Sean melempar tubuh Zen ke sofa dengan kasar karena rasa marah yang terus meluap. Seandainya dia tak gegabah, pasti rencananya berhasil. Zen memang tak bisa diandalkan, dan sangat merepotkan. Pria yang bernama Zen itu malah terkekeh seperti orang gila. Hal itu tentu saja membuat Sean dilanda kebingungan. Mereka kalah, bukan menang. Tak sepatutnya tertawa sekarang. “Lama-lama, kau seperti orang gila, Zen.” Zen duduk sambil menyibakkan rambutnya ke belakang, posisi kaki diubah menyilang seperti big bos. “Kenapa aku lupa dengan Jazlyn?” Semakin pria itu menyadari bahwa Jazlyn sangat spesial diantara manusia lainnya. “Apa maksud perkataanmu?” tanya Sean penasaran. “Dengar... aku harus memiliki Jazlyn.” Zen menatap tajam ke arah Sean. “Kau akan memilikinya. Tapi sebelum itu, bangunkan d

