Sean melempar berkas ke seorang pria yang berdiri dengan pandangan mata ke bawah. Ia mengumpat keras sambil melempar gelas ke lantai. Pria yang berada di hadapannya hanya diam seribu bahasa tanpa adanya perlawanan. Sean kemudian berjalan mendekat ke arah jendela-menatap birunya langit yang menghiasi bumi tempatnya berpijak. Ia tidak menyangka, bahwa orang yang mengandung dan membesarkannya berbuat keji seperti ini. “Kau selidiki lagi dia!” perintah Sean dengan nada lemah. Segala kepercayaan yang dibangun selama ini runtuh sudah. “Baik, Tuan.” Pria itu menunduk hormat lalu pergi meninggalkan Sean sendiran yang tengah tidak percaya atas kenyataan yang di hadapnnya. “Aku akan memberi kesempatan untukmu. Jika kesempatan itu kau lewati, aku tak segan untuk membunuhmu.” Sean juga ingin h

