"Selamatkan istri saya dok." Ucap Nizar sambil memejamkan kedua matanya. Hatinya begitu sakit, ketika harus memutuskan harus memilih salah satu diantara istri atau calon anaknya. Nizar merasa secara tidak langsung ia akan melenyapkan anaknya yang tidak berdosa itu. Tapi dia juga tidak bisa kehilangan Nasya, istrinya. Walaupun di sisi lain ia juga sangat tidak ingin kehilangan anaknya. "Baik Pak, kami akan segera menyiapkan operasinya. Saya tahu ini tidak mudah bagi anda. Kami juga akan tetap berusaha menyelamatkan anak bapak. Tapi kami akan memprioritaskan istri bapak seperti keputusan yang baru anda buat. Kalau begitu saya permisi." Ucap dokter itu pergi membawa serta map yang ia berikan pada Nizar tadi. Rasa bersalah memenuhi hati Nizar. Ingin rasanya dia memanggil dokter itu lagi

