Berulang kali asisten Brian memanggil Zakia, tetapi gadis itu tenggelam dalam pemikirannya. Ditambah perutnya yang semakin terasa sakit, membuat putri Pak Sandy itu kehilangan fokus. Ia meremas perutnya dengan peluh yang bercucuran. Menikmati setiap gemuruh dalam organ pencernaan yang bermasalah.
Brian mengamati perubahan gesture tubuh Zakia, ia tahu gadis itu dalam keadaan tidak baik. Lelaki itu mendekat, menatap lekat Zakia. Ya, bibir gadis itu tampak lebih pucat dan kering dari sebelumnya. Sebagian kaos longgar yang dikenakannya basah oleh keringat dingin.
"Panggilan dokter keluarga! Tampaknya tamu kita kurang sehat," titah Brian pada asistennya.
Asisten itu membungkuk hormat. "Baik, Tuan."
Ekor mata Brian beralih ke Zakia, ia menoleh dan mendengkus. "Dan kau, cepat masuk kamarmu!"
"Tidak! Lebih baik aku di ruang tamu dari pada harus tidur bersebelahan dengan ruanganmu!" sentak Zakia tak kalah lantang.
Manik mata Brian berkilat merah, baru kali ini ada seorang gadis yang menolak untuk bersebelahan dengan ruangannya. Padahal di luar sana begitu banyak gadis yang ingin b******a dan menghabiskan malam dengaj sang cassanova, walaupun hanya cinta satu malam. Bagi para gadis liar itu adalah sebuah kebanggaan dan kehormatan tersendiri bisa melayani Brian.
"Katakan sekali lagi," ucap Brian.
"Aku tidak ingin tiduk di ruangan yang bersenelahan denganmu. Apa kau tuli?"
Suasana mendadak hening, di ruangan itu hanya tersisi Brian dan Zakia, lelaki berparas maskulin itu tiba-tiba menarik pergelangan tangan Zakia dengan kasar. Menggiring gadis bersurai panjang itu menaiki puluhan anak tangga.
"Hei, kaumau membawaku ke mana? Tunggu, jangan menarikku seperi hewan kurban!" pekik Zakia kesal.
"Aww!" Zakia memekik karena kakinya terantuk anak tangga.
Namun, Brian tidak menggubris gadis itu. Lelaki itu terus melangkah tanpa menghiraukan ocehan mangsanya. Sampai mereka tiba di depan sebuah ruangan, Brian menarik paksa Zakia ke dalam kamar yang memang telah disediakan khusus untuknya. Kemudian lelaki itu menutup pintu kamar dengan kasar. Tanpa belas kasih, ia mengempaskan tubuh langsing Zakia di atas ranjang. Mahasiswi teladan itu terpelanting dengan posisi terlentang, deru napasnya memburu. Mengimbangi gerakan d**a yang naik-turun karena mengatur napas.
"A-apa yang akan kaulakukan?" tanya Zakia yang meringsut ketakutan.
Gadis itu menarik selimut tebal bermotif bunga yang berada di samping kiri. Menutupi bagian bawah tubuhnya yang terekspos karena hanya mengenakan hotpants. Zakia menelan salivanya sendiri dan bergerak mundur, sampai kepalanya menyentuh kepala ranjang.
"Pergi dariku!" bentak Zakia dengan sisa-sisa keberanian.
Brian menaikkan satu kakinya ke atas ranjang dan membungkuk. "Apa kaumengusirku?"
Zakia memalingkan wajah, ia tak ingin memandang lelaki itu terlalu lama. Bukan karena ia terpikat oleh pesona Brian. Melainkan dirinya semakin merasa muak dan ingin mengumpat. Bagaimanapun Zakia menahan diri, semua ini demi kebaikan sang ayah. Ya, jika bukan karena Pak Sandy, pasti gadis itu lebih memilih untuk kabur.
"Jawab!" Brian mencengkeram pipi Zakia dengan kuat.
"Apa kau tidak pernah dididik untuk melihat lawan bicaramu ketika mengobrol, hah?"
Zakia menaikkan satu alisnya. "Pernah, tetapi etika itu tidak pantas untukmu, Tuan."
Penekanan kata Tuan yang diucapkan Zakia membakar emosi Brian. Lelaki itu merasa sangat terhina. Ia membuka selimut yang membungkus tubuh Zakia dengan satu kali hentakkan. Seketika itu juga kaki mulus nan jenjang Zakia terlihat, kali ini lebih jelas dan sangat menggoda.
"Kau!" Brian menarik napas dalam, ia memejam sesaat.
Aroma tubuh Zakia yang wangi, ditambah kulit yang tampak sangat halus itu membangkitkan libido Brian. Tubuh lelaki itu memanas, darahnya berdesir sampai ke ubun-ubun. Hasratnya bergelora, bergulung liar dalam fantasi dan alam bawah sadar. Ya, Brian sangat ingin mencicipi tubuh Zakia.
Brian membuka kelopak matanya perlahan, pemandangan yang sama masih terlihat. Tampaknya Zakia mulai merasa tertekan. Ia bahkan tidak berani mengambil kembali selimut gang dirampas Brian darinya. Lelaki itu menatap Zakia tajam, sekali lagi mengamati miliknya.
"Sempurna," desis Brian tanpa sadar.
Hormon telah mempengaruhi sang cassanova. Ia ingin segera merengkuh tubuh molek yang mungkin belum tersentuh itu. Manik mata birunya berbinar, ketika mendapati sesuatu yang menyembul dari balik kaos longgar Zakia. Tampak sangat kenyal dan ....
"Apa yang kaulihat?" Zakia sadar bahwa lelaki itu mengamati bagian bawah lehernya.
Dengan sigap Zakia melipat kedua tangannya di d**a, menutupi aset berharga miliknya. Gadis itu menatap tajam Brian, seakan ia macan betina yang sulit untuk dijinakkan. Sikapnya yang kritis menjadikan Zakia gadis yang tangguh, dirinya akan berusaha semaksimal mungkin untuk melindungi diri.
"Percuma kaututupi, itu akan menjadi milikku." Brian terkekeh dan mempertontonkan deretan giginya yang tampak putih dan rapi.
Zakia mengerutkan dahi dan berkata, "Iblis!"
Brian tertawa terbahak-bahak mendengar u*****n Zakia. Gadis itu semakin menarik, ia ingin sekali menyetubuhi Zakia saat itu juga. Menujukkan keperkasaan dan betapa piawai dirinya. Ya, Brian ingin membuat gadis itu bertekuk lutut di hadapannya, tapi dia tidak pernah melakukan hubungan b******a atas dasar paksaan.
"Macan Kecil, kau ini pemberontak. Ingat baik-baik, kau harus melayaniku dan mempersiapkan diri. Beruntung hari ini kondisimu tidak fit, jika tidak akan kubuat kaumeraung!" sentak Brian sambari memainkan jemari telunjuknya di bibir Zakia.
"Aku bukan pelacurmu!" Manik mata Zakia berkilat merah.
Perkataan Brian barusan begitu melecehkan dirinya. Apa yang ada di otak lelaki itu? Apa dia pikir semua gadis bisa dibeli dengan uang? Tidak, Zakia tidak akan membiarkan seorang iblis berwujud manusia ini menyentuh tubuhnya!
"Pikiran yang sangat kotor! Apa kaukira aku akan bertekuk lutut oleh perintahmu? Tidak, itu sangat picik!"
Brian menarik satu sudut bibirnya. "Terserah. Tapi, ingat satu hal, kehidupan Sandy ada di tanganku dan kau sebagai kuncinya. Menurut dan ayahmu yang b******k itu akan bebas, atau terus memberontak dan melihat lelaki itu membusuk di sel!"
Tidak, ini pilihan yang sangat sulit. Dapatkah ia mempercayai perkataan iblis itu? Bagaimana jika nanti dia ingkar dan tetap tidak menarik gugatannya? Bagaimana kehidupan Zakia tanpa sang ayah? Berbagai pertanyaan berjubel dalam benak mahasiswi semester akhir itu.
"Aku-"
Kalimat Zakia terhenti ketika seseorang mengetuk pintu. Brian beringsut dari posisinya dan membenahi pakaian yang tampak sedikit lusuh. Ia membuka pintu perlahan dan ternyata itu adalah sang asisten.
"Tuan, Mohon maaf. Dokter Sisca telah datang, beliau menunggu di bawah."
Brian menoleh ke belakang dan melihat wajah Zakia yang kian pias. "Ya, ajak beliau kemari. Jangan lupa bawakan minuman dan sedikit camilan untuk mereka."
Kepala Brian memberi kode pada asistennya, yang dimaksud mereka itu adalah Zakia dan Dokter Sisca. Pelayan itu paham dan mengangguk patuh, ia bergegas pergi meninggalkan sang majikan.
Selang lima menit, Dokter berparas manis memasuki ruang tidur Zakia. Wanita yang mungkin berusia tiga puluh tahunan itu tersenyum ramah. Tidak ada yang spesial dari dokter keluarga Brian. Masih sama memakai jas putih dengan paduan blouse, dan sebuah stetoskop yang di kalungkan. Sementara itu tangan kanannya membawa tas yang mungkin berisi obat dan beberapa alat medis lainnya. Wanita itu menjabat tangan Brian, tampaknya mereka sangat akrab.
"Hallo, Nona ...," sapa Dokter Sisca ramah.
Zakia tersentak dan menjawab sapaan itu dengan kikuk. "Ha-ha-hallo, Dok."
"Apa keluhan yang Anda rasakan, Nona? Pusing, mual atau yang lain mungkin," ujar sang dokter memulai diagnosisnya.
Putri Sandy itu menggeleng ringan. "Perut saya bermasalah, Dok. Tubuh saya merasa lemah, ini sudah kali ketiga saya ke toilet..
"Baiklah, saya akan mulai memeriksa. Bisa Anda naikkan sedikit kaosnya?"
Zakia menurut dan menyibak kaos yang ia kenakan, gadis itu tak sadar sepadang mata telah mengamati bagian perutnya yang mulus. Sementara itu Brian menahan napas, bagian bawah tubuhnya memberontak ingin keluar. Betapa tersiksanya junior.
Usai Dokter Sisca memberikan pengobatan, wanita itu undur diri. Ia sempat berpesan pada Brian agar Zakia meminum obat serta oralit secara rutin agar diarenya mereda. Kemudian Brian menghampiri tawanannya lagi. Ia membisikan sesuatu di telinga Zakia.
"Aku tidak sabar ingin menyentuhmu, jadi minum obatnya dan persiapkan dirimu."
Brian juga tidak ingin memaksa seorang gadis yang tengah sakit seperti itu. Setidaknya Brian masih memiliki rasa kemanusiaan dalam dirinya.
Zakia melempar guling ke arah Brian. "Persetan! Aku akan membuatmu menyesal sebelum itu terjadi!"