11. Boneka Hidup

1221 Kata
Waktu terus bergulir, detik demi detik mengubah langit pekat menjadi kebiruan. Awan-awan yang berarak di cakrawala, seakan berbaris dan menatap Zakia. Gadis berparas ayu itu meregangkan tubuh, ia mulai membuka kelopak netranya perlahan. Rasa pening di bagian kepala masih tersisa, kantung matanya terlihat sembab dan kehitaman. Ya, semua itu adalah hasil yang ia dapat karena menangis semalam, meskipun tampak kuat, Zakia juga meringkuk ketakutan ketika Brian pergi. Gadis mana yang bisa menerima nasib seperti Zakia? Tiba-tiba, sang ayah ditangkap dan kini dirinya harus berurusan dengan lelaki berwatak iblis. Semalam, ia terus meratapi kesialan yang mau tak mau harus dijalani, hidup di bawah perintah sang cassanova. "Tuhan, mengapa ini semua terjadi? Beri hamba kekuatan agar bisa menjalaninya." Bulir bening menetes kembali dari sudut netra Zakia. "Papa, apa papa baik-baik saja di sana? Sudah makan belum? Menu makanan di dalam hotel prodeo apakah enak?" Zakia bermonolog tanpa ada jawaban. Batinnya terguncang, berapa kalipun ia mengingat, ketakutan itu semakin menyegrap hatinya. Zakia merindukan sosok sang ayah, seorang lelaki yang selalu memberinya motivasi. Tiba-tiba, terdengar suara ketukan pintu. Menyadarkan Zakia bahwa itu hanya khayalan semu, gadis itu beringsut dari tempat tidurnya. Perlahan-lahan Zakia membuka pintu, dua pelayan wanita tersenyum ramah ke arahnya. Tampak tiga buah benda yang serupa di belakang mereka. "Selamat pagi, Nona," sapa mereka serempak. Zakia mencoba untuk menarik kedua sudut bibirnya, membentuk lengkungan yang tampak kaku. "Pagi." "Permisi, Nona. Boleh kami masuk?" tanya pelayan bersurai ikal dengan sopan. "Ya," jawab Zakia sambari membuka pintu lebih lebar. Kedua pelayan itu mendorong rak display pakaian sebanyak tiga buah. Zakia mengernyitkan alis, merasa bingung dengan apa yang mereka lakukan. Salah satu di antara mereka menepikan rak. Tampak banyak model pakaian telah tergantung di sana. "Silakan, Nona." Kedua pelayan itu membungkuk bersamaan. Zakia mengerutkan kening. "Silakan? Untuk apa?" Putri Pak Sandy itu tak mengerti mengapa tiba-tiba kedua pelayan ini masuk dan membawa banyak barang. Kemudian mempersilakan dirinya, aneh bukan? Apalagi dirinya baru saja bangun tidur. Ya, meskipun ia hanya tidur beberapa jam saja. "Kami diperintahkan oleh Tuan Brian untuk membawanya kemari, agar Nona, bisa memilih pakaian mana yang akan Anda kenakan hari ini." Apa? Jadi semua pakaian yang tampak mewah itu untuk dirinya. Manik mata Zakia bergerak menatap kedua asisten itu satu per satu secara bergantian. Ia benar-benar tidak habis pikir, apa yang diinginkan oleh lelaki m***m yang mereka sebut Tuan itu. "Aku akan memakai pakaianku ini saja. Bawa saja kembali," tandas Zakia dengan tatapan tajam. "Tapi, Nona ... ini semua telah dipersiapkan untuk Anda. Kami tidak bisa membawa ini keluar lagi atau Tuan akan sangat marah," ucap pelayan berkacamata. Asisten rumah tangga yang masih tampak muda itu tertunduk. Ia meremas jemarinya dengan gelisah. Sementara yang lain menyenggol bahunya, seperti memberi kode agar mengangkat kepala. "Ya sudah, letakkan saja di situ." Zakia merasa iba melihat kedua pelayan itu. Mungkin mereka berdua melakukan semua perintah Brian demi upah, menyambung kehidupannya. Zakia yang baru saja bertemu dengan lelaki itu merasa tertekan. Apalagi mereka yang setiap hari bekerja di bawah naungan iblis. Kasihan juga, jika mereka harus menerima semburan api kemarahan Brian karena dirinya. "Terima kasih, Nona. Terima kasih," ujar pelayan berkacamata pada Zakia. Zakia menepuk bahu pelayan itu dengan lembut. "Siapa namamu?" "Rieka, Nona. A-ada apa? Ma-maafkan kelancangan sa-saya," tanya pelayan itu gelagapan. Rieka takut jika perkataannya tadi menyinggung Zakia. Sebagai pelayan baru, tentu saja ia merasa takut Zakia akan mengadukan sikapnya kepada sang majikan. Ia menelan salivanya sendiri sambari berusaha menenangkan tubuhnya yang gemetaran. "Tidak ada apa-apa, hanya saja wajahmu sekilas mirip seseorang," jawab Zakia asal. Sebenarnya tujuan Zakia bukanlah untuk mengintimidasi, melainkan agar ia bisa memanggil pelayan itu dengan nama saja. Rasanya aneh jika berbicara dengan seseorang tanpa mengetahui identitasnya, bukan. "Non, kami permisi dulu. Masih ada yang harus kami lakukan," cicit pelayan berambut ikal yang tampak lebih profesional. Zakia mengangguk. "Silakan." "To-tolong jangan tutup pintunya, Non. Ka-kami akan membawakan barang lain," pinta Rieka masih dengan nada ketakutan. Namun, Zakia bergeming dan kembali duduk di atas ranjang. Entah apa yang harus ia lakukan, gadis itu sudah tak memiliki semangat. Kini, seluruh kehidupannya di bawah kendali. Bagaikan seekor burung di sangkar emas. Selang lima menit, kedua pelayan itu kembali ke hadapan Zakia. Kali ini mereka membawakan sepatu dan tas dari merek terkenal. Barang-barang mewah itu tampak bersinar dan pastinya memikat siapa pun yang melihat. Apalagi model dan bahan yang berkualitas, tentu membuat pemakainya merasa nyaman. "Sudah, Non. Silakan Anda pilih, kami akan keluar. Namun, jika Anda membutuhkan bantuan kami, di belakang pintu terdapat telepon yang bisa Anda gunakan untuk memanggil kami," jelas pelayan berambut ikal yang belum dikenal Zakia. "Ya, terima kasih." "Hmm, Rieka, bisakah kau menemaniku di sini dulu," panggil Zakia ketika kedua pelayan itu membalikkan tubuh. Rieka berhenti dan menoleh ke arah rekan kerjanya. Ketika gadis bersurai ikal mengangguk, ia segera bergegas menuju ke arah Zakia lagi. Sementara itu, pelayan lainnya melenggang sambari sesekali melirik Rieka dan Zakia. "Mohon, maaf, Nona. A-apa yang bisa saya bantu?" tanya Rieka lirih. Zakia tersenyum dan menatap Rieka. "Kemarilah, jangan takut padaku." Asisten rumah tangga itu menghampiri Zakia masih dengan wajah yang tertunduk. Kentara sekali bahwa ia ketakutan dan sungkan dengan anak gadis Pak Sandy itu. Ia masih berpikir Zakia marah dan akan memberi hukuman padanya. "Iya, Non. Maafkan kelancangan saya tadi," ucap Rieka sekali lagi. "Bukan masalah besar. Tenanglah, aku tidak akan mengatakan apapun pada tuanmu." "Benarkah? Terima kasih, Non. Silakan Anda memilih pakaiannya, saya akan membantu Anda segenap hati." Seketika Rieka bersemangat. Asisten pelayan itu heran dengan gadis yang dibawa sang majikan. Pakaian yang dikenakan gadis itu hanya kaos longgar dan sebuah celana gemas—sebutan beken untuk hotpants. Pantas saja jika majikannya menyediakan semua gaun itu, betapa beruntungnya Zakia, mungkin itu kekasih sang majikan. Begitulah kira-kira dugaan Rieka, ketika pertama kali bertatap muka dengan gadis berparas elok itu.p Bukannya memilih pakaian yang akan ia kenakan, Zakia malah kembali duduk di ranjang. Pikiran negatifnya mulai berkelana, apa mungkin iblis itu sengaja melakukan ini karena mengangap dirinya matrealistis. Jika tujuannya untuk menyuap Zakia, tentu itu kesalahan yang sangat besar. Zakia memang dibesarkan dalam lingkungan serba ada, tetapi ia bukanlah gadis yang memandang segalanya melalui materi. Bahkan, sering kali ia berdebat dengan teman sejawatnya mengenai hal itu. Seketika Zakia teringat pada sahabatnya di kampus, batinnya meraung. Merindukan ulah usil mereka. "Bagaimana kabar mereka, ya? Pastinya lebih baik dari keadaanku," ucap Zakia miris. Rieka menoleh dan memiringkan sedikit kepalanya untuk melihat wajah Zakia yang tertunduk. "Kabar siapa, Non?" "Ah, bukan. Aku hanya-" Pelayan berambut ikal tiba-tiba menerobos masuk, ia membawa sepasang sepatu berwarna keperakan di tangannya. Benda itu tampak berkilau, hiasan empat batu swasorki di bagian samping menambah keeleganan alas kaki tersebut. "Mohon maaf, Nona. Saya menyelonong masuk, sepatu ini ketinggalan di kotak." Pelayan itu meletakkan sepasang alas kaki yang indah itu di rak, berbaur dengan yang lain. Seketika suasana hening, kalimat Zakia terputus begitu saja. Hampir saja dirinya teledor mengatakan sesuatu kepada asisten rumah tangga Brian. Walau, tampang mereka polos bisa saja mereka tidak bisa dipercaya. Karena bagaimana pun mereka digaji oleh Brian. Derap langkah menggema di koridor kediaman yang megah itu. Seketika Rieka merapatkan dirinya di samping pelayan senior. Kedua pelayan itu berbaris rapi bagaikan prajurit. Seakan seorang pangeran akan datang berkunjung. "Mengapa kau belum mengganti pakaian dekilmu?" tanya Brian yang kini berada di ambang pintu sambari melipat kedua tangan di d**a.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN