Bab 1. Misi Mustahil: Jangan Baper!
"Kenapa targetku harus seganteng ini, sih?" seru Alesha, sembari terus menatap foto dari dalam tablet dengan raut wajah frustasi.
Pada layar benda pipih berukuran dua kali ukuran ponsel itu terlihat wajah dua orang pemuda, kembar identik, dengan postur tubuh sama-sama tinggi atletis, memakai setelan jas hitam mewah.
Keduanya sama-sama mempunyai wajah tampan yang terlalu sempurna untuk ukuran manusia normal, dan menurut informasi yang ia terima, keduanya adalah CEO perusahaan besar dan begitu terpandang; Alverino Corp.
Sayangnya kedua pemuda itu dicurigai sebagai hacker internasional, yang sedang dicari oleh polisi cyber.
"Yang kiri kelihatan dingin banget," gumam Alesha.
Nathan, pria muda usia 28 tahun, atasan Alesha, hanya meliriknya santai sembari menyeruput kopi dengan begitu nikmatnya.
"Itu Kael," ucap Nathan, memberitahu.
Alesha mencebikkan bibirnya, lalu menggeser layar, melihat foto yang kedua.
"Kalau yang ini kelihatan kayak bendera merah yang lagi berjalan," gumam Alesha lagi.
"Red flag?" Nathan terkekeh. "Kalau yang itu namanya Kaleo," jelasnya.
"Lah, kenapa mereka mukanya sama, sih?" tanya Alesha, lugu.
"Ya karena mereka berdua itu kembar."
Alesha memutar bola matanya malas. "Aku tahu lah kalau mereka kembar, tapi harus banget ya, kembarnya identik gitu? Terus, kenapa aku yang disuruh? Polisi cyber Indonesia nggak ada yang lain apa, selain aku?" protesnya.
Nathan tersenyum tipis, seraya menatap Alesha penuh arti. "Karena cuma lo yang sesuai kriteria, dan cukup gila buat misi ini," jawabnya.
Alesha seketika terdiam. Ia lalu menatap Nathan dengan perasaan malas. Ucapan Nathan bukan pujian, itu penghinaan terselubung. Setidaknya begitu lah yang saat ini berkecamuk dalam benak Alesha.
"Terima kasih, lho!" ucap Alesha, sedikit sinis.
"Buat apa?"
"Pujian sekaligus hinaan darimu."
Nathan tertawa kecil.
Alesha mengusap kasar wajahnya. Ia lalu menjatuhkan tubuhnya ke sofa sembari mengacak rambutnya, frustasi.
"Jadi, intinya aku harus nyamar jadi sekretaris, lalu menyusup ke perusahaan mereka, cari bukti sekaligus hackernya, terus nangkep dia, gitu?" tanya Alesha.
Nathan mengangguk. "Ya! Kurang lebih," jawabnya, singkat.
"Kurang lebih gimana?"
"Ya ..., kurang sama lebih!"
"Nathan! Please deh, aku lagi serius!"
"Gue jauh lebih serius dari lo, Sha!" balas Nathan.
"Ck! Kau ini, mentang-mentang atasan," gerutu Alesha.
Nathan tidak memedulikan ucapan Alesha. Ia kini mengambil berkas di dalam amplop coklat berlogo kepolisian, lalu menyodorkannya pada Alesha.
"Pelajari semuanya biar lo nggak salah langkah dan bicara," ucap Nathan. "Sama satu lagi, jangan baper dan sampai jatuh cinta sama target!" lanjutnya, memperingatkan. "Nanti lo bisa oleng!"
"Cih ...! Tolong ya, aku ini profesional!"
Nathan tertawa kecil. "Semua agen juga bilang begitu sebelum jalani misi," ucapnya.
"Aku beda."
Nathan mencebik. "Yakin?"
"Sangat yakin!" tegas Alesha.
Nathan tersenyum penuh arti. Ia lalu menggeser tablet dan mengajak Alesha untuk mendekat.
"Ada apa?"
"Lihat ini."
Nathan memperbesar foto pada layar tablet dan menunjukkannya pada Alesha.
Wajah Kael memenuhi layar. Tatapan matanya tajam dengan bentuk rahang yang tegas, ditambah paras mukanya yang begitu tampan, yang mungkin mampu membuat para artis tampan drama Korea minder.
Tatapan mata Alesha merambat turun menatap leher kokoh, jas hitam mewah yang membalut tubuh atletis di dalamnya, juga dasi hitam yang terpasang begitu rapi disana. Begitu sempurna.
Aura dingin Kael terasa begitu kental. Satu karakter yang mampu membuat jantung para cewek normal berdentum keras dan langsung logout dari tubuhnya.
Tatapan Alesha terus merambat turun, melihat postur tubuh yang begitu tegap dan cukup nyaman untuk bergelayut manja, masih belum lagi bagian yang ..., ups!
Alesha menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Ia menelan saliva dengan susah payah.
"Cukup, Sha! Cukup bagian atasnya saja, bawahnya terlarang! Kamu cuma butuh wajah, bukan itunya!" gerutu Alesha dalam hati, membayangkan jika Nathan menggerutu tentangnya.
Nathan menaikkan satu alisnya sembari tersenyum sinis.
"Masih yakin?" tanya Nathan.
Alesha terdiam cukup lama, sebelum akhirnya ia menghela napas panjang dan cukup berat.
"Sedikit goyah ...."
Nathan tertawa. Ia lalu menggeser, memperbesar foto yang lain. Alesha terlihat begitu serius.
Kini berganti wajah Kaleo yang memenuhi layar. Kali ini wajahnya terlihat lebih ramah dengan sorot mata hangat, tetapi sudut bibirnya yang melengkung, membentuk senyuman usil. Terlihat jelas jika karakter Kaleo sangat jauh berbeda dengan Kael.
"Pelajari garis wajah antara Kael dan Kaleo, biar lo nanti bisa bedakan mana yang Kael dan juga Kaleo," titah Nathan. "Jangan sampai lo lagi sama Kael, manggilnya Kaleo."
"Ya wajar dong, orang mereka kembar gini, mana aku masih baru ketemu juga," protes Alesha.
"Nah ..., jangan lama-lama wajarnya, nanti lo malah anggap enteng. Persiapkan dari sekarang, pelajari garis wajah dan identitas mereka dari semua berkas itu."
"Siap, Ketua!"
"Bagus!" puji Nathan. "Sudah ketemu perbedaan yang paling mencolok dari keduanya?"
Alesha menggeleng. "Lagi dikerjain nih, Bos, masih baru mulai, belum nemu apa-apa," jawabnya.
Nathan mendengus, sementara Alesha kembali fokus mencari perbedaan yang terlihat diantara Kael dan Kaleo.
"Keduanya sama-sama ganteng, hidung mancung, juga senyum yang menawan," gumam Alesha.
"Gimana, sudah lebih yakin?" tanya Nathan.
"Makin goyah ...."
Nathan tertawa geli. "Katanya profesional?" cibirnya.
"Bisa diam, nggak?"
Nathan tertawa lebih keras. Alesha cemberut.
"Kapan aku harus mulai misi ini?" tanya Alesha, setelah selesai mempelajari wajah dua pemuda itu dan membaca semua berkasnya.
"Besok!"
"Hah? Harus banget besok, ya?"
"Kenapa? Lo nggak siap? Nggak yakin?"
"Nggak gitu, aku masih butuh waktu buat banyak persiapan, biar bisa tampil cantik maksimal di depan duo kembar itu," jawabnya, beralasan.
"Lo mau apa? Caper?"
"Nggak, lah!"
"Ya sudah, lo jalani aja, siap atau nggak siap."
Alesha mengerutkan keningnya. "Kamu mah enak, tinggal perintah," gerutunya.
"Sanggup apa nggak? Kalau nggak sanggup biar gue cari gantinya."
Alesha memejamkan kedua matanya sembari menggigit bibir bawahnya dengan perasaan jengkel.
"Oke, aku sanggup!" jawab Alesha, memutuskan.
"Good job!"
"Apa nama misinya?"
"Jangan Baper!" jawab Nathan.
"Idih ...! Ketemu aja masih belum, kenapa keburu baper?"
"Itu nama misinya," sahut Nathan, sebelum Alesha semakin jauh salah pahamnya.
"Bilang dong dari tadi!"
"Ini sudah bilang!" balas Nathan, sengit. "Angel wis ..., angel!" gerutunya.
"Oh ...."
"Yes!"
"Gimana nanti, aku langsung masuk apa gimana?" tanya Alesha. Kali ini wajahnya terlihat serius.
"Lo langsung saja kesana, jam 7 pagi," jawab Nathan. "Orang gue sudah urus semuanya, lo langsung diterima dan boleh bekerja."
Kedua mata Alesha membulat sempurna. "Aku sendirian kesana?" tanyanya, sedikit panik.
"Iya lah! Masa mau diantar, kayak anak TK saja."
"Nggak gitu, aku masih belum tahu lokasinya dimana," ucap Alesha, sedikit bingung.
"Gue sudah share lokasi via chat, ke nomor lo."
"Oke, siap!"
Nathan mengambil kotak hitam berukuran kecil dari laci meja kerjanya, lalu memberikannya ke tangan Alesha.
"Pakai ini, buat komunikasi," ucap Nathan. "Gue sendiri nanti yang pantau sama kasih arahan ke lo."
"Oke, siap!"
"Sekarang lo boleh pulang, istirahat. Jangan lupa besok sarapan dulu yang banyak, biar lo siap menghadapi kenyataan."
Alesha tersenyum tipis. Ia lalu beranjak pergi sambil membawa semua bekal dari Nathan, tanpa tahu jika dalam beberapa hari ke depan hidupnya bakal kacau karena salah satu dari CEO kembar tampan itu tersenyum padanya.
"Misi yang mustahil ...," gumam Alesha, ketika melangkah keluar.