereka dan Marvell terus memandang wajah Gadis, hingga akhirnya dibuyarkan oleh Marcell yang merasa cemburu. "Ehmm," suara deheman Marcell. "Lama banget sih bersalamannya," celoteh mudita diiringi kekehan Ratana dan Paramita. Akhirnya Gadis melepaskan tangan Verell yang masih menggenggam tangannya. Gadis nampak canggung dengan teman-temannya dan Marcell. "Kakak ada urusan apa disini, sama cewek-cewek lagi, wah-wah," ucap Marvell memecah keheningan. "Heh jangan sembarangan kamu kalo ngomong," balas Marcell yang tak terima dengan tuduhan adikknya. "Oke langsung saja ya, jadi intinya hari ini kita akan melakukan tugas mulia yaitu menolong arwah bayi yang sampe saat ini masih belum tenang. Arwah bayi itu meminta tolong kepada kita untuk mengurus jasadnya yang mungkin tinggal tulang dengan layak," ucap Marcell menjelaskan membuat Marvell terkejut. Walaupun mereka saudara tetapi banyak sekali perbedaan antara mereka. Marvell tidak memiliki kemampuan indigo seperti kakaknya. "Serius Kak?" tanya Marvell yang masih tak oercaya dengan yang dikatakan oleh kakaknya itu. "Serius," balas Mudita dengan wajah meyakinkan. "Kalo kamu nggak percaya ikut kita aja," ucap Ratana kepada Marvell. "Oke aku akan ikut kalian," balas Marvell dengan yakin. "Sekarang tinggal kamu Gadis, kamu mau ikut nggak?" tanya Marcell kepada Gadis. "Iya Kak aku ikut," jawab Gadis dengan anggukan. Dita yang awalnya sangat takut kini menjadi berani karena kedatangan Marvell. Mereka ber enam langsung keluar dari kelas. Sekolah terlihat ramai karena masih banyak siswa yang mengukuti ekstrakurikuler. Mereka keluar dari area sekolah untuk menuju ke tempat dimana jasad bayi malang itu dibuang. "Kak, maksudnya gimana kok ada jasad bayi disana?" tanya Marvell yang masih belum mengerti. "Jadi dulu itu ada siswa sekolah lain yang hamil duluan dengan pacarnya. Namun sang pacar tidak mau mempertanggungjawabkan perbuatannya. Kemudian siswa itu melahirkan bayinya di kamar mandi sekolah. Saat siswa itu melahirkan bayinya di kamar mandi sendirian, ia segera membungkus bayi malang itu ke dalam plastik dan membuang bayi itu hidup-hidup di area belakang sekolah ini," Marcell menceritakan ke adiknya sambil berjalan menuju ke tempat itu. "Hii sadis banget sih Kak, kok ada manusia sejahat itu," balas Marvell merespon cerita kakaknya. Akhirnya mereka sampai di lokasi yang tak jauh dari sekolah mereka. Di belakang sekolah mereka terdapat bangunan terbengkalai yang dipenuhi semak belukar. Begitu mereka sampai di depan bangunan itu suasana terasa berbeda. Bangunan terbengkalai itu ditumbuhi oleh tanaman merambat hingga menutupi seluruh bangunan, lumut-lumut juga mendominasi bangunan itu, pohon-pohon besar yang sangat rimbun menambah suasana yang mencekam. rasa dingin yang tak biasa membuat bulu kuduk mereka merinding. Mereka seolah sedang berada didalam rumah hantu seperti yang ada di film-film. Marcell dan Gadis dapat melihat makhluk beraneka ukuran dan bentuk ada disana mulai dari yang kecil sampai besar, bentuknya yang bagus sampai yang buruk semua ada disana. Marvell, Mudita, Ratana dan Paramita tak melihat apapun, mereka hanya merasakan merinding dan perasaan yang tak biasa. Mudita yang sangat penakut terus memegangi lengan Marvell, sedangkan Paramita dan Ratana saling berpegangan dan berada di barisan tengah. Marcell dan Gadis berada di barisan paling depan. Semakin mereka memasuki area bangunan terbengkalai itu, mereka dapat mencium aroma-aroma yang sangat tidak sedap. Karena besarnya energi negatif yang ada didalam bangunan terbengkalai itu, membuat Gadis ingin muntah. Dengan sigap Marcell menggenggam tangan Gadis. "Tarik nafas Gadis, keluarkan perlahan," Marcell mencoba menenangkan Gadis yang mulai merasakan sensasi yang sangat tak enak. Gadis mencoba mengontrol dirinya sendiri dengan mengatur nafasnya. Terlihat banyak makhluk yang menyorot kearah mereka. Gadis terus merenungkan "Semoga semua makhluk berbahagia" berkali-kali, begitupun dengan mereka semua. "Permisi ya, kita kesini bukan untuk mengganggu, kita hanya ingin membantu," ucap Marvell kepada para makhluk yang terus menatap tajam kearah mereka. Sekarang mereka telah memasuki bangunan terbengkalai itu. Semakin banyak makhluk yang bentuknyapun aneh-aneh. Mulai dari yang wajahnya hancur, tak punya wajah dan banyak sekali yang bentuknya lebih mengerikan. Marcell memegangi bahu Gadis yang sudah tampak lemas. "Kamu harus kuat Gadis, tarik nafas dan keluarkan perlahan, selalu renungkan "semoga semua makhluk berbahagia," ucap Marcell mencoba menenangkan Gadis. Mudita semakin mencengkeram erat tangan Marvell, begitupun Ratana dan Paramita, entah sejak kapan mereka juga menggandeng tangan Marvell yang satunya. Mereka merasakan sensasi merindingbyang sangat hebat, walaupun tak dapat melihatnya tapi mereka dapat merasakan jika mereka terus dipelototi oleh makhluk-makhluk penghuni bangunan terbengkalai tersebut. Semua makhluk penghuni bangunan terbengkalai itu merasa tak suka oleh kedatangan mereka, mereka semua merasa terganggu atas kedatangan mereka. Namun, diantara banyaknya makhluk astral yang memandang tak suka kearah mereka, ada satu makluk yang memiliki aura baik dan tatapannya memberi keteduhan dan penuh cinta kasih. Walaupun bentuknya mengerikan tetapi makhluk itu tak menampakkan kejahatan di wajahnya. Makhluk itu mendatangi Gadis dan teman-temannya. "Ada apa kalian kesini?" Tanya makhluk astral baik itu. "Semoga semua makhluk berbahagia," ucap Marcell membuat makhluk astral baik itu tersenyum. "Maaf jika kedatangan kami disini membuat kalian semua tidak nyaman dan merasa terganggu, kami kesini hanya untuk mencari keberadaan jasad bayi yang pernah dibuang disekitar sini beberapa tahun silam," balas Marcell membuat semua teman termasuk adiknya melotot. Mereka berempat merasa heran, dengan siapa Marcell berbicara, sedangkan Gadis hanya memandang kearah makhluk yang sedang berbicara dengan Marcell itu. "Apa maksud kalian jasad bayi malang itu?" ucap makhluk astral baik itu sambil menujuk kearah bungkusan plastik yang berada tak jauh dari mereka. Marcell dan teman-temannya langsung memandang kearah plastik hitam itu. Mereka mendekati bungkusan plastik yang nampak sangat mencurigakan itu. Dengan penuh keberanian dan dengan tangan kosong Marcell membuka bungkusan plastik itu. Mudita, Ratana, Paramita dan Marvell menelan ludah mereka dengan sangat kesusahan. Suasana menjadi mencekam. Saat plastik dibuka semua tertegun, ternyata benar jika plastik yang ditunjukan oleh makhluk astral baik itu berisi jasad yang hanya tersisa tulang belulang. Semua yang ada disana terbelalak melihat Marcell membuka isi plastik itu dan memperlihatkan tulang belulang yang ada didalam plastik hitam itu. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut mereka. Hingga Marcell mulai mengucapkan sesuatu. "Apakah kamu ingat kapan jasad bayi ini dibuang oleh manusia?" Marcell mulai membuka percakapannya kembali dengan makhluk astral baik itu. "Ya, beberapa tahun lalu seorang wanita datang kesini dengan memakai seragam berwarna putih abu dan meninggalkan bayi yang terbungkus didalam plastik hitam ini begitu saja. Saat itu bayi ini masih hidup, namun ia tak menangis, sehingga tak ada orang yang menolongnya. Hingga setelah beberapa hari karena tidak makan dan tidak minum, sehingga bayi ini meninggal," makhluk astral baik itu menceritakan dengan jelas dan dapat dimengerti oleh Marcell dan teman-temannya. Kini Marcell dan teman-temannya tau jika jasad bayi ini sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. "Saat bayi ini masih hidup aku ingin sekali menyelamatkannya, tapi aku tidak bisa," lanjut makhluk astral berambut panjang dan perutnya bolong penuh belatung itu. Semua teman-teman Marcell meringis mendengar cerita makhluk astral baik itu, mereka miris dengan kelakuan si pembuang bayi yang tak berdosa itu. Sungguh aneh alam ini, banyak manusia yang memiliki sifat yang jahat dan sering dikatakan seperti setan. Namun ternyata ada juga setan yang baik melebihi manusia. "Terimakasih karena sudah membantu kita menemukan jasad bayi ini, kami akan mengurusnya dengan layak sehingga arwah bayi ini bisa melanjutkan kehidupan berikutnya dengan tenang," ucap Marcell kepada makhluk baik itu. "Dan kami juga akan mendoakan kamu agar kamu dapat terlahir di alam yang lebih bahagia," ucap Marcell membuat makhluk astral baik itu senang. Marcell dan semua temannya meletakkan kedua tangan didepan d**a membentuk teratai kuncup. Mereka semua membaca paritta dan memberikan melimpahkan jasa serta memancarkan cinta kasih untuk makhluk tersebut dan juga makhluk astral yang lain. Namun ada makhluk yang tak dapat menerimanya, karena memang pikirannya masih dipenuhi kebencian dan kekotoran batin. "Semoga pelimpahan jasa dan cinta kasih yang kita pancarkan ini melimpah kepada makhlk-makhluk yang terlahir di alam rendah, sehingga mereka dapat terlahir di alam yang lebih baik. Semoga semua makhluk berbajagia," ucap Marvell dan diikuti teman-temannya di dalam hati. Makhluk astral baik itu terlihat senang, wajah dan tubuhnya yang buruk rupa seketika berubah menjadi lebih baik. "Terimakasih manusia, atas kebaikan yang kalian berikan kepada kami," ucap makhluk astral baik yang penampakannya sudah berubah selayaknya manusia itu. "Sama-sama," ucap Marcell sambil tersenyum kepada makhluk itu, diikuti oleh Gadis yang juga memberikan senyumannya kepada makhluk astral itu. Marvell dan yang lain hanya terdiam. Sebagian makhluk yang ada disana juga berubah bentuk menjadi lebih baik lagi, tak semenyeramkan sebelumnya walaupun masih ada beberapa yang belum berubah, mungkin karena saking besarnya kebencian dalam diri mereka, sehingga sangat sulit untuk memberikan cinta kasih kepada mereka. Semua makhluk yang sudah berubah bentuk itu tersenyum kepada marcell dan meletakkan tangannya kedepan d**a. "Terimakasih manusia," ucap beberapa dari mereka. "Sama-sama, kalau begitu kami akan pergi dan segera mengurus jasad bayi ini dengan layak. Tetaplah berbuat baik dan selalu pancarkan cinta kasih kepada semua makhluk, maka kalian akan segera terlahir di alam yang lebih baik dari ini" balas Marcell yang dibalas anggukan dari makhluk astral baik itu dan semua teman-temannya. Mereka tampak lebih baik dari sebelumnya, suasana di dalam bangunan terbengkalai itu juga menjadi lebih baik, tak semenyeramkan saat mereka masuk tadi. Marcel, Gadis dan teman-temannya meninggalkan bangunan terbengkalai itu. Mudita dan yang lain masih terus diam dan masih terus memeluk erat tangan Marvell.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN