Manik mata Zakia menatap tajam ke arah lelaki yang bersandar di ambang pintu. Bayangan tadi malam mulai menghantui benaknya. Tubuh putri tercinta Sandy itu gemetaran, iblis berwujud manusia kembali menampakkan batang hidung. Rupanya memang menggoda, tetapi wataknya sunguh mengerikan.
Tak lama kemudian Brian masuk, derap langkahnya terdengar berirama. Sepatu fantofel hitam miliknya berkilat, jelas sekali itu merek ternama dan selalu rutin dibersihkan. Ia menghampiri Zakia perlahan, dan mencengkeram lengan gadis itu.
"Apa kau tuli? Jawab!" sentak Brian bengis.
Lelaki bertuxedo abu-abu itu memang paling tidak suka, jika dirinya diacuhkan. Apalagi oleh seorang gadis belia, baginya itu suatu penghinaan besar. Beribu gadis di luar sana yang menginginkan dirinya, tetapi Macan Kecil ini berani mengabaikan pertanyaan yang dilontarkan. Ia akan memberi pelajaran bagi siapapun yang menentang sang cassanova.
Satu menit berlalu, tetapi Zakia tetap membisu. Tidak ada satu kata pun terlontar dari bibir ranumnya. Gadis ini terlalu meremehkan sang cassanova, jadi Brian akan menunjukkan taringnya sekarang. Tujuannya tentu agar Zakia tahu kalau nasib dirinya dan sang papa benar-benar tergantung dengan bagaimana ia memperlakukan Brian.
Brian membungkuk, ia mengusap pipi Zakia. "Macan Kecil, kenapa kau begitu sulit diatur?Cepat ganti pakaianmu!"
Seketika Rieka, pelayan senior dan Zakia terlonjak kaget. Bahana Brian menggelegar dan memenuhi ruangan. Putri kesayangan Pak Sandy itu meremas sprei yang menjadi alasnya duduk. Berusaha menutupi ketakutan yang luar biasa. Lelaki yang berada di hadapannya itu bagaikan seekor singa yang siap menerkamnya kapan saja.
Darah Zakia berdesir, dengan bibir bergetar gadis itu berkata, "Tidak mau! Aku hanya ingin pulang."
"Kau!" Brian menatap tajam Zakia dan menekan rahang gadis itu pelan, sehingga Zakia tidak merasakan sakit.
"Cepat antarkan aku pulang ke rumah. Aku tak ingin menghabiskan waktu lebih lama bersamamu, Iblis!" desis Zakia dengan sisa keberanian.
Brian menyeringai dan mendekatkan wajahnya. "Apa kau bilang? Pulang? Jadi kau lebih memilih untuk jadi anak durhaka. Bukankah kau tahu sendiri? Apa konsekuensinya, jika kau pergi dari rumahku?"
Zakia tertegun, lagi-lagi lelaki itu mampu memutar balikkan setiap apa yang ia katakan. Tampaknya Brian memang pandai bersilat lidah, pantas saja ia memiliki banyak aset. Mahasiswi tauladan itu memicingkan netra, baru kali ini dirinya bertemu dengan teman debat yang sulit untjk ditangani. Apa karena lelaki iblis ini lebih piawai darinya?
Kedua pelayan yang masih berada di sana salut akan keberanian Zakia. Setengahnya mereka juga merasa takut, jika sang majikan murka. Siapa pun di rumah itu tidak ada yang berani menentang perintah Brian. Jangankan memberontak, untuk membalas tatapan tajam itu saja nyali mereka menciut.
Padahal, jika mereka mengamati gesture tubuh gadis itu amat ketakutan. Bahunya bergetar dan d**a yang montok itu tampak bergerak naik turun, mengimbangi deru napasnya. Zakia berakting sealami mungkin agar lelaki itu tidak menganggapnya lemah.
Brian menoleh ke arah Rieka dan pelayan senior. "Kalian bisa pergi sekarang. Nona ini biar kuatasi sendiri."
Akan tetapi, kedua pelayan itu masih berdiri tegak di posisinya semula. Mungkin mereka sangat terkejut, sehingga tidak mendengar perintah sang majikan. Keduanya memandang lurus tanpa berkedip. Entah karena mereka takut atau takjub, seakan mereka tersihir.
Brian merasa jengah, ketika dua asisten itu menatap lekat dirinya. "Apa yang kalian lihat, hah? Keluar dari sini!"
Seakan tersengat listrik, keduanya tersentak bersamaan dan seketika itu pula membungkukkan badan. Mereka berlalu pergi, meninggalkan gadis malang tawanan sang cassanova.
Rieka menoleh ke belakang beberapa kali, rasanya tak tega membiarkan gadis itu sendirian. Namun, pelayan senior bernama Barbara itu menyikut lengannya, memberi kode agar tidak ikut campur urusan sang cassanova.
"Hey, menghadap ke depan dan lekas pergi dari sini, jika kau masih ingin menerima gajimu," bisik Barbara.
Asisten baru itu menelan salivanya sendiri, wajahnya mendadak pias. "Ba-baik, ma-maafkan aku."
Setelah memastikan tidak ada lagi pengganggu, Brian beranjak dari tempatnya. Sebelim itu, sang cassanova sempat mencuri pandang ke arah Zakia. Entah mengapa, perlawanan anak gadis Pak Sandy ini semakin membangkitkan gairahnya.
Lelaki beriris biru terang itu bergegas menuju daun pintu. Dengan sigap jemarinya yang kekar menutup dan memutar anak kunci. Ya, mereka berdua kini terkuci dalam satu ruangan. Hanya berdua saja!
"Tidak! Kenapa kau kunci pintunya?" tanya Zakia panik.
Kemungkinan terburuk bisa saja terjadi saat ini. Di ruangan berdimensi empat kali enam meter ini hanya di isi oleh mereka berdua. Apalagi dengan tubuh kekar lelaki iblis itu, Zakia bisa saja dilumat habis olehnya.
Brian membalik tubuhnya dan menyeringai. "Apa kau lupa? Aku bebas melakukan apapun di rumah ini."
"Tetap di situ! Jika kau berani mendekat, aku akan berteriak sekencang mungkin, sehingga seluruh tetanggamu mendengarnya," ancam Zakia.
Bukannya menjauh, lelaki itu semakin mendekat dan terkekeh. Ia meengkuh dan menarik tubuh Zakia, sehingga gadis itu terhuyung ke arahnya. Tatapan mereka terkunci sesaat. Brian dapat melihat dengan jelas pantulan siluetnya pada netra Zakia yang jernih.
"Berteriaklah sesukamu. Ruangan ini kedap suara, sampai pita suaramu hilang pun tidak akan ada yang mendengar jeritanmu."
Brian melepaskan rengkuhannya dengan kasar. Zakia kembali terjembab di atas kasur, gadis itu menitikan air mata. Kelakuan lelaki ini tidak manusiawi. Apa di balik figurnya yang rupawan dia seorang psikopat?
"Oh iya, apa kau tahu alasan ruangan ini dirancang kedap suara?" tanya Brian seraya naik ke atas kasur.
Lelaki itu menatap lekat Zakia, iris mata sebening baru aquamarine biru itu tampak dingin. Menyimpan beribu rahasia di balik keindahannya. Andai saja Zakia menyadarinya, di balik mata itu terbesit kesepian yang mendalam.
"A-aku tidak tahu dan tidak mau tahu!" Zakia bergerak mundur.
Brian meraih helain surai Zakia yang berhasil ia tangkap dan mengecupnya perlahan. "Tentu untuk meredam teriakan penuh nikmat kita saat b******a nanti."
Seketika Zakia merasa jijik, ucapan Brian bagaikan seonggok kotoran yang dilemparkan tepat di wajahnya. Namun, gadis itu tidak dapat berbuat apapun. Sampai kapan drama ini akan berakhir? Ingin rasanya ia memukul tengkuk lelaki itu dengan kuat dan berlari. Namun, bagaimana nasib papanya? Takdir Zakia bagaikan memakan buah simalakama.
"Apa kau menyukainya?" Brian mendekatkan wajah.
Zakia turun dari ranjang dan mendadak berdiri. Sementara Brian melepas kancing tuxedonya. Kini, lelaki itu hanya mengenakan kemeja putih polos yang melekat sempurna di tubuh atletisnya.
"Sudah siap? Mau kulepas atas kau yang melepas," goda Brian sambari melirik tubuh bagian bawahnya.
Tampak di sana, si junior tengah bangun dari tidur lelapnya. Agaknya hormon testoteron Brian meningkat lebih cepat. Hmm, bisa dibayangkan bagaimana jadinya jika celana yang dikenakan lelaki itu terlepas dari tempatnya.
"Menjijikan! Enyah dari hadapanku!" jerit Zakia sambari menangkup wajahnya.
Brian lagi-lagi terkekeh, ia begitu bahagia melihat ekspresi ketakutan Zakia. Salah sendiri gadis itu mengacuhkannya tadi, bagi sang cassanova mempermainkan tawanan itu menyenangkan. Membakar ardenalin dan hasratnya yang kian bergelora.
"Baiklah, aku akan berbaik hati hari ini. Kau ganti pakaianmu atau sekarang juga melayaniku?"
Jantung Zakia berdetak sangat kencang, hingga organ vital itu akan melompat dari posisinya. Ini pilihan yang sulit, lelaki iblis itu telah menjebaknya. Benar-benar picik! Dia tak ingin mengenakan apapun yang diberikan Brian, tetapi jika itu menjadi pilihan, dirinya harus dengan suka relawan menyerahkan tubuhnya. Tidak! Lebih baik Zakia terjun bebas dari lantai lima, daripada harus menyerahkan mahkota yang sangat berharga tersebut.
"Baik, aku akan memakai pakaian itu, tetapi dengan satu syarat," ucap Zakia.
Ini adalah kartu terakhir Zakia, kesempatan emas yang tidak akan ia lewatkan. Jangan sampai rencananya kali ini gagal dan berbalik kepadanya. Layaknya boomerang, mungkin ini aladan klise, tetapi putri kesayangan Pak Sandy yakin bahwa ini akan berhasil.
"Apa?" tanya Brian dengan tatapan menelisik.
Tentu saja lelaki itu penasaram dengan persyaratan yang akan tawanannya ajukan. Ya, walaupun dalam tanda kutip, baru kali ini seorang gadis menawar padanya.