Netra itu tak henti-hentinya menatap ke arah jendela yang menunjukkan pemandangan berbagai warna dari tanaman disana. Dengan hati yang masih hancur, Nasya terus saja mengusap perutnya yang sudah rata lagi sambil melihat ke arah jendela itu. Ya, kini ia sudah kembali ke rumah lagi. Di sisi lain, Nizar yang ingin masuk ke dalam kamarnya berhenti di ambang pintu. Hatinya harus dua kali hancur karena kehilangan putrinya dan sekarang harus juga melihat tatapan kosong dari istrinya. Tentu rasa bersalah memenuhi hatinya saat ini. Nizar sudah mengetahui bagaimana kejadian yang membuat Nasya sampai tidak sadarkan diri. Nasya sudah menceritakan kronologi yang merenggut nyawa putrinya itu. "Dek.. " Panggil Nizar akhirnya memutuskan untuk masuk. "Eh Mas Nizar, udah selesai urusannya?" Jawab Na

