Keesokan harinya, Zara terbangun dengan kepala yang terasa berat dan lebih sakit dari pagi kemarin. Entah kenapa sudah dua hari ini kepalanya sering terasa berputar secara tiba-tiba. Staminanya terasa menurun dan merasa cepat lelah.
Setelah berhasil bangun, Zara buru-buru menggapai kapsul di atas nakas dan meminumnya. Hal yang harus ia lakukan secara rutin agar sesuatu yang tak diinginkannya terjadi. Itu adalah pil kb yang dokter sarankan setelah Zara berkonsultasi ke dokter beberapa waktu lalu.
Zara kemudian terdiam, menyesuaikan kepala dan penglihatannya agar membaik. Sepertinya Tama sudah pergi ke kantor melihat suasana apartemen yang sepi.
Setelah menyesuaikan diri, Zara beranjak untuk bersiap pergi ke kampus. Ia menyelesaikan persiapannya dengan cepat karena ia hampir telat, bahkan ia melewatkan sarapan rutinnya.
Di kampus, Zara mencoba fokus dengan materi di depannya. Namun lagi-lagi kepalanya terasa berputar. Penglihatannya terasa buram dan ada gejolak di dalam perutnya yang berusaha ia tahan.
Inara yang duduk di sampingnya sedari tadi diam-diam memperhatikan. Ia merasa khawatir dengan temannya yang terlihat sedang menahan sakit.
"Lo pucet banget, Zar. Sakit?" tanya-nya memastikan.
"Ke ruang kesehatan aja ya? Takut nanti lo pingsan." saran Inara, namun Zara menggeleng menolaknya.
"Gak usah, gue cuma kurang tidur aja."
Zara yakin, jika ditidurkan sejenak, pusing di kepalanya akan segera reda. Ia juga tak kau merepotkan temannya dan membuatnya khawatir.
"Pakai minyak hangat nih."
Inara memberikan minyak hangat ke tangan Zara yang langsung diterima olehnya.
"Thanks."
"Masuk angin kayaknya. Mending lo istirahat di ruang kesehatan aja gih." saran Inara kembali. Menurutnya, akan lebih baik jika Zara istirahat disana karena bisa istirahat dengan tenang dan nyaman. Terlebih, ia bisa meminta obat untuk menyembuhkan rasa sakitnya ke petugas disana.
"Gue masih kuat, Na." tolak Zara dengan keteguhannya.
Pelajaran mata kuliah kali ini terasa begitu lama. Setiap detik, Zara merasa kepalanya bertambah berat dan sakit. Perutnya begitu mual dan perih.
Bahkan penglihatannya kini semakin buram, keringat dingin membasahi tubuhnya. Inara yang menyadarinya, berinisiatif memberitahu dosen dan meminta izin untuk membawa Zara ke ruang kesehatan.
"Pak, izin... Sepertinya teman saya sedang tidak sehat, saya ingin membawanya ke ruang kesehatan."
Sang dosen menatap Zara, lalu mengangguk mempersilahkan saat melihat kondisi Zara yang sangat pucat dan lemah.
"Zara? Ya silahkan."
"Kamu masih kuat berjalan?" tanya dosen paruh baya itu.
Zara mengangguk, lalu berdiri dipapah Inara.
"Ayo, Ra." ajak Inara, namun belum sempat melangkah, Zara kehilangan kesadarannya. Membuatnya terjatuh dan menimbulkan kegaduhan seisi kelas.
Inara berteriak panik, Zara bemar-benar tak sadarkan diri.
"Zara... Bangun..."
Sang dosen lalu menyuruh salah satu mahasiswa disana untuk menggendong Zara ke ruang kesehatan, "Sandy, tolong kamu bawa Zara ke ruang kesehatan."
Kini Zara terbaring tak berdaya di atas ranjang ruangan kesehatan. Di sampingnya ada Inara yang menemani.
"Astaga, Zara! Udah dari tadi dibilang istirahat di uks, ngeyel banget kan! Duhh..." keluh Inara mengingat Zara tetap ngeyel tak mau mendengarkan sarannya.
Lalu tatapan Inara beralih ke arah Sandy yang masih berada di sana. Berdiri di ujung ranjang memperhatikan petugas yang hendak memeriksa Zara.
"Makasih Dy. Lo bisa balik ke kelas lagi. Gue mau jaga dia." ujar Inara sungguh-sungguh.
Namun Sandy menggeleng, menolak usulan Inara yang ingin menemani Zara disana.
"Biarin Zara istirahat, ada perawat yang jaga dia. Lo ikut balik ke kelas lagi." ujarnya sembari berlalu keluar ruangan.
Inara berdecak kesal, mahasiswa dengan predikat paling lurus dan rajin itu memang menyebalkan!
"Ck lo gak peka!" gerutunya di belakang Sandy.
Lelaki itu terkekeh, "Gue peka karena gue tahu alesan lo karena mau numpang tidur ya kan?!" tebaknya benar seratu persen. Inara tak mengelak, selain untuk menjaga Zara, ia juga ingin berbaring sebentar di ranjang ruangan kesehatan yang empuk itu.
"Ah sialan lo! Nyebelin!"
****
Di ruangan kantor, Tama yang tengah menyelesaikan berkasnya tersentak kaget kala Juan memberitahunya sesuatu perihal Zara. Perempuan itu jatuh pingsan dan saat ini masih tak sadarkan diri di ruang kesehatan.
Lelaki itu mengetahuinya secara tak sengaja kala Clara, kekasihnya memberitahu perihal seorang mahasiswi yang pingsan di kelas. Dan dengan iseng Juan bertanya mengenai mahasiswi itu. Dan Juan tak menyangka kala nama Aulia Zara yang kekasihnya itu sebutkan. Wanita simpanan atasannya yang masih berstatus mahasiswi aktif di salah satu perguruan tinggi swasta di kota ini.
"Apa? Zara sakit dan pingsan di kelas?!"
"Sekarang bagaimana keadaannya?" tanya Tama tak bisa menyembunyikan kepanikannya.
"Sekarang Zara sudah sadar dan sedang istirahat."
"Dengan cepat Tama meraih telepon kantor dan menghubungi seseorang, "Miss Tia, tolong atur kembali jadwal rapat hari ini. Mungkin diundur sekitar 1 jam dari sekarang, dan rapat akan beralih secara daring. Saya ada urusan mendadak dan harus pergi sekarang." ujarnya memberi perintah yang mutlak. Tama menyimpan kembali teleponnya ke atas meja dan beranjak bangun dari kursi kerjanya.
Juan keluar dari ruangan mengikuti Tama yang keluar dengan tergesa. Ia langsung menghampiri mobilnya yang sudah tersedia di depan lobi dan menancap gas menuju kampus tempat Zara belajar.
"Kamu yakin mau bawa Zara pulang sekarang?" tanya Juan yang duduk di samping Tama yang mengemudi. Lelaki itu nampak terburu-buru dengan kecepatan mobil di atas rata-rata. Padahal jalanan lumayan padat karena tengah berada pada jam istirahat.
"Aku harus memastikan keadaannya sekarang." gumam Tama sembari berusaha menyalip beberapa mobil di depannya.
Juan terkekeh mendengar hal itu,
"Zara di kampus bro, kamu gak mau bikin keributan kan?" tanya-nya mengingatkan.
Tama melirik Juan sejenak, lalu memfokuskan kembali pandangannya ke arah jalanan. "Itu alasannya aku bawa kamu kesini."
"Kamu ngaku saja sebagai wali sementara dan bawa Zara pulang." jelas Tama memberikan tugas tambahan untuk asistennya itu. Ia tidak mungkin membawa Zara pulang dengan tangannya sendiri mengingat banyak staff dan dosen di kampus itu adalah kenalannya dan kerabat dekat mertuanya.
Kini mereka telah sampai di halaman parkir gedung kesehatan kampus yang sedikit sepi. Tama memandang sengit pada Juan yang masih terdiam di atas joknya.
"Ini sangat merepotkan. Aku tak menyangka kamu mau repot-repot mengurusi p*l*c*r mu itu." decaknya sembari membuka pintu.
"Diam saja dan cepat lakukan tugasmu!" teriak Tama tak ingin dibantah.
Juan mengangguk patuh lalu keluar dari mobil, "Ok boss!" teriaknya dari luar.