19

1119 Kata
Di ruang kesehatan, Juan merasakan atmosfer berbeda yang dirasakan sebelum memasuki ruangan yang sepi itu. Clara, sang kekasih tengah memandanginya dengan tatapan menyelidik setelah memberondong beberapa pertanyaan kepadanya. Sedangkan Juan sedari tadi berusaha mengelak dan menghindar dari tatapan mematikan itu. "Jadi, ada hubungan apa kamu dengan gadis ini?" tanya Clara kembali memastikan. Aura kebohongan dari kekasihnya nampak begitu jelas di matanya. Sudah beberapa menit mereka berdebat dan Clara masih menahan Juan di ruang tunggu, menahannya yang kekeuh ingin membawa mahasiswi cantik itu pulang. "Sudah kubilang aku adalah wali sementara dirinya, kamu tau, ibunya sedang di rawat di rumah sakit dan tidak ada kerabat lain yang bisa dihubungi." jelas Juan sesuai dengan arahan Tama tadi. "Kuharap itu bukan alasanmu saja." ujar Clara sembari memutar bola matanya malas. "Tentu tidak." sergah Juan. Clara melangkahkan kakinya mendekati Juan, diraihnya kerah kemeja Juan dan mencengkramnya kuat, "Jadi, apa hubunganmu dengan dia yang sebenarnya?" tanya Clara dengan muka galaknya. Ia masih tidak percaya dengan alasan kekasihnya itu. "Kenapa kau bertanya seperti itu? Dia hanya kerabat jauhku." jawab Juan dengan mata yang memandang segala arah, enggan menatap wajah kekasihnya yang terasa menakutkan. Ah sial, ia selalu bisa tersudutkan dan terintimitadi seperti ini oleh perempuan kecil di hadapannya ini. Batin Juan berkecamuk. Clara melepaskan cekalan di kerah itu lalu mundur beberapa langkah."Aku tidak pernah mendengar tentangnya sebelumnya." Seingatnya, Juan tak pernah menceritakan ada kerabat jauhnya yang kuliah di kampus tempatnya bekerja. "Dan ini terlalu kebetulan." lanjut Clara yang masih curiga dengan kekasihnya itu. Ia takut Juan bermain hati di belakangnya dengan perempuan lain. "Clara, come'on, tidak mungkin aku bermain-main denganmu. Kali ini aku serius sama kamu." "Jadi, siapa dia?" tanya Clara seolah penjelasan Juan tadi semuanya adalah kebohongan. "Kau tahu, dia sangat kelelahan, badannya sangat panas, tekanan darahnya sangat rendah dan asam lambungnya sangat tinggi. Selain itu dia juga memiliki banyak memar di area tertutup miliknya. Aku sangat prihatin dengannya, apa dirinya korban pemerk*saan? Sialan sekali lelaki itu!" cercanya panjang lebar, kalimatnya mencemooh entah pada siapa. Mata Juan melebar mendengar penjelasan Clara yang menggebu-gebu itu, "Yang benar kamu?" tanya-nya ingin memastikan. Dan Clara hanya mengangguk sebagai penguat akan perkataannya tadi. Dengan spontan, Juan berjalan hendak memasuki ruangan pemeriksaan dimana Zara tengah berbaring. Namun Clara dengan cepat menahan Juan dan menghadang pintu di belakangnya. "Jangan coba-coba kamu mau memeriksanya!" pekiknya marah. Clara semakin tidak mempercayai Juan setelah melihat reaksi berlebihan lelaki itu. "Tidak, sayang." elak Juan, ia hanya ingin melihat kondisi Zara saat ini, tidak untuk memeriksanya secara teliti. 'Tama sialan!' umpat Juan dalam hati. Ia semakin bingung dan rumit akan permasalahn ini. Dan akhirnya, dengan terpaksa Juan menyampaikan kebenarannya kepada sang kekasih, "Dengar, ini ulahnya Tama. Aku tidak ada hubungan apapun dengan gadis~eh wanita ini. Tama sendiri yang memerintahkanku untuk membawa wanita ini pulang." Namun Clara tetap bergeming menunggu penjelasan akurat lainnya yang bisa ia percaya. "Dasar wanita, sangat sulit untuk percaya!" keluh Juan yang merasa kesal sekaligus marah. "Aku akan mudah percaya kalau kamu sendiri pria alim dan bukan playboy!" sungut Clara yang tidak terima dikatai seperti itu oleh Juan. "Astaga..." Juan mengurut keningnya yang sakit, ia memutuskan untuk menelepon Tama sebagai jalan terakhir, "Aku akan telepon Tama dulu." Di deringan pertama, Tama langsung menyemburnya dengan pertanyaan bernada marah,"Kenapa lama sekali? Kau benar-benar tidak becus melakukan hal sekecil itu saja!" tanya Tama tak sabaran. Juan menjawab sama marahnya. "Hei, dude, kau tau? Kekasihku mempersulit dan melarangku membawa wanitamu. Dan saat ini dia sedang menuduhku yang tidak-tidak. Tolong kamu jelaskan kepadanya!" Clara sedari tadi terdiam menyimak, ia bisa mendengar percakapan kedua lelaki itu karena Juan sengaja me loud speaker panggilannya. Pikiran Clara bercabang, memikirkan hubungan apa yang dimiliki bos kekasihnya itu dengan perempuan di dalam sana. "Clara, dengar! Dia milikku, dan aku menginginkannya pulang segera. Jadi tolong permudah Juan jangan sampai aku memecatnya." jelas Tama pada akhirnya. Ia ingin permasalan ini semua segera usai dan ia bisa membawa Zara ke apartemennya. "Kau dengar?" tanya Juan memastikan kekasihnya itu tidak mendadak budeg saat mendengar penjelasan Tama tadi. Clara menghindari tatapan Juan, "Bawa saja sendiri, jangan suruh pacarku menggendongnya!" titah Clara kepada Tama yang tak rela melihat sang kekasih menggendong perempuan lain di depan matanya. Terdengar di seberang sana Tama menghembuskan nafasnya kasar, "Astaga... Kau harus profesional, ingat! Zara, pasienmu akan lebih nyaman jika beristirahat di rumah." ujarnya geram. Kesabarannya hampir menipis mendengar ocehan Clara yang tak ada habisnya. "Tidak jika di rumah itu ada predator buas sepertimu!" balas Clara membuat Tama diam tak berkutik. Wanita itu tidak ada segan sama sekali padanya. Itu karena Clara merupakan sepupu jauh dari pihak keluarga ayahnya. "Kau! Kenapa begitu menyebalkan hah? Kenapa kau mau sama dia, Juan?!" tanya Tama lepada Juan dengan intonasi tinggi. Ia benar-benar kesal dengan sosok perempuan menyebalkan itu. "Karena aku cantik, seksi, dan pintar cari uang!" timpal Clara tak kalah keras. Hal itu membuat Juan menepuk jidat mendengar perdebatan konyol itu "Aku tidak mau alasan apapun. Kalau kau masih mau bekerja denganku, bawa Zara kesini segera." ujar Tama tak menerima penolakan lagi. Telepon ditutup, Juan memandang Clara dengan mata memelasnya. "Please sayang, jangan menyusahkanku ya? Kau tidak mau aku jadi pengangguran kan? Bukannya kau mau pesta pernikahan yang mewah? Aku harus bekerja keras untuk itu, sayang..." ucap Juan dengan iming-iming pernikahan mewah yang diimpikan perempuan itu. Clara terdiam, jika ia tetap melarang Juan, yang ada hanya akan menyusahkan dirinya di masa depan jika Juan benar-benar menjadi pengangguran. Sebagai perempuan realistis, ia ingin kehidupan pernikahannya dengan Juan berjalan lancar, terutama dari segi finansial. Apalagi mengingat nominal gaji yang didapat Juan yang begitu besar, sangat disayangkan jika harus diberhentikan secara tidak terhormat hanya gara-gara kecemburuan dirinya yang berlebihan. Namun hatinya masih tak rela Juan bersentuhan dengan perempuan cantik itu. Apalagi sampai menggendongnya dengan jarak yang lumayan cukup jauh. Cukup lama berdebat dengan pemikirannya, Clara akhirnya mengangguk membolehkan, "Baiklah, aku kasih kesempatan kali ini. Tapi tidak untuk lain kali." ujarnya mengingatkan. Juan mengangguk senang, akhirnya ia lolos dari ancaman pemecatan Tama. "Terima kasih, kau memang kekasihku yang pengertian. I love you." ujar Juan sambil masuk ke dalam ruangan. Clara ikut menyusul, dilihatnya Zara yang tengah tidur pulas setelah meminum obat. "Hmmm cepat bawa sana! Ingat, jangan ganggu istirahatnya. Jika setelah beberapa hari belum membaik, bisa diperiksa ulang ke dokter dan melakukan cek lab." "Obatnya sudah ku taruh di dalam tasnya." beritahu Clara melihat Juan yang menenteng tas Zara. Juan mengangguk paham, "Aku pergi dulu." ujar Juan seraya mengecup kening Clara dan pergi keluar setelahnya. "Sayang..." teriak Clara dari belakang, Juan menoleh dan melihat jari tengah yang diacungkan ke arahnya. "Sampaikan ini kepada kakakku!" Akhirnya Juan berhasil membawa Zara dan keluar dari ruang kesehatan diikuti Clara. Ia berjalan tergesa karena bobot dan situasi canggung yang dialaminya. Hingga tak sadar, seseorang nampak memperhatikannya dengan penasaran di bawah tangga di dekat ruangan tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN